• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sebelum Membeli, Kenali 5 Golongan Obat Sesuai Kegunaannya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sebelum Membeli, Kenali 5 Golongan Obat Sesuai Kegunaannya

Sebelum Membeli, Kenali 5 Golongan Obat Sesuai Kegunaannya

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 14 Desember 2022

“Ada beberapa golongan obat berdasarkan kegunaannya dan syarat konsumsinya. Mulai dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras hingga obat tradisional.”

Sebelum Membeli, Kenali 5 Golongan Obat Sesuai KegunaannyaSebelum Membeli, Kenali 5 Golongan Obat Sesuai Kegunaannya

Halodoc, Jakarta – Agar penggunaan obat-obatan di masyarakat tidak disalahgunakan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) membuat aturan dan golongan obat. Penggolongan ini diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 917/Menkes/Per/X/1993 yang saat ini telah diperbaharui dengan Permenkes RI Nomor 949/Menkes/Per/IV/2000. Penggolongan atau regulasi obat tersebut sangatlah penting, karena tidak semua obat aman untuk dikonsumsi langsung oleh masyarakat. 

Perbedaan Golongan Obat Berdasarkan Kegunaannya

Nah, berikut adalah beberapa golongan obat berdasarkan kegunaannya: 

1. Obat bebas

Golongan obat bebas memiliki tanda lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi hitam. Obat ini merupakan obat yang dijual bebas di pasaran dan bisa didapatkan tanpa resep dokter. Di beberapa negara barat, obat ini biasanya disebut sebagai over the counter atau OTC. 

Namun, penggunaannya juga tidak boleh sembarangan. Sebab, obat memiliki kandungan kimia yang dapat berdampak pada kesehatan tubuh.  Ada beberapa contoh obat bebas, mulai dari vitamin, multivitamin, parasetamol dan antasida.

2. Obat bebas terbatas

Jenis obat ini masih dapat dibeli tanpa resep dokter, tapi kemasannya akan disertai dengan tanda peringatan. Nah, obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam. Khusus untuk obat bebas terbatas, selain simbol lingkaran biru, obat ini juga memiliki tanda peringatan untuk aturan pakainya. Sebab, penggunaannya hanya aman dengan takaran dan kemasan tertentu. Tanda peringatannya ditulis dengan huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari peringatan berbeda, yaitu: 

  • P.No.1: Awas! Obat keras. Baca aturan pemakaiannya.
  • P.No.2: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.
  • P.No.3: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
  • P.No.4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
  • P.No.5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
  • P.No.6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan.

Ada beberapa contoh obat bebas terbatas, seperti Theophylline, Tremenza, CTM dan Lactobion. 

3. Obat keras

Golongan obat keras hanya bisa didapatkan dan dikonsumsi dengan resep dokter. Golongan obat ini ditandai dengan lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam dan huruf “K” di tengah yang menyentuh garis tepi. Ada beberapa obat yang termasuk dalam golongan ini. Misalnya seperti antibiotik, obat-obatan yang mengandung hormon, hingga obat penenang. 

Contoh obat keras tersebut tidak bisa sembarang dikonsumsi. Sebab, penggunaan sembarangan dapat berbahaya, meracuni tubuh, memperparah penyakit, atau menyebabkan kematian. 

4. Obat golongan narkotika

Golongan obat ini adalah obat yang paling berbahaya dan ditandai dengan simbol tanda plus dengan lingkaran berwarna merah. Selain itu, obat ini hanya dapat diperoleh melalui resep dan tanda tangan dokter, disertai nomor izin praktik dokter yang meresepkannya. 

Penggunaannya juga tidak diizinkan jika hanya menggunakan salinan resep. Sebab, narkotika atau psikotropika dapat menyebabkan ketergantungan sehingga pemakaiannya perlu diawasi dengan ketat.  Di samping itu, obat narkotika dapat memengaruhi susunan saraf pusat dan memengaruhi perilaku serta aktivitas di titik tertentu. Contoh obat golongan narkotika adalah obat bius dan antinyeri atau analgetik potensi kuat. 

5. Obat golongan psikotropika

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat, yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Mengenal Obat Bahan Alami

Selain obat-obatan di atas, banyak masyarakat yang memanfaatkan obat tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Nomor : HK.00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, obat tradisional yang ada di Indonesia dapat dikategorikan menjadi:

  1. Obat fitofarmaka

Obat fitofarmaka merupakan obat berbahan alami yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah. Melalui uji praklinik (pada hewan percobaan) dan uji klinik (pada manusia), dan bahan baku dan produk jadinya yang sudah distandarisasi. Obat ini ditandai dengan tanda kristal salju berwarna hijau di lingkaran kuning dengan tepi warna hijau. Contoh obat fitofarmaka adalah obat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. 

  1. Obat herbal terstandar 

Hampir serupa dengan fitofarmaka, obat herbal terstandarisasi (OHT) merupakan obat berbahan alam, yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik (pada hewan percobaan), dan bahan bakunya telah distandarisasi. Contoh obat herbal terstandar adalah obat masuk angin. 

  1. Obat tradisional 

Obat tradisional ditandai dengan simbol atau logo tumbuhan (pohon berwarna hijau) dengan lingkaran hijau. Salah satu jenisnya adalah jamu, yaitu ramuan yang dibuat dari bahan tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut. Adapun itu, obat tradisional perlu memenuhi kriteria berikut: 

  • Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
  • Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris.
  • Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.
  • Jenis klaim penggunaan harus diawali dengan kata- kata: ”Secara tradisional digunakan untuk”. 

Itulah beberapa jenis golongan obat yang perlu diketahui. Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar obat atau memiliki keluhan medis, segeralah hubungi dokter. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa tanya dokter tepercaya untuk mendapatkan informasi medis yang dibutuhkan. Tentunya melalui fitur chat/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi: 

Pionas.pom.go.id. Diakses pada 2022. PEDOMAN UMUM. 
Badan POM. Diakses pada 2022. Materi Edukasi Tentang Peduli Obat dan Pangan Aman. 
Fakultas Farmasi UGM. Diakses pada 2022. Pentingnya Mengenal Kembali Jenis Obat Tradisional pada Masa Pandemik Covid-19. 
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2022. PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 919/MENKES/PER/X/1993 T E N T A N G KRITERIA OBAT YANG DAPAT DISERAHKAN TANPA RESEP. 
kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2022. Permenkes RI Nomor 949/Menkes/Per/IV/2000.