• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Sering Buang Air Kecil saat Diet

Waspada Sering Buang Air Kecil saat Diet

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Diet atau menurunkan berat badan bisa menjadi usaha yang menantang. Pola makan sehat, istirahat yang cukup, serta olahraga secara teratur adalah langkah yang dilakukan untuk menghilangkan lemak yang tidak diinginkan. Selain itu, aspek penting dari diet adalah hidrasi dan buang air kecil. 

Saat diet dilakukan, fungsi tubuh pun akan terhidrasi dengan baik. Karenanya, merupakan hal yang wajar jika diet diiringi dengan buang air kecil yang sering. Mengonsumsi makanan sehat saat diet pun dapat memengaruhinya. Dengan kata lain diet memang berkaitan erat dengan intensitas buang air kecil yang menjadi lebih sering dari biasanya.

Baca juga: Menu Diet Sehat Bebas Kalori

Fungsi Hati pada Metabolisme Selama Diet

Peningkatan buang air kecil merupakan efek samping dari penurunan berat badan dengan melakukan diet sehat. Karena menurunkan berat badan mengharuskan kamu makan lebih sedikit kalori daripada yang dibakar tubuh. Cara ini lebih efektif meningkatkan kemampuan tubuh membakar kalori atau bermetabolisme. 

Berolahraga secara teratur juga dapat membakar lebih banyak kalori. Hal tersebut juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh saat tubuh mengganti lemak dengan otot tanpa lemak. Dengan meningkatnya metabolisme tubuh, maka akan menghasilkan jumlah limbah yang meningkat pula dalam bentuk air. Limbah ini memiliki efek meningkatnya jumlah urine yang dikeluarkan saat diet. 

Hasil lain dari peningkatan buang air kecil selama diet yaitu pada fungsi hati. Pasalnya, semua yang kamu masukkan ke dalam tubuh disaring melalui hati. Fungsi hati dan penurunan berat badan juga saling berhubungan. Hati bertanggung jawab untuk memproses makanan dan cairan. Saat kamu makan berlebih, hati akan menyimpan kalori berlebih dalam bentuk glikogen.

Selama diet, kalori yang dikonsumsi akan lebih sedikit dan tubuh akan menggantinya dengan mengandalkan glikogen yang tersimpan. Produk samping metabolisme glikogen adalah peningkatan produksi dan buang air kecil.  

Baca juga: Kunci Menjalani Diet Sehat yang Perlu Diketahui

Agar Tidak Sering Buang Air Kecil Saat Diet

Salah satu penyebab sering buang air kecil lebih sering adalah kafein. Dengan mengurangi asupan kafein hingga di bawah 100 miligram per hari (setara dengan satu cangkir kopi) dapat membantu mengurangi gejala inkontinensia. Selain itu, kurangi juga minuman berikut ini:

  • Minuman berkafein seperti kopi, soda, minuman berenergi, dan teh.
  • Jus buah asam, terutama jeruk, jeruk bali, dan tomat.
  • Minuman beralkohol.
  • Minuman dengan pemanis buatan

Jika kamu tidak bisa memulai hari tanpa minum kopi di pagi hari, cobalah untuk menurunkan jumlah kafein yang dikonsumsi. Buat setengah cangkir kopi, lalu campurkan dengan susu atau latte. Sedangkan untuk jus buah, cobalah untuk beralih ke buah yang tidak asam.

Jika kamu merasa bahwa salah satu dari makanan diet berpotensi menjadi masalah sering buang air kecil semakin buruk, sebaiknya hindari juga untuk mencegah. Makanan tersebut di antaranya:

  • Makanan yang sangat berbumbu. Cabai atau wasabi dapat menimbulkan masalah di kandung kemih. Kurangi bumbu sedikit demi sedikit agar gejala membaik.
  • Cokelat. Perlu diketahui bahwa ada kafein dalam cokelat yang dapat memperburuk masalah pada kandung kemih. 
  • Makanan asin. Keripik kentang, kacang asin, dan makanan asin lainnya dapat menyebabkan tubuh menahan air yang akhirnya menuju kandung kemih. Makanan ini dapat membuat kamu haus sehingga kamu akan cenderung . minum lebih banyak.

Baca juga: 6 Cara Mudah Menurunkan Berat Badan Selain Diet dan Olahraga

Jika masalah terlalu sering buang air kecil kamu belum juga pulih selama diet, cobalah untuk bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk penanganan terbaik. Kamu bisa bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc kapan dan di mana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. How to Create a Diet for Your Overactive Bladder.
WebMD. Diakses pada 2020. Food and Drink to Tame an Overactive Bladder.