Bagaimanakah Cara Mencegah Kernikterus?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Bagaimanakah Cara Mencegah Kernikterus?

Halodoc, Jakarta – Kernikterus adalah jenis kerusakan otak yang paling sering terlihat pada bayi yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin yang ekstrem di otak. Bilirubin adalah produk limbah yang diproduksi ketika hati memecah sel darah merah lama sehingga tubuh dapat menghilangkannya.

Wajar jika bayi baru lahir memiliki kadar bilirubin yang tinggi yang dikenal sebagai penyakit kuning. Ini dikarenakan tubuh bayi tidak dapat mengeluarkan bilirubin sebagaimana mestinya.  Kernikterus adalah darurat medis. Bayi dengan kondisi ini perlu segera dirawat untuk menurunkan kadar bilirubin mereka dan mencegah kerusakan otak lebih lanjut. Selengkapnya ada di sini!

Penyebab Kernikterus

Kernikterus disebabkan oleh penyakit kuning parah yang tidak diobati. Penyakit kuning adalah masalah umum pada bayi baru lahir. Itu terjadi karena hati bayi yang baru lahir tidak dapat memproses bilirubin dengan cukup cepat. Sebagai hasilnya, bilirubin menumpuk dalam aliran darah bayi.

Baca juga: Kernikterus pada Bayi Bisa Sebabkan Cerebral Palsy

Ada dua jenis bilirubin dalam tubuh:

  1. Bilirubin tak terkonjugasi: bilirubin jenis ini bergerak dari aliran darah ke hati. Ini tidak larut dalam air, artinya tidak larut dalam air, sehingga dapat menumpuk di jaringan tubuh.

  2. Bilirubin terkonjugasi: Ini dikonversi dari bilirubin yang tidak terkonjugasi di hati. Bilirubin terkonjugasi larut dalam air, sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui usus.

Jika bilirubin tak terkonjugasi ataupun tidak dikonversi dalam hati, ini dapat menumpuk di tubuh bayi. Ketika tingkat bilirubin menjadi sangat tinggi, ia bisa keluar dari darah dan masuk ke jaringan otak. 

Bilirubin yang tidak terkonjugasi dapat menyebabkan kernikterus jika terus menumpuk bisa juga menyeberang dari darah ke otak, sehingga mengakibatkan komplikasi yang parah. Mengetahui risiko-risikonya dapat membuat orang tua melakukan upaya pencegahan supaya kondisi ini tidak terjadi. 

Bayi lebih mungkin terkena penyakit kuning parah dan kernikterus jika:

  1. Dilahirkan prematur. Ketika bayi lahir sebelum 37 minggu, hatinya bahkan kurang berkembang dan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk secara efektif menghilangkan bilirubin.

  2. Bilirubin dibuang dalam tinja. Pemberian makan yang buruk dapat membuat pencernaan bayi terganggu, sehingga BAB-nya tidak lancar.

  3. Punya riwayat keluarga yang memiliki penyakit kuning sejak bayi. Kondisi ini bisa berjalan dalam keluarga. Ini mungkin terkait dengan kelainan bawaan tertentu, seperti defisiensi G6PD, yang menyebabkan sel darah merah terurai terlalu dini.

  4. Dilahirkan dari seorang ibu dengan tipe darah O atau tipe Rh-negatif. Ibu dengan golongan darah ini terkadang melahirkan bayi yang memiliki kadar bilirubin tinggi.

Selengkapnya mengenai kernikterus bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orang tua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orang tua bisa kapan dan di mana saja memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Tanda-tanda penyakit kuning dapat muncul dalam beberapa hari pertama kehidupan bayi yang baru lahir. Penyakit kuning menyebabkan kulit bayi dan putih mata berubah warna kekuningan. 

Baca juga: Ini Akibatnya Jika Kadar Bilirubin Bayi Tinggi

Bayi dengan kernikterus jauh lebih lesu. Mereka bisa jadi sangat mengantuk. Semua bayi banyak tidur, tetapi bayi lesu, bahkan lebih sering tidur daripada biasanya dan sangat sulit untuk bangun. Ketika mereka bangun, mereka sering jatuh kembali tidur.

Gejala lain dari kernikterus meliputi:

  1. Tangisan bernada tinggi.

2, Nafsu makan berkurang dan kurang makan dari biasanya.

  1. Tangisan tak tertahankan.

  2. Tubuh lemas.

  3. Refleks yang hilang.

  4. Melengkungkan kepala dan tumit ke belakang, seperti busur.

  5. Melakukan gerakan tak terkendali.

  6. Muntah.

  7. Gerakan mata yang tidak biasa.

  8. Intensitas BAB yang kurang.

  9. Demam.

  10. Kejang.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. What is Kernicterus
National Institutes of Health. Diakses pada 2019. Prevention of Kernicterus