Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Hipertiroidisme

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Hipertiroidisme

Halodoc, Jakarta – Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kadar hormon tiroksin yang sangat tinggi. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid dan berperan dalam proses metabolisme tubuh. Maka itu, gangguan pada hormon tiroid menyebabkan gangguan metabolisme. Agar lebih waspada, ketahui faktor risiko hipertiroidisme di sini.

Baca Juga: Diidap Jet Li, Inilah 4 Fakta Hipertiroidisme 

Mengenal Gejala Hipertiroidisme

Tingginya kadar hormon tiroid dalam tubuh berpengaruh pada meningkatnya kecepatan metabolisme. Kondisi ini yang menimbulkan berbagai macam gejala pada tubuh manusia. Di antaranya adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, mudah marah, sulit tidur, keringat berlebihan, libido menurun, otot terasa lemas, diare, siklus menstruasi tidak teratur, mudah haus, kelelahan, hingga kemandulan.

Pada kasus yang lebih parah, hipertiroidisme ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid, denyut jantung tidak beraturan (palpitasi), kulit lembap, kedutan otot, tremor, ruam kemerahan, rambut rontok, telapak tangan berwarna kemerahan, dan struktur kuku melonggar. Gejala biasanya semakin parah jika kadar tiroksin dalam darah meningkat. 

Kamu dianjurkan segera ke dokter jika mengalami pusing, napas pendek, detak jantung cepat, hingga kehilangan kesadaran. Tanpa penanganan yang tepat, hipertiroidisme menimbulkan komplikasi serius, di antaranya adalah oftalmopati graves, preeklamsia, keguguran, hipotiroidisme, badai tiroid, gangguan jantung, dan osteoporosis.

Baca Juga: Kenali Penyakit Hipertiroid dan Efek Sampingnya Bagi Tubuh

Penyebab dan Faktor Risiko Hipertiroidisme

Kelenjar tiroid memproduksi hormon triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4). Setiap hormon diproduksi dalam jumlah tepat, berfungsi untuk mengatur sel dan cara kerja tubuh. Namun pada kasus hipertiroidisme, kedua hormon tersebut (khususnya tiroksin) diproduksi secara berlebih. Pemicunya beragam, di antaranya adalah:

  • Penyakit graves. Sebagian besar kasus hipertiroidisme disebabkan penyakit graves, salah satu jenis gangguan autoimun. Biasanya, penyakit graves dialami oleh orang berusia 20-40 tahun.

  • Tiroiditis, yaitu peradangan pada kelenjar tiroid yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau gangguan autoimun. Kerusakan ini menyebabkan kebocoran hormon tiroksin, sehingga produksinya menjadi berlebihan.

  • Nodul tiroid, merupakan gumpalan yang terbentuk di dalam kelenjar tiroid tanpa sebab yang jelas. Gumpalan ini berdampak pada peningkatan produksi tiroksin yang berujung pada hipertiroidisme. Kondisi ini rentan dialami orang berusia 60 tahun.

  • Kanker tiroid, termasuk jenis kanker yang tergolong langka. Jika sel yang tumbuh ganas menghasilkan banyak hormon tiroid, pengidap kanker tiroid berisiko tinggi mengalami hipertiroidisme. Kanker tiroid rentan dialami orang berusia 30 tahun lebih. Tumor adenoma pada kelenjar hipofisis memicu produksi hormon tiroksin berlebih di dalam tubuh.

  • Kehamilan. Tingginya kadar hormon HCG saat hamil memicu terjadinya hipertiroidisme, khususnya pada kehamilan kembar dan hamil anggur.

  • Efek samping konsumsi obat, seperti suplemen iodine atau obat yang mengandung zat tersebut (salah satunya amiodarone).

Faktor risiko hipertiroidisme lainnya adalah penyakit diabetes tipe 1 dan Addison. Perokok aktif yang mengidap penyakit Graves juga berisiko mengalami hipertiroidisme.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Bahaya Hipertiroidisme yang Perlu Diketahui

Itulah faktor yang meningkatkan risiko hipertiroidisme. Kalau kamu punya keluhan mirip gejala hipertiroidisme, jangan ragu berbicara dengan dokter ahli. Tanpa harus antre, sekarang kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan di sini. Kamu juga bisa tanya jawab sama dokter dengan download aplikasi Halodoc via fitur Tanya Dokter.