Ad Placeholder Image

Waspada Hipotiroidisme, Gangguan Tiroid yang Bisa Berdampak Serius

7 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   05 Mei 2026

Hipotiroidisme adalah kondisi klinis yang ditandai dengan kurangnya produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid yang terletak di bagian depan leher.

Waspada Hipotiroidisme, Gangguan Tiroid yang Bisa Berdampak SeriusWaspada Hipotiroidisme, Gangguan Tiroid yang Bisa Berdampak Serius

Kelainan akibat kurangnya produksi hormon tiroid dalam tubuh memicu hipotiroidisme. Seringnya, penyakit ini ditemukan pada wanita berusia lanjut.

Di tahap awal, terkadang gejala yang muncul tidak spesifik, sehingga sering diabaikan karena dianggap normal seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Namun, dalam jangka panjang, gejala yang muncul semakin berat. 

Pada kondisi yang jarang terjadi, hipotiroidisme dapat menyerang bayi yang baru dilahirkan. Kelainan langka ini dikenal dengan hipotiroidisme kongenital.

Gejala yang muncul jika bayi yang baru lahir mengidap kelainan ini termasuk kulit yang berubah warna menjadi kuning, pembesaran pada lidah, hingga mengalami sesak napas. 

Apa Itu Hipotiroidisme?

Hipotiroidisme adalah kondisi klinis yang ditandai dengan kurangnya produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid yang terletak di bagian depan leher.

Hormon tiroid, yang terdiri dari tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3), memiliki peran krusial dalam mengatur kecepatan metabolisme sel-sel tubuh, suhu tubuh, serta denyut jantung.

Kondisi ini dalam istilah medis juga sering diklasifikasikan dengan kode ICD-10 E03.9. Kurangnya hormon tiroid mengakibatkan seluruh proses tubuh melambat, sehingga penderita sering merasa tidak bertenaga.

Hipotiroidisme dapat menyerang siapa saja, namun statistik menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada wanita lanjut usia.

Baca juga: Hati-Hati, Gejala Hipotiroidisme Ini Sering Diabaikan

Apa Saja Gejala Hipotiroidisme?

Gejala hipotiroidisme biasanya berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun dan sering kali tidak disadari pada tahap awal karena kemiripannya dengan kelelahan biasa.

Seiring melambatnya metabolisme, tanda-tanda fisik dan mental akan muncul lebih jelas dan menetap pada penderita.

Gejala yang paling umum meliputi rasa lelah yang ekstrem (fatigue) dan kelemahan otot secara menyeluruh.

Selain itu, penderita sering mengalami peningkatan berat badan tanpa adanya perubahan pola makan yang signifikan akibat melambatnya pembakaran energi oleh tubuh.

Berikut adalah beberapa gejala klinis lain yang sering dilaporkan:

  • Intoleransi terhadap dingin atau merasa kedinginan secara terus-menerus.
  • Kulit menjadi kering, kasar, dan terkadang tampak pucat.
  • Rambut rontok atau penipisan pada alis bagian luar.
  • Depresi, gangguan suasana hati, dan kesulitan dalam berkonsentrasi.
  • Konstipasi (sembelit) yang terjadi secara kronis.
  • Gangguan pada siklus menstruasi yang menjadi lebih berat atau tidak teratur pada wanita.
  • Denyut jantung yang melambat (bradikardia).

Waspada Komplikasi Hipotiroidisme

Ukuran yang terbilang kecil, tetapi hormon tiroid memiliki fungsi dan peran yang sangat krusial untuk mendukung pertumbuhan serta metabolisme tubuh.

Hormon tiroid memengaruhi berat badan, suhu tubuh, kesuburan, hingga kesehatan jantung. Nah, rendahnya kadar hormon ini ini tentu akan mengakibatkan terganggunya sejumlah sistem di dalam tubuh.  

Tanpa adanya pengobatan, hipotiroidisme menyebabkan komplikasi. Ini termasuk masalah pada jantung, cedera pada saraf, infertilitas, dan pada kasus yang parah, bisa menyebabkan kematian.

Waspada, ini komplikasi dari hipotiroidisme yang bisa berakibat fatal:

Masalah pada Kardiovaskular

Tingkat hormon tiroid memengaruhi kesehatan jantung, kamu bisa mengalami perlambatan denyut nadi dan detak jantung yang tidak normal serta melemah.

Studi berjudul Thyroid Disease and the Heart yang dilakukan oleh Irwin Klein dan Sara Danzi tahun 2007 lalu membuktikan, hipotiroidisme dapat menurunkan volume darah yang dipompa oleh jantung di setiap denyut sebesar 30 hingga 50 persen.

Rendahnya kadar tiroid triiodothyronine atau T3 juga dikaitkan dengan masalah gagal jantung

Komplikasi Ginjal

Hipotiroidisme serius dapat menurunkan fungsi ginjal, seringnya disebabkan karena penurunan aliran darah ke ginjal.

Akibatnya, akan terjadi penurunan kemampuan penyerapan air dan natrium, sehingga kadar natrium dalam darah menjadi sangat rendah.

Penggantian hormon tiroid disinyalir bisa mengatasi masalah ini. Namun, jika kadar hormon sangat rendah, pemulihan bisa memakan waktu lebih lama. 

Sponsored

Baca juga: Adakah Pencegahan Hipotiroid yang Dapat Dilakukan?

Infertilitas

Hipotiroidisme juga mengurangi tingkat kesuburan pada pria maupun wanita. Tidak heran, karena hormon tiroid bertugas untuk mengatur metabolisme hormon seks, yang mengontrol produksi sel sperma dan sel telur.

Pada pria, kadar hormon tiroid yang rendah dikaitkan dengan disfungsi ereksi, bentuk sperma yang abnormal, dan penurunan libido. Selain itu, pria dengan kondisi hipotiroidisme juga sering memiliki kadar testosteron yang rendah. 

Sementara pada wanita, hipotiroidisme menyebabkan terjadinya masalah menstruasi, dengan gejala umum berupa variasi siklus yang tidak teratur. Wanita dengan gangguan tiroid autoimun juga lebih cenderung mengalami masalah infertilitas.

Komplikasi Kehamilan

Kadar hormon tiroid yang tidak mencukupi atau berada pada kadar yang rendah selama kehamilan bisa memicu terjadinya berbagai masalah.

Beberapa di antaranya adalah peningkatan risiko keguguran atau komplikasi lainnya, seperti preeklampsia atau kelahiran prematur. 

Baca juga: Susah Turun Berat Badan, Mungkinkan Hipotiroid?

Bagaimana Cara Mengobati Hipotiroidisme?

Pengobatan hipotiroidisme bertujuan untuk mengembalikan kadar hormon tiroid ke tingkat normal guna menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Metode pengobatan utama adalah terapi penggantian hormon secara oral yang dilakukan setiap hari.

Penderita umumnya diberikan obat hormon tiroid sintetis yang disebut levotiroksin (levothroid, synthroid).

Obat ini bekerja dengan cara menggantikan hormon tiroksin yang seharusnya diproduksi secara alami oleh tubuh.

Dosis yang diberikan bersifat individual dan disesuaikan dengan kebutuhan metabolisme masing-masing penderita.

Pemantauan rutin sangat diperlukan dalam proses pengobatan ini:

  • Pemeriksaan kadar TSH ulang dilakukan setiap 5 hingga 6 minggu setelah memulai pengobatan.
  • Dosis obat akan disesuaikan oleh dokter berdasarkan hasil laboratorium hingga mencapai kadar normal.
  • Setelah dosis stabil, pemeriksaan rutin biasanya dilakukan sekali atau dua kali dalam setahun.
  • Pengobatan ini umumnya harus dijalani seumur hidup karena fungsi tiroid yang sudah rusak tidak dapat pulih kembali.

Pantangan Makanan Penderita Hipotiroidisme

Penderita hipotiroidisme disarankan untuk memperhatikan asupan makanan tertentu yang dapat mengganggu fungsi kelenjar tiroid atau penyerapan obat. Jenis makanan ini sering disebut sebagai makanan goitrogenik karena mengandung zat yang dapat memicu pembengkakan kelenjar tiroid.

Makanan goitrogenik seperti kubis, brokoli, kembang kol, ubi jalar, singkong, dan produk kedelai sebaiknya dibatasi jumlahnya. Namun, risiko gangguan tiroid dari makanan ini dapat diminimalisir jika sayuran tersebut dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi, karena proses pemanasan menonaktifkan zat goitrogen.

Selain itu, penderita disarankan untuk tidak mengonsumsi obat hormon tiroid bersamaan dengan makanan yang tinggi kalsium atau serat karena dapat menghambat penyerapan obat di usus.

Jeda waktu setidaknya 4 jam sangat direkomendasikan antara konsumsi obat dan asupan suplemen zat besi atau kalsium.

Sementara itu, apabila kamu sedang memulai pola makan sehat, optimalkan perjalanan sehatmu dengan program klinis yang diawasi langsung oleh dokter dan ahli gizi profesional.

Yuk, coba Halofit sekarang dan mulai langkah sehatmu hari ini!

Cari tahu info lebih lanjut mengenai Halofit dengan baca artikel berikut:

Komplikasi dan Langkah Pencegahan

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, hipotiroidisme dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan yang membahayakan nyawa.

Salah satu risiko utama adalah penyakit jantung, karena rendahnya kadar hormon tiroid menyebabkan peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan penurunan fungsi pompa jantung.

Komplikasi berat lainnya meliputi koma miksedema, yaitu kondisi darurat medis yang ditandai dengan penurunan kesadaran, suhu tubuh yang sangat rendah, dan kegagalan fungsi organ.

Masalah infertilitas (gangguan kesuburan) juga sering ditemukan pada penderita akibat gangguan siklus ovulasi.

Langkah pencegahan dini meliputi:

  • Mencukupi kebutuhan mineral yodium harian melalui konsumsi garam beryodium atau makanan laut.
  • Melakukan skrining rutin kadar TSH, terutama bagi wanita di atas usia 50 tahun atau yang memiliki riwayat penyakit tiroid dalam keluarga.
  • Segera melakukan pemeriksaan jika merasakan gejala kelelahan menetap atau muncul benjolan di area leher.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi medis segera diperlukan jika muncul gejala klinis seperti kelelahan yang tidak membaik dengan istirahat, kulit kering yang menetap, atau perubahan suasana hati tanpa sebab yang jelas.

Deteksi dini melalui tes fungsi tiroid sangat menentukan keberhasilan manajemen kondisi ini.

Penderita yang sudah didiagnosis juga wajib berkonsultasi secara berkala jika gejala kembali muncul atau jika terjadi perubahan berat badan yang signifikan saat sedang dalam masa terapi.

Hal ini penting untuk memastikan dosis levotiroksin tetap akurat dan tidak menyebabkan efek samping kelebihan hormon (hipertiroidisme fungsional).

Jika kamu memiliki kondisi hipotiroidisme dan sedang hamil atau sedang merencanakan kehamilan, beritahukan selalu informasi ini pada dokter. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Itulah informasi terkait hipotiroidisme. Jika kamu memiliki pertanyaan lain tentang kondisi ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.

Download aplikasinya sekarang juga!

Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2026. Complications of Hypothyroidism.
Klein, Irwin and Sara Danzi. 2007. Diakses pada 2026. Thyroid Disease and the Heart. AHA Journals Circulation Vol. 116, No. 15: p.1725-1735.
Alemu A., et al. 2016. Diakses pada 2026. Thyroid Hormone Dysfunction During Pregnancy: a Review. International Journal Reproductions Biomed 14(11): 677-686.