• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Seberapa Penting Imunisasi DPT Dilakukan?

Seberapa Penting Imunisasi DPT Dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Imunisasi DPT merupakan salah satu imunisasi wajib yang dicanangkan oleh pemerintah. Imunisasi DPT dapat menjadi langkah yang baik dalam tumbuh kembang optimal si buah hati menjadi pribadi yang sehat, kuat, serta cerdas. Untuk mendapatkan itu semua, tak hanya ASI yang wajib diberikan pada Si Kecil. Imunisasi DPT juga termasuk hal wajib yang diberikan pada Si Kecil.

Baca juga: Bukan Cuma Bayi, Orang Dewasa Butuh Imunisasi DPT

Seberapa Penting Imunisasi DPT Dilakukan? 

Imunisasi DPT sangat penting dilakukan pada Si Kecil guna mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus yang bisa saja muncul di kemudian hari. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit serius yang dapat menyebabkan kematian. Berikut ini penjelasannya:

  • Penyakit Difteri

Penyakit difteri merupakan penyakit yang menyebabkan gangguan selaput lendir hidung dan juga tenggorokan, yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Ketika penyakit ini menyerang anak, mereka akan memerlukan pengobatan segera. Pasalnya, infeksi bakteri sangat cepat menular melalui percikan air liur  atau barang-barang yang telah terkontaminasi.

Gejala akan muncul setelah 2-5 hari terinfeksi. Kondisi ini akan ditandai dengan demam, sakit tenggorokan, pilek, kesulitan bernapas, suara serak, detak jantung meningkat, mengi, pembengkakan kelenjar getah bening, serta pembengkakan langit-langit mulut.

  • Penyakit Pertusis

Penyakit ini dikenal dengan batuk rejan yang merupakan infeksi bakteri pada organ paru-paru dan saluran pernapasan. Kehilangan nyawa merupakan komplikasi paling parah yang dapat terjadi, ketika anak, balita, atau lansia belum menjalani vaksin pertusis.

Penyakit ini ditandai dengan gejala awal yang dapat berlangsung selama dua minggu. Gejala awal meliputi pilek, hidung tersumbat, bersin-bersin, mata berair, radang tenggorokan, batuk ringan, dan demam.

  • Penyakit Tetanus

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang bernama Clostridium tetani, yang banyak ditemukan pada tanah, debu, atau kotoran hewan. Ketika terinfeksi, sekujur tubuh akan terasa kaku, tegang, dan terasa menyakitkan. Kondisi ini bisa menyebabkan pengidapnya kehilangan nyawa secara cepat ketika gejala telah muncul.

Hal tersebut terjadi karena bakteri akan mengeluarkan racun dan menyerang saraf. Gejala akan muncul setelah 4-21 hari seseorang terinfeksi. Gejala meliput demam, pusing, berkeringat berlebihan, jantung berdebar, sulit menelan, sulit bernapas, tegang dan kaku pada otot leher, otot perut, serta otot rahang.

Baca juga: Vaksin DPT Cegah Difteri Bukan Cuma pada Anak-Anak

Kapan Waktu yang Tepat Memberikan Imunisasi DPT?

Imunisasi jenis ini diberikan sebanyak 5 kali, sejak anak berusia 2 bulan sampai 6 tahun. Berikut urutannya:

  1. Saat anak berusia 2 bulan.

  2. Saat anak berusia 3 bulan.

  3. Saat anak berusia 4 bulan.

  4. Saat anak berusia 18 bulan.

  5. Saat anak berusia 5 tahun.

Dokter akan memberikan satu kali suntikan setiap kali imunisasi. Setelah lengkap, biasanya dokter akan menganjurkan akan untuk melakukan imunisasi tetanus ulang setiap 10 tahun sekali guna memperkuat imunisasi yang sebelumnya sudah ada. 

Baca juga: Bagaimana Cara Atasi Demam setelah Imunisasi DPT?

Hal yang Perlu Diperhatikan

Ibu, sebaiknya perhatikan kondisi kesehatan Si Kecil sebelum melakukan imunisasi. Jika mereka tiba-tiba mengalami sakit saat jadwal tiba, segera temui dokter untuk mengubah jadwal yang sudah ada. Jangan berikan imunisasi lanjutan jika anak mengalami sejumlah hal berikut:

  • Mengalami reaksi alergi berat. Jika anak mengalami hal ini, segera temui dokter di rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat, karena nyawa anak yang menjadi taruhannya.
  • Mengalami gangguan pada sistem saraf atau otak dalam waktu 7 hari setelah imunisasi dilakukan.

Segera temui dokter jika Si Kecil mengalami demam di atas 40 derajat Celsius, tidak berhenti menangis selama 3 jam, bahkan mengalami pingsan setelah imunisasi dilakukan. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. DTaP and Tdap Vaccines.
Baby Center. Diakses pada 2019. The DTaP Vaccine.