Kernikterus pada Bayi Bisa Sebabkan Cerebral Palsy

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kernikterus pada Bayi Bisa Sebabkan Cerebral Palsy

Halodoc, Jakarta – Apakah kamu pernah mendengar penyakit kernikterus yang rentan menyerang bayi? Kernikterus adalah kerusakan otak yang terjadi pada bayi baru lahir dengan penyakit kuning. Penyakit kuning atau jaundice terjadi ketika jumlah bilirubin dalam darah terlalu banyak sampai melebihi batas normal. Akibatnya, seseorang mengalami perubahan warna kulit dan jaringan lainnya menjadi kekuningan. 

Baca Juga: Benarkah Minum Antibiotik saat Hamil Sebabkan Cerebral Palsy?

Ketika bayi mengalami sakit kuning, perubahan warna kulit biasanya terlihat di wajahnya terlebih dulu. Ketika tingkat bilirubin semakin tinggi, gejalanya dapat menjalar ke seluruh tubuhnya, termasuk dadanya, perut, lengan, dan kakinya. Gejala ini lebih sulit diidentifikasi pada bayi dengan kulit lebih gelap. Warna kuning juga bisa muncul di bagian putih mata bayi.

Gejala Kernikterus Pada Bayi 

Gejala kernikterus dapat bervariasi pada setiap bayi, tetapi gejala umumnya dapat meliputi:

  • Mengantuk atau kekurangan energi;
  • Menangis terus-menerus;
  • Demam;
  • Kesulitan makan;
  • Kelemahan atau kekakuan seluruh tubuh;
  • Gerakan mata yang tidak biasa;
  • Kejang otot atau penurunan tonus otot.

Jika ibu menemukan tanda-tanda di atas pada Si Kecil, segera kunjungi rumah sakit terdekat agar kondisinya ditangani dengan cepat. Kernikterus yang ditangani dengan baik bisa mencegah berbagai risiko komplikasi. Sebelum mengunjungi rumah sakit, buat janji dengan dokter lewat aplikasi Halodoc terlebih dahulu. Gejala-gejala lain dari kernikterus berkembang ketika seorang anak bertambah usia, seperti:

  • Kejang;
  • Perkembangan dan pergerakan motor yang abnormal;
  • Kejang otot;
  • Mengalami masalah pendengaran dan sensorik lainnya;
  • Ketidakmampuan untuk menatap ke atas;
  • Enamel gigi bernoda.

Baca Juga: Hafiz Alquran Naja Idap Lumpuh Otak, Ini Faktanya

Benarkah Kernikterus Bisa Sebabkan Cerebral Palsy?

Jawabannya adalah ya. Penyakit kuning yang tidak ditangani dengan baik dapat merusak otak yang kemudian menyebabkan kelumpuhan otak (cerebral palsy) akibat athetoid dan gangguan pendengaran. Kernikterus juga menyebabkan masalah dengan penglihatan dan gigi dan dapat menyebabkan cacat intelektual. Deteksi dini dan pengelolaan penyakit kuning mencegah kernikterus yang berisiko mengembangkan cerebral palsy.

Pengobatan untuk Atasi Kernikterus

Kernikterus yang tergolong ringan mungkin tidak memerlukan perawatan.Namun, ketika kadar bilirubin sangat tinggi atau jika Si Kecil memiliki faktor risiko tertentu, seperti dilahirkan prematur), pengobatan mungkin diperlukan. Opsi perawatannya dapat mencakup:

  1. Pemberian ASI atau Susu Formula yang Cukup

Bayi yang tidak mendapatkan cukup cairan akan mengalami kesulitan untuk membuang pigmen kuning akibat penyakit kuning melalui urin dan fesesnya. Bayi baru lahir harus menghabiskan paling tidak enam popok basah sehari dan tinja mereka harus berubah dari hijau tua menjadi kuning jika mereka mulai mendapatkan nutrisi yang cukup. Pastikan Si Kecil tampak puas ketika mereka sudah cukup makan.

  1. Fototerapi

Fototerapi melibatkan penggunaan cahaya biru khusus ke kulit bayi yang biasanya tersedia rumah sakit untuk memecah bilirubin. Fototerapi dianggap sangat aman, meskipun dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti tinja yang cair dan munculnya ruam. Selama perawatan fototerapi, ibu harus memastikan bahwa Si Kecil mendapatkan cairan yang cukup. Pemberian ASI atau susu botol harus dilanjutkan. Jika bayi mengalami dehidrasi parah, cairan infus mungkin diperlukan.

  1. Transfusi Tukar

Tindakan ini dilakukan jika bayi tidak merespons perawatan lain dan perlu menurunkan kadar bilirubin  dengan cepat. Transfusi tukar ini digunakan dengan menukar bilirubin yang terlalu tinggi dengan kadar bilirubin yang rendah.

Baca Juga: Waspadai Kehamilan Berbeda Rhesus Darah

Penyakit kuning sering disebabkan karena perbedaan rhesus dari orangtua. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kondisi ini, sebaiknya lakukan cek pranikah untuk mempertimbangkan risiko penyakit di kemudian hari. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Kernicterus?.
Healthline. Diakses pada 2019. What Is Kernicterus?.
Centers For Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. What are Jaundice and Kernicterus?.