• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Selain Rokok, Alkohol juga Tingkatkan Risiko Leukoplakia

Selain Rokok, Alkohol juga Tingkatkan Risiko Leukoplakia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Pernah menjumpai bercak putih atau abu-abu pada gusi, lidah, bagian dalam pipi, atau di dasar mulut? Bercak tersebut bisa jadi adalah leukoplakia, yang timbul akibat reaksi mulut terhadap iritasi. Salah satu pemicu timbulnya iritasi dan reaksi mulut ini adalah kebiasaan merokok.

Pada kebanyakan kasus, bercak leukoplakia tidak bersifat kanker. Namun, pada beberapa kasus yang jarang, bercak ini dapat menjadi tanda awal kanker mulut. Selain pada mulut, leukoplakia juga dapat terjadi pada organ intim wanita. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi kebanyakan terjadi pada orang dewasa. 

Baca juga: Kebiasaan Merokok Sebabkan Leukoplakia, Benarkah?

Alkohol Dapat Tingkatkan Risiko Leukoplakia

Hingga saat ini, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan leukoplakia. Namun, ada beberapa kebiasaan yang diduga kuat dapat memicu iritasi pada rongga mulut, yaitu kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol dalam jangka panjang. Selain dua hal itu, ada juga beberapa faktor lain, yang juga turut tingkatkan risiko, yaitu:

  • Gesekan antara lidah atau gusi dengan gigi yang tajam atau patah.
  • Gigi palsu yang tidak terpasang dengan baik.
  • Kondisi peradangan pada tubuh.
  • Paparan sinar matahari.
  • HIV/AIDS.

Sementara itu, pada leukoplakia berambut, kebanyakan penyebabnya adalah infeksi virus Epstein-Barr. Virus tersebut dapat selamanya bersemayam di dalam tubuh seseorang, setelah menginfeksi orang tersebut. Meski begitu, virus ini biasanya tidak aktif, kecuali pada seseorang dengan kondisi kekebalan tubuh yang lemah, seperti pada pengidap HIV/AIDS.

Baca juga: 5 Penyebab Terjadinya Leukoplakia yang Perlu Diketahui

Jangan Biarkan Leukoplakia Meningkatkan Risiko Kanker Mulut

Seperti telah dijelaskan di awal, leukoplakia ditandai dengan timbulnya bercak di dalam mulut. Bercak tersebut dapat berkembang secara perlahan, dalam beberapa minggu atau bulan. Ciri bercak yang ditimbulkan leukoplakia adalah berwarna putih keabuan, tebal, menonjol, serta terasa keras dan kasar jika diraba. Meski tidak menimbulkan nyeri, bercak leukoplakia sensitif pada panas, makanan pedas, atau sentuhan.

Jangan abaikan gejala leukoplakia, karena bisa menjadi tanda adanya kondisi serius pada tubuh. Jika kamu mengalami gejalanya, sebaiknya download aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, jika muncul gejala berikut:

  • Bercak putih atau luka pada mulut yang tak kunjung hilang setelah 2 minggu.
  • Kesulitan membuka rahang.
  • Benjolan atau bercak berwarna putih, merah, atau gelap di mulut.
  • Nyeri di telinga saat menelan.
  • Perubahan di jaringan mulut.

Umumnya, leukoplakia memang tidak menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan di mulut. Namun, penyakit ini dapat meningkatkan risiko kanker mulut, yang umumnya terbentuk dekat bercak leukoplakia. Bercak leukoplakia itu juga bisa menjadi tanda kanker mulut. Parahnya lagi, risiko kanker mulut tetap ada meski bercak sudah dihilangkan.

Baca juga: Jaga Kebersihan Mulut agar Terhindar dari Leukoplakia

Menghindari Sumber Iritasi adalah Kunci Pengobatan

Jenis pengobatan yang dapat dijalani pengidap leukoplakia akan tergantung pada apa yang menyebabkannya. Namun, menghindari sumber iritasi adalah kunci pengobatan. Misalnya, jika disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi alkohol atau merokok, pengidap leukoplakia harus menghentikan kebiasaan itu. Jika disebabkan oleh gesekan dari gigi yang tajam, perbaikan kondisi gigi mungkin akan diperlukan.

Pada kebanyakan kasus, leukoplakia tidaklah berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan, setelah penyebabnya diatasi. Kendati demikian, jika bercak leukoplakia tidak juga hilang, dokter mungkin akan menyarankan operasi pengangkatan bercak, dengan irisan pisau bedah, sinar laser, atau cryoprobe (pembekuan).

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Leukoplakia.
National Center for Advancing Translational Science. Genetic and rare Disease Information Center. Diakses pada 2020. Leukoplakia
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2020. Health Library. Oral Hairy Leukoplakia.
Healthline. Diakses pada 2020. Leukoplakia.
WebMD. Diakses pada 2020. Dental Health and Leukoplakia.