Ini Akibatnya Jika Kadar Bilirubin Bayi Tinggi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ini Akibatnya Jika Kadar Bilirubin Bayi Tinggi

Halodoc, Jakarta - Pasti kamu pernah mendengar apabila seorang bayi yang lahir dengan penyakit kuning. Hal tersebut disebabkan kadar bilirubin pada bayi yang tinggi. Bilirubin adalah pigmen kuning dalam darah dan tinja yang diproduksi tubuh ketika sel darah merah hancur secara alami.

Gangguan bilirubin pada bayi disebabkan organ hati yang mengalami kelainan. Ketika kandungan bilirubin terlalu tinggi, otak bayi mungkin saja mengalami kelainan yang disebut dengan kernikterus. Hal ini dapat menyebabkan gangguan yang parah ketika terjadi. Berikut akibat bilirubin bayi tinggi terhadap kernikterus!

Baca juga: Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi, Berbahaya atau Normal?

Kadar Bilirubin Bayi Tinggi Sebabkan Kernikterus

Kernikterus adalah salah satu kerusakan pada otak yang berisiko terjadi pada bayi. Gangguan ini disebabkan oleh penumpukan bilirubin yang tinggi pada otak. Bilirubin sendiri adalah produk limbah yang diproduksi oleh hati untuk memecah sel darah merah yang telah kadaluarsa.

Saat bilirubin terlalu tinggi, ciri-cirinya adalah bayi lahir dengan penyakit kuning. Ketika bilirubin terlalu banyak dan tidak segera diatasi, serta telah terlalu banyak menumpuk di otak, gangguan kernikterus dapat terjadi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan kerusakan otak.

Tanda dan Gejala dari Kernikterus

Pada beberapa kasus, gejala dari gangguan kernikterus dapat muncul dua hingga lima hari setelah kelahiran. Setelah itu, bayi yang mengalami bilirubin tinggi secara tidak normal dalam darah akan mengalami kulit kuning terus-menerus, selaput lendir, serta mata berwarna putih.

Kadar bilirubin tinggi pada bayi tersebut dapat terakumulasi di otak, sehingga berpotensi untuk menyebabkan komplikasi yang mungkin saja mengancam nyawa. Kernikterus yang terjadi dapat menyebabkan gejala, seperti selalu merasa lesu, kebiasaan makan yang buruk, serta demam.

Gejala lainnya yang dapat timbul jika bayi mengidap kernikterus adalah gangguan pernapasan, kejang otot ringan hingga berat, termasuk di kepala, serta tubuh yang membungkuk ke depan. Dalam tahap yang parah, gejala tersebut dapat menyebabkan kelainan pada fungsi motorik.

Kamu juga dapat bertanya pada dokter dari Halodoc jika mengalami kebingungan tentang dampak dari bilirubin tinggi pada bayi. Caranya mudah, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu gunakan! Selain itu, kamu juga dapat membeli obat tanpa keluar rumah dengan aplikasi tersebut.

Baca juga: Awas, Bayi Kuning Bisa Sebabkan Kerusakan Otak

Penyebab Kernikterus Terjadi

Gangguan terlalu tinggi kandungan bilirubin pada bayi yang menyerang otak tersebut disebabkan oleh penyakit kuning yang tidak segera diobati. Hal tersebut terjadi karena hati bayi yang baru lahir tidak dapat memproses zat tersebut dengan cukup cepat. Penumpukan tersebut akhirnya terjadi pada darah bayi. Terdapat dua jenis bilirubin pada tubuh, yaitu:

  • Bilirubin Tak Terkonjugasi. Bilirubin jenis ini bergerak dari aliran darah ke hati. Tipe ini tidak larut dalam air, sehingga dapat menumpuk di jaringan tubuh bayi.

  • Bilirubin Terkonjugasi. Tipe ini dikonversi dari bilirubin tak terkonjugasi pada hati. Bilirubin terkonjugasi dapat larut dalam air, sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui usus tiap orang.

Bilirubin yang tidak terkonjugasi sulit untuk diubah oleh hati, sehingga dapat menumpuk pada tubuh bayi. Ketika zat tersebut menjadi sangat tinggi, bilirubin dapat keluar dari darah dan masuk ke jaringan otak. Hal tersebut menyebabkan kernikterus dikarenakan bilirubin yang menumpuk.

Baca juga: Inilah Penyebab Sakit Kuning pada Orang Dewasa

Itulah kernikterus yang disebabkan oleh kadar bilirubin yang tinggi pada tubuh bayi. Jika anak ibu mengalami gejala penyakit kuning, segeralah mengatasinya agar tidak terjadi komplikasi yang mungkin membahayakan. Selain itu, cobalah untuk selalu bertanya pada dokter terkait gangguan tersebut.

Referensi:
Health Line. Diakses pada 2019. What Is Kernicterus?
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Kernicterus?