• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Empathy Fatigue Bisa Terjadi di Masa Pandemi COVID-19
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Empathy Fatigue Bisa Terjadi di Masa Pandemi COVID-19

Waspada Empathy Fatigue Bisa Terjadi di Masa Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 06 Juli 2021
Waspada Empathy Fatigue Bisa Terjadi di Masa Pandemi COVID-19

“Pandemi COVID-19 yang masih terus berlangsung dapat memicu dampak negatif. Baik pada kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Sebaiknya waspada terhadap kondisi empathy fatigue yang rentan terjadi pada tenaga kesehatan atau orang-orang yang merawat seseorang yang sedang sakit di masa pandemi ini. Empathy fatigue yang tidak diatasi dengan baik nyatanya dapat memicu depresi pada pengidapnya.”

Halodoc, Jakarta – Angka COVID-19 masih terus menunjukkan peningkatan hingga saat ini. Kondisi ini nyatanya dapat menyebabkan kelelahan mental, loh. Kelelahan mental akibat COVID-19 yang terus menerus tidak diatasi nyatanya jarang disadari dapat menyebabkan dampak pada hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.

Baca juga: Waspada, 5 Tanda Kelelahan Mental

Terlalu banyak prioritas dan pikiran yang ada di dalam pikiran mengenai diri sendiri maupun orang lain terkadang membuat rasa empati terkuras habis. Sehingga kamu akan merasa lelah dengan kondisi tersebut. Tahukah kamu bahwa kondisi ini dikenal sebagai empathy fatigue? Yuk, kenali lebih banyak mengenai kondisi empathy fatigue dan dampaknya pada kehidupan!

Waspada Empathy Fatigue di Masa Pandemi

Empathy fatigue adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak mampu untuk peduli dengan orang lain. Hal ini merupakan dampak buruk dari kondisi traumatis atau pengalaman buruk yang terjadi secara berulang. Khususnya di masa pandemi COVID-19 ini yang dapat menyebabkan dampak negatif pada seseorang.

Kondisi ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan juga fisik. Ada beberapa gejala yang perlu kamu waspadai terkait empathy fatigue, seperti:

  1. Gejala Emosional

Seseorang yang memiliki kondisi empathy fatigue nyatanya dapat melakukan isolasi diri dari orang lain dan tidak peduli dengan kondisi orang lain. Selain itu, seseorang yang mengalami empathy fatigue akan merasa kelelahan, tidak memiliki tenaga untuk kembali membantu, tidak berdaya, hingga putus asa.

Hal lain yang akan dirasakan sebagai gejala empathy fatigue adalah emosi yang meledak, sedih, hingga depresi. Pengidap empathy fatigue juga akan lebih sering merasa gelisah, tidak dapat merespon secara tepat mengenai hal yang terjadi, dan sering menyalahkan diri sendiri.

  1. Gejala Fisik

Selain gejala emosional, empathy fatigue juga akan menyebabkan gejala pada fisik, seperti kesulitan untuk berkonsentrasi, sakit kepala, mual, kesulitan untuk tidur, perubahan nafsu makan, dan menghindari berbagai kondisi yang dapat mengingatkan pada keadaan yang traumatis.

Baca juga: Ketahui Quarantine Fatigue, Rasa Lelah Akibat di Rumah Saja

Inilah yang Rentan Mengalami Empathy Fatigue

Menurut seorang psikolog, Susan Albers, PsyD, empathy fatigue bisa terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan emosional dan fisik karena merawat orang dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Menurut Dr. Albers, kondisi ini bisa menyebabkan orang tersebut mengalami penurunan kepedulian dan semakin kesulitan untuk membangun rasa peduli. Dengan mengalami empathy fatigue, tubuh sedang memberikan tanda kepada diri sendiri bahwa kamu mengalami kondisi stres. Jadi, tidak ada salahnya untuk memberikan waktu dan perhatian kepada diri sendiri.

Lalu, siapa yang saat ini rentan mengalami empathy fatigue? Melansir Cleveland Clinic, ada beberapa kelompok yang sangat rentan mengalami kondisi empathy fatigue, seperti tenaga kesehatan, dokter, terapis, seseorang yang merawat orang sakit, dan juga jurnalis.

Tentunya, empathy fatigue saat ini sangat rentan terjadi pada tenaga kesehatan dan juga orang-orang yang merawat pasien COVID-19. Setiap hari mereka membantu pengidap COVID-19 untuk kembali pulih sehingga menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang dapat memicu empathy fatigue

“Setiap hari kamu bisa mendengar kabar dan berita buruk, sampai suatu saat kamu merasa berita dan kabar buruk bukan lagi suatu hal yang mengerikan sehingga kamu berpikir bahwa ini hanya kondisi buruk yang biasa,” ungkap Dr. Albers menjelaskan perasaan mengenai empathy fatigue. Hal ini bisa terjadi karena empati yang kita miliki sudah terkuras habis. 

Baca juga: Waspada, Kelelahan Otak Bisa Terjadi Akibat Pandemi Corona

Namun jangan khawatir kondisi ini bisa kamu atasi dengan baik. Segera gunakan Halodoc dan tanyakan langsung kondisi kesehatan mental pada dokter maupun psikolog jika kamu mengalami gejala yang berkaitan dengan empathy fatigue. Empathy fatigue yang tidak diatasi dengan baik dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi.

Referensi:

Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Empathy Fatigue: How Stress and Trauma Can Take a Toll on You.