• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Seperti Apa Bentuk Cacar Jerman alias Rubella?

Seperti Apa Bentuk Cacar Jerman alias Rubella?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Campak jerman, atau yang lebih akrab disapa dengan rubella merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubella. Jika sudah terinfeksi, pengidap rubella akan mengalami sejumlah kondisi, seperti ruam merah berbentuk bintik-bintik. Penyakit ini lebih sering terjadi pada seseorang yang belum mendapatkan vaksin gondok, rubella, dan campak. 

Meskipun gejala yang muncul akan sangat mirip dengan cacar air, tetapi kedua penyakit tersebut jelas berbeda. Penyakit rubella sendiri tidak terlalu menular dan serius seperti cacar air. Meski tidak terlalu berbahaya, penyakit ini berisiko dialami oleh semua orang di segala usia. Parahnya, rubella dapat menyebabkan kecacatan pada janin atau kematian pada janin jika dialami oleh ibu hamil.

Baca juga: Kenali Gejala dan Penyebab Anak Terserang Virus Rubella

Seperti Apa Bentuk Cacar Jerman alias Rubella?

Cacar jerman atau rubella akan tampak pada mereka yang telah terinfeksi selama 2-3 minggu. Pada umumnya, cacar jerman akan berbentuk seperti ruam kulit atau bintik-bintik berwarna merah yang dapat menyebar ke seluruh tubuh dalam kurun waktu 2-3 hari. Tak hanya ruam kulit, gejala lain yang akan tampak, meliputi:

  • Demam ringan.

  • Sakit kepala.

  • Hidung tersumbat.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher dan belakang telinga.

  • Penurunan nafsu makan.

  • Konjungtivitis, yaitu peradangan pada selaput yang melapisi permukaan bola mata dan kelopak mata bagian dalam. Kondisi ini ditandai dengan mata yang memerah.

  • Pembengkakan pada sendi, khususnya pada wanita.

Meskipun gejala-gejala tersebut dapat hilang dalam beberapa hari, dalam kasus yang parah, gejala dapat lebih lama bertahan pada tubuh. Rubella memang bukan penyakit yang serius, tapi kehadiranya perlu mendapatkan penanganan dengan tepat, agar komplikasi parah tidak terjadi. Segera temui dokter di rumah sakit terdekat ketika menemukan gejalanya!

Baca juga: Awas, Ini yang Terjadi pada Si Kecil Ketika Terserang Rubella

Penyebab dan Faktor Risiko yang Mendasari

Virus rubella merupakan penyebab utama dari cacar jerman. Virus ini ditularkan melalui cairan hidung dan tenggorokan pengidap. Pada wanita hamil, penyebaran rubella pada janin dapat melalui aliran darah sang ibu. Penyebaran juga dapat terjadi karena beberapa faktor risiko, di antaranya pernah mengidap rubella dan seseorang yang tidak mendapatkan vaksin gondok, cacar air, dan campak

Komplikasi yang Bisa Saja Muncul

Meskipun tergolong infeksi ringan dan hanya menyerang satu kali seumur hidup, penyakit ini dapat memberikan dampak yang serius jika tidak ditangani dengan tepat, terutama pada ibu hamil. Ibu hamil yang terinfeksi saat kehamilan dapat mengalami keguguran atau memicu terjadinya sindrom rubella kongenital pada janin. Hal tersebut dapat terjadi ketika ibu hamil yang berusia 12 minggu terinfeksi virus rubella.

Sindrom rubella kongenital sendiri dinilai sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat lahir, seperti tuli, katarak, penyakit jantung bawaan, dan gangguan pertumbuhan. Adakah langkah pencegahan untuk hal ini?

Baca juga: Fakta yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Rubella

Ketahui Langkah Pencegahannya

Cegah jauh-jauh hari dengan melakukan imunisasi MMR atau MR. Imunisasi ini tak hanya berguna dalam mencegah penyakit cacar jerman, imunisasi MMR juga dapat mencegah datangnya penyakit campak dan gondongan. Lebih dari 90 persen penerima vaksin MMR akan kebal dari serangan penyakit rubella. 

Imunisasi MMR sendiri dianjurkan dilakukan pada balita usia 15 bulan dan anak-anak usia 5 tahun. Ketika waktu pemberian imunisasi terlewatkan, imunisasi ini dapat diberikan kapan saja. Pada wanita yang ingin merencanakan kehamilan, tes darah wajib dilakukan. Jika tes darah tidak menunjukkan kekebalan terhadap virus rubella, dokter akan melakukan vaksin. Vaksin tidak boleh diberikan bagi ibu hamil.

Referensi:
WHO. Diakses pada 2020. Rubella.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Rubella.