BAB Bercampur Darah Bisa Jadi Tanda Kolitis Ulseratif

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
BAB Bercampur Darah Bisa Jadi Tanda Kolitis Ulseratif

Halodoc, Jakarta – Kolitis ulseratif adalah penyakit yang menyerang usus besar yang menyebabkan iritasi dan pembengkakan yang disebut peradangan. Kondisi ini bisa mengarah ke luka biasa disebut borok di lapisan sana.

Kolitis ulseratif adalah jenis penyakit radang usus, namun berbeda dari penyakit lain dengan gejala yang sama, seperti penyakit Crohn atau sindrom iritasi usus. Gejala utama kolitis ulseratif adalah BAB, diare berdarah, dan bahkan ada nanah di feses. Selain itu, gejala lainnya juga termasuk:

  1. Nyeri perut kram

  2. Tiba-tiba mendesak untuk mengosongkan usus besar segera

  3. Tidak merasa lapar

  4. Penurunan berat badan

  5. Merasa lelah

  6. Demam

  7. Dehidrasi

  8. Nyeri atau nyeri sendi

  9. Nyeri mata saat melihat cahaya yang terang

  10. Terlalu sedikit sel darah merah yang disebut anemia

  11. Luka pada kulit

Gejala bisa datang dan pergi yang terkadang tidak mengganggu pengidapnya selama berminggu-minggu atau bertahun-tahun. Begitupun penyakit usus lainnya dapat memiliki beberapa gejala yang sama. Penyakit Crohn menyebabkan peradangan juga, namun itu terjadi di tempat lain di saluran pencernaan.

Baca juga: 3 Penyebab BAB Berdarah

Kolitis ulseratif hanya memengaruhi usus besar dan lapisan dalam. Irritable bowel syndrome memiliki beberapa gejala yang sama dengan kolitis ulseratif, namun tidak menyebabkan peradangan atau bisul melainkan pada otot.

Untuk membedakannya, dokter akan menggunakan tes spesifik untuk mengetahui apakah kamu mengidap kolitis ulseratif dan bukan penyakit usus lainnya. Tes darah dapat menunjukkan apakah kamu mengidap anemia atau peradangan.

Tes sampel tinja juga dapat membantu dokter menyingkirkan infeksi atau parasit di usus besar. Sigmoidoskopi fleksibel memungkinkan dokter melihat bagian bawah usus besar. Dokter akan menempatkan tabung yang bisa ditekuk ke dalam usus bagian bawah melalui bagian bawah pengidapnya.

Tabung tersebut memiliki cahaya kecil dan kamera di ujungnya. Dokter mungkin juga menggunakan alat kecil untuk mengambil selembar lapisan usus bagian bawah. Ini disebut biopsi. Seorang spesialis akan melihat sampel di bawah mikroskop.

Baca juga: Ibu Hamil BAB Berdarah, Bahaya atau Tidak?

Kolonoskopi adalah proses yang sama dengan sigmoidoskopi fleksibel, namun hanya dokter yang akan memeriksa seluruh usus besar, bukan hanya bagian bawahnya. Dokter mungkin menyemprotkan pewarna biru di dalam usus besar selama kolonoskopi. Ini disebut kromoendoskopi, dan memungkinkannya melihat bagian mana yang dipengaruhi oleh kolitis ulseratif.

Sinar-X kurang umum untuk mendiagnosis penyakit, namun dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan sinar-X untuk mengidentifikasi lebih lanjut. Mengenai pengobatan dan perawatan kolitis ulseratif memiliki dua tujuan, yaitu meredakan gejala dan memberi kesempatan pada usus besar untuk sembuh dan mencegah lebih banyak infeksi.

Pengidapnya butuh menerapkan diet supaya memperburuk gejala, seperti mengonsumsi makanan lunak dan mengurangi hidangan pedas, kemudian meningkatkan konsumsi serat tinggi. Jika kamu tidak dapat mencerna gula dalam susu yang disebut laktosa, dokter dapat memintamu untuk menghindari produk susu.

Untuk memastikan kamu mendapatkan cukup vitamin dan nutrisi dari makanan dan camilan, dokter mungkin merekomendasikan rencana makan tinggi protein dan kalori yang rendah serat.

Baca juga: Perlu Tahu, 3 Jenis dan Penanganan Radang Usus

Dokter mungkin meresepkan beberapa jenis obat, termasuk antibiotik untuk melawan infeksi dan membiarkan usus besar sembuh. Obat untuk menurunkan peradangan di usus besar dan mengendalikan gejala. Operasi adalah opsi terakhir ketika perawatan lain tidak berhasil, sehingga perlu pembedahan untuk mengangkat usus besar (colectomy).

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai kolitis ulseratif, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.