• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terus Bertambah, Ini Fakta 27 Kasus Positif Virus Corona di Indonesia

Terus Bertambah, Ini Fakta 27 Kasus Positif Virus Corona di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Jumlah pasien virus corona (korona) di Indonesia melonjak, dari 2 orang menjadi 27 orang. Kasus virus corona yang menyebabkan COVID-19 ibarat puncak gunung es. Para ahli mengatakan, bila COVID-19 tidak ditangani dengan tepat, perluasan penyebaran penyakitnya bisa menjadi bom waktu yang akan meledak tiba-tiba. 

Sebelum pada Senin (2/3) lalu, untuk pertama kalinya virus corona masuk ke wilayah Indonesia. Saat itu, pasiennya berjumlah 2 orang. Pada Jumat (6/3), pasiennya bertambah lagi menjadi 2, dan Minggu (8/3), muncul lagi 2 kasus baru. 

Keberadaan virus corona di Indonesia makin kentara pada Senin (9/3). Pemerintah mengumumkan 13 kasus baru. Pasien virus corona di Indonesia bertambah lagi 8 orang pada Selasa (10/3) petang. Dengan kata lain, hingga saat ini jumlah pasien COVID-19 di Indonesia menyentuh angka 27 kasus. 

Baca juga: 19 Pasien di Indonesia Positif Virus Corona, Ini Faktanya

Virus Corona Kasus 1 sampai 27

27 kasus corona di Indonesia terbagi menjadi dua klaster, yaitu klaster Jakarta dan klaster imported case (di dapat dari luar negeri). Berikut rangkuman singkat mengenai ke-27 pasien positif virus corona di Indonesia:

  • Kasus 1: Perempuan, 31 tahun. Tertular dari WN Jepang saat menghadiri acara di Jakarta. Acara itu diperkirakan dihadiri lebih dari 50 orang. Kasus ini disebut klaster Jakarta. 

  • Kasus 2: Ibu dari kasus 1, berusia 64 tahun. Tertular anaknya saat dirawat di RS rujukan di Depok, Jawa Barat. Klaster Jakarta. 

  • Kasus 3: Berusia 33 tahun. Pasien termasuk dari 80 orang yang berada di dalam satu acara dan kontak dengan kasus 1. Kasusnya masuk dalam klaster Jakarta. 

  • Kasus 4: Pasien berusia 34 tahun. Termasuk dari 80 orang yang berada di dalam satu acara dan kontak dengan kasus 1. Klaster Jakarta. 

  • Kasus 5: Pasien berusia 55 tahun. Klaster Jakarta.

  • Kasus 6: Laki-laki, berusia 36 tahun. Anak Buah Kapal (ABK) Diamond Princess Jepang yang dievakuasi bersama 68 WNI lainnya dari Yokohama, Jepang, imported case.

  • Kasus 7: Perempuan, berusia 59 tahun. Pasien merupakan imported case. Pasien baru kembali dari luar negeri dan menunjukkan gejala COVID-19 dan dinyatakan positif. Kondisi (9/3) sakit ringan-sedang, stabil.

  • Kasus 8: Berusia 56 tahun. Pasien adalah suami dari kasus 7 yang tertular darinya. Pasien menggunakan beberapa peralatan, infus, oksigen (9/3). Sebelum kontak dengan 7, pasien 8 sudah sakit, tetapi bukan karena COVID-19. Saat itu, ia mengalami diare dan memiliki riwayat penyakit diabetes. Kini, kondisinya sakit sedang mengarah ke berat.

  • Kasus 9: Perempuan, 55 tahun. Pasien COVID-19 ini merupakan imported case, memiliki riwayat ke luar negeri. Kondisi sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 10: Laki-laki, 29 tahun, statusnya WNA. Kasus ini bagian dari klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 1. Kondisi sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 11: Perempuan, 54 tahun, WNA. Bagian dari klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 1. Kondisinya sakit ringan-sedang (9/3)

  • Kasus 12: Laki laki, 31 tahun. Kasusnya masuk dalam klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 1. Kondisinya sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 13: Perempuan, 16 tahun. Kasusnya bagian dari hasil tracing subklaster kasus 3. 

  • Kasus 14: Laki-laki, 50 tahun. Kasusnya masuk ke dalam imported case. Kondisinya sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 15: Perempuan, 43 tahun. Pasien merupakan imported case.

  • Kasus 16: Perempuan, 17 tahun. Bagian dari hasil tracing subklaster kasus 5. 

  • Kasus 17: Laki-laki, 56 tahun, kasus imported case. 

  • Kasus 18: Laki-laki, 55 tahun, kasus imported case.

  • Kasus 19: Laki-laki, 40 tahun, kasus imported case.

  • Kasus 20: Perempuan, 70 tahun, bagian dari tracing subklaster Jakarta.

  • Kasus 21: Perempuan, 47 tahun, bagian dari tracing subklaster Jakarta. 

  • Kasus 22: Perempuan, 36 tahun, imported case. 

  • Kasus 23: Perempuan, 73 tahun, imported case. Kondisinya menggunakan ventilator karena faktor penyakit lain (10/3).

  • Kasus 24: Laki-laki, 46 tahun, imported case. 

  • Kasus 25: Perempuan, 53 tahun WNA, imported case, (meninggal dunia, pk 02.00 WIB 11/03). 

  • Kasus 26: Laki-laki, 46 tahun, WNA, imported case, kondisi stabil.

  • Kasus 27: Laki-laki 33 tahun, WNI, kondisi stabil. Diduga ini local transmission dan sedang di-tracking, karena bukan imported case dan sementara belum jelas.

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Dari total 27 pasien COVID-19 di Indonesia, didominasi oleh usia 50 tahun ke atas. Jauh sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan, virus corona lebih rentan menyerang lansia. 

Selain itu, menurut Achmad Yurianto selaku jubir pemerintah untuk kasus COVID-19, dari 8 kasus yang muncul pada Selasa (10/3), 2 kasus di antaranya merupakan warga negara asing (WNA). 

Dominasi Imported case

Pada Senin (9/3) klaster imported case berjumlah 7 pasien. Namun, satu hari kemudian kasusnya bertambah 5 pasien. Artinya, hampir setengah pasien virus corona di Indonesia masuk ke dalam klaster imported case. Berikut datanya: 

  • Kasus 6: Laki-laki, berusia 36 tahun. Anak Buah Kapal (ABK) Diamond Princess Jepang

  • Kasus 7: Perempuan 59 tahun

  • Kasus 9: Perempuan 55 tahun

  • Kasus 14: Laki-laki 50 tahun

  • Kasus 15: Perempuan 43 tahun

  • Kasus 17: Laki-laki 56 tahun

  • Kasus 18: Laki-laki 55 tahun

  • Kasus 19: Laki-laki 40 tahun

  • Kasus 22: Perempuan 36 tahun

  • Kasus 23: Perempuan 73 tahun

  • Kasus 24: Laki-laki 46 tahun

  • Kasus 25: Perempuan 53 tahun

  • Kasus 26: Laki-laki 46 tahun

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Kasus 27 Masih jadi Teka-Teki

Dari delapan kasus baru yang dijelaskan Achmad Yurianto, pemerintah menyatakan satu kasus masih misteri, alias belum diketahui asal penularannya. Pasien yang dimaksud merupakan laki-laki (33) atau kasus 27. 

"Kami menduga local transmission, karena belum diketahui dari mana asalnya sebab bukan imported case dan bukan bagian klaster lain," ujar Achmad Yurianto di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa (10/3).

Meskipun tim kesehatan dari pemerintah telah memeriksa kasus 27, tetapi sampai kini belum bisa dipastikan penularannya. Kasus 27 ini juga tidak memiliki riwayat bepergian ke luar negeri.

Pasien juga diduga belum terlalu memiliki kontak dengan dengan pasien positif COVID-19 sebelumnya. Namun, pemerintah sampai kini masih melakukan upaya tracking untuk menguak transmisinya. 

Kabar Baik: Negatif, Membaik, dan Sembuh

Di tengah-tengah meledaknya bom virus corona di Indonesia, ada kabar baik yang perlu diketahui. Pada Selasa (10/3), pemerintah mengatakan hasil tes dari dua pasien positif virus corona negatif di tahap pertama. Kedua pasien itu merupakan kasus 6 dan 14. 

Kasus nomor 6 adalah ABK Diamond Princess yang dirawat di RSUP Persahabatan. Pihak RSUP Persahabatan juga sudah memberikan edukasi kepada pasien untuk melakukan isolasi mandiri (self isolated).

Sedangkan kasus 14 merupakan klaster imported case. Yuri menjelaskan, tes negatif ini didapat karena kondisi pasien sangat baik.  

“Jadi, setelah negatif pertama kita tunggu dua hari ke depan kalau sudah negatif juga maka akan kita keluarkan dari rumah sakit,” ujarnya dalam Kemenkes - Sehat Negeriku! 

Lalu, bagaimana dengan kasus 1 yang muncul pertama kali di Indonesia? Jubir pemerintah tersebut mengatakan, kondisi klinis pasien nomor satu sudah jauh lebih baik, tetapi masih dinyatakan positif. 

Kabar baik tentang virus corona juga datang dari WNI di luar negeri. Kabar itu disampaikan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi pada Minggu (8/3). Menurutnya, dari 12 WNI di luar negeri yang terinfeksi, tujuh di antaranya sudah sembuh. Enam pasien yang sembuh berasal dari WNI di Jepang, dan satu lainnya di Singapura.

Bagaimana dengan angka kesembuhan COVID-19 secara global? Menurut pantauan Halodoc dari data real time - Johns Hopkins CSSE, lebih dari setengah pasien COVID-19 sudah dinyatakan sembuh. 

Hari ini, Kamis (11/3) pasien positif virus corona global sebanyak 119,004. Kabar baiknya, 65,761 pasien sudah sembuh dari ancaman virus misterius tersebut.

Ingat, meski virus corona memakan korban, peluang kesembuhan penyakit ini juga cukup besar, yaitu sekitar 55,2 persen. Bahkan, di beberapa negara angka kesembuhannya mencapai 100 persen. Contohnya di Vietnam, Kamboja, dan Nepal.

Yuk, pastikan sakitmu bukan karena virus corona. Andaikan kamu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. 

Kamu bisa bertanya langsung pada dokter lewat fitur Chat dan Voice/Video Call atau buat janji dengan dokter di rumah sakit rujukan COVID-19 yang dekat tempat tinggalmu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
CNN Indonesia. Diakses pada 2020. Menlu Sebut 7 dari 12 WNI Terinfeksi Virus Corona Sembuh.
Detik.com. Diakses pada 2020. 19 Pasien Positif Corona di Indonesia, 7 Kasus Tertular di Luar Negeri. 
Detik.com. Diakses pada 2020. Melonjak! Pasien Positif Corona di Wilayah RI Jadi 19 Orang. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. WNI Positif COVID-19 Bertambah 2 Orang, Total 6 Orang.
Kementerian Kesehatan RI. Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. Kasus Positif COVID-19 Bertambah jadi 27.
Kementerian Kesehatan RI. Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. Membaik, Pemeriksaan 2 Pasien Positif COVID-19 sudah Negatif.
Kumparan.com. Diakses pada 2020. Update Corona: Pola Penularan COVID-19 ke 19 Pasien di Indonesia. 
Kumparan.com - Breaking News. Diakses pada 2020. Kasus Positif Corona di RI Melonjak, Jadi 27 Pasien.
Kompas.com. Diakses pada 2020. Jumlah Bertambah, 19 Pasien di Indonesia Positif Virus Corona.
Tempo.co. Diakses pada 2020. 1 Kasus Corona Transmisi Lokal, Belum Diketahui Asal Penularannya.
SINDOnews.com. Diakses pada 2020. Kabar Gembira, Hasil Tes 2 Pasien Corona Ini Negatif.
The GISAID  Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Diakses pada Januari 2020. 2019-nCoV Global Cases (by Johns Hopkins CSSE).