Banjir Besar Jakarta 2020: Bagaimana Cara Tetap Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
banjir-besar-jakarta-2020-bagaimana-cara-tetap-sehat-halodoc

Halodoc, Jakarta - Mau tahu berapa banyaknya korban banjir besar Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) pada awal 2020? Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya 43 tewas hingga Jumat (3/1) pukul 09.00 WIB. 

Khusus wilayah Jakarta, setidaknya banjir besar ini memaksa 187.000 orang mesti mengungsi ke wilayah aman. Menurut data yang Halodoc himpun dari beberapa media Nasional, penyebab kematian korban beragam. Mulai dari hipotermia, terseret arus banjir, tersengat arus listrik, hingga tertimbun tanah longsor. 

Lewat catatan sejarah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, curah hujan 1 Januari 2020 memecahkan rekor dalam seperemat abad terakhir. Mengalahkan curah hujan tertinggi sebelumnya pada 1996. 

Hal yang perlu digarisbawahi, meski banjir di beberapa titik Jabodetabek mulai surut, ada satu hal yang tak boleh dilupakan, yaitu penyakit yang siap menghantui korbannya. Nah, berikut beberapa penyakit yang diam-diam bisa mengintai korban banjir di awal tahun 2020 ini:

Baca juga: Waspada Banjir, Ini Bahaya Genangan Air bagi Kesehatan

1. Demam Dengue

Jangan main-main dengan demam dengue. Data dari WHO berjudul Flooding and Communicable Diseases Fact Sheet menunjukkan, demam dengue merupakan penyakit yang rentan terjadi di musim penghujan, terutama saat banjir terjadi.

Awas, demam dengue ini bisa menyebabkan komplikasi yang fatal. Contohnya, menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah. Singkat kata, bila tidak segera ditangani, demam dengue bisa mengancam nyawa. Alasannya bisa menyebabkan demam berdarah dengue (DBD).

Seseorang yang mengidap DBD bisa mengalami muntah secara terus-menerus, perdarahan pada hidung dan gusi, darah pada urine, nyeri perut, cepat lelah, hingga sulit bernapas dan syok.

2. Influenza

Sebenarnya, penyebaran virus flu di Indonesia tidak mengenal bulan atau musim tertentu. Secara epidemiologi, sirkulasi virus influenza di Indonesia selalu ada tiap tahunnya. Berbeda dengan di negara Amerika Serikat dan Australia, di kedua negara tersebut sirkulasi virus flu mencapai puncaknya pada musim dingin. 

Virus flu ini sering meningkat kasusnya di musim pancaroba dan hujan. Penyebabnya belum diketahui pasti, tapi ada dugaan di masa tersebut sistem imun tubuh terhadap penyakit atau virus jadi berkurang.

Virus penyebab penyakit flu ini dapat dengan mudah menyebar melalui udara atau air ludah. Virus penyebab penyakit ini pun dapat dengan mudah bermutasi setiap waktu, sehingga sistem imunitas tubuh sulit mendeteksi virus yang satu ini. Karena sulitnya sistem imun tubuh mendeteksi virus influenza ini, maka tubuh cenderung lebih mudah terkena flu.

Lalu, bagaimana cara mencegah flu di musim penghujan dan banjir? Perkuatlah sistem imun. Misalnya dengan mengonsumsi makanan bergizi secara teratur, rutin berolahraga, menjaga gaya hidup sehat, dan istirahat yang cukup. Apabila diperlukan, suplemen vitamin C dapat dikonsumsi untuk memperkuat daya tahan tubuh dalam melawan virus penyebab influenza.

Baca juga: Ini Jenis Makanan Supaya Enggak Gampang Sakit

3. Diare

Diare merupakan penyakit yang terbilang umum ketika banjir melanda. Meski kelihatannya sepele, diare yang tidak kunjung sembuh (diare kronis) bisa berbahaya, lho. Diare umumnya disebabkan karena konsumsi makanan yang telah terkontaminasi virus, parasit, atau bakteri.

Bagaimana dengan diare di musim hujan? Penyebabnya bisa terjadi karena serangan bakteri salmonella, cholera, dan shigella. Biasanya, diare hanya berlangsung selama beberapa hari, tapi bisa juga berminggu-minggu. Nah, segeralah temui dokter bila diare tidak kunjung sembuh. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc atau segera periksakan diri ke rumah sakit terdekat.

4. Tifus

Penyakit di musim hujan dan disertai banjir lainnya yang mesti diwaspadai contohnya tifus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri nakal Salmonella typhi dan menyebar lewat makanan yang terkontaminasi. Umumnya, penyakit ini sering ditemukan di negara-negara berkembang.

Seseorang yang mengidap penyakit ini bisa mengalami beragam gejala. Mulai dari demam, sakit kepala, sakit perut, konstipasi, atau diare. Jangan main-main dengan infeksi Salmonella karena apabila sudah memasuki aliran darah (bakteremia), karena ia dapat menginfeksi jaringan di seluruh tubuh, termasuk:

  • Jaringan di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meningitis).
  • Lapisan jantung atau katup jantung. (endokarditis).
  • Tulang atau sumsum tulang (osteomielitis).

Baca juga: Tetap Sehat di Musim Hujan? Bisa kok!

 5. Leptospirosis

Masih menurut WHO, selain empat penyakit tersebut, banjir juga berpotensi menimbulkan penyakit menular lainnya seperti leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri nakal bernama Leptospira. 

Dalam kebanyakan kasus, leptospirosis sering disebarkan oleh hewan. Mulai dari tikus, sapi, anjing, dan babi. Bakterinya bisa disebarkan lewat urine atau darah dari hewan yang telah terinfeksi. Nah, menyoal musim hujan ini, tikus sering kali menjadi biang keladi penyebaran leptospirosis. 

Lantas, seperti apa gejala dari penyakti ini? Menurut jurnal dalam National Institutes of Health di US National Library of Medicine, gejalanya bisa berupa demam, nyeri otot, batuk kering, mual, muntah, diare, mengigil kedinginan, atau sakit kepala. 

Baca juga: Banjir 2020, Waspada 5 Penyakit Kulit yang Mengintai

Ada pula sebagian kecil pengidapnya yang mengalami sakit tulang, nyeri sendi, limpa atau hati yang membesar, konjungtivitis, atau pembesaran kelenjar getah beting. Hal yang perlu diawasi, gejala-gejala di atas bisa berkembang dalam 2 hingga 26 hari (rata-rata 10 hari).  

Tips Tetap Sehat di Kamp Pengungsian

Seperti penjelasan sebelumnya, banjir besar jakarta ini setidaknya membuat 187.000 orang mengungsi ke wilayah aman. Hal yang perlu diingat, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan saat berada di kamp pengungsian. Nah, berikut beberapa tips menjaga kesehatan diri selama berapa di kamp pengungsian. 

  • Harus air matang. Pastikan air minum bersih dan matang. Sebab, konsumsi air kotor bisa menjadi sumber berbagai penyakit.
  • Bersihkan tubuh. Bila kondisi tidak memungkinkan untuk mandi, bersihkan tubuh dengan handuk basah. Tujuannya agar kotoran penyebab penyakit kulit tidak menumpuk. Ingat, gunakan air bersih dan sabun.
  • Kebersihan tangan. Cuci tangan sebelum dan setelah makan, sebelum dan setelah buang air, dan setelah beraktivitas yang membuat tangan menjadi kotor. Menjaga tangan tetap bersih merupakan cara paling efektif untuk menurunkan risiko terserang penyakit. 
  • Cuci bersih. Selalu gunakan alat makan yang telah dicuci dengan sabun dan air bersih, serta keringkan dengan sempurna. Khusus untuk balita, pastikan alat makan sudah dibilas dengan air bersih. Bila memungkinkan gunakan air panas untuk mencucinya. 
  • Pastikan dapur umum bersih. Cucilah tangan sebelum mengolah atau menyediakan makanan, khususnya bagi pengelola dapur umum. Ingat, dapur umum bisa menjadi tempat utama penularan penyakit.
  • Harus sehat. Juru masuk di tempat pengungsian sebaiknya bukan seseorang yang sedang sakit. Di samping itu, gunakanlah masker saat memasak untuk menghindari penularan penyakit.
  • Lihat tempat penyimpanan. Tempat penyimpanan makanan di dapur sebaiknya selalu tertutup. Bahan makanan ini harus terhindar dari lalat atau hewan lainnya yang bisa menyebarkan penyakit.
  • Kaya energi. Umumnya kandungan gizi tidak menjadi fokus utama dalam penyediaan makanan. Biasanya, perhatian dipusatkan pada makanan yang mengandung energi tinggi. Tujuannya agar pengungsi memperoleh energi segera. Setelah tiga hari, komposisi gizi harus mulai menjadi fokus perhatian.
  • Tetap aktif secara fisik. Berhadapan dengan bencana alam seperti banjir, semestinya bukan menjadi halangan untuk tetap aktif bergerak. Cobalah lakukan olahraga sederhana seperti peregangan tubuh dan berjalan kaki. Aktif secara fisik bisa membuat sirkulasi darah tetap terjaga dan membuat tubuh tetap fit dan bugar.
  • Cegah penularan. Bila sedang atau ada yang sakit, gunakanlah alat proteksi diri seperti masker untuk mencegah penularan penyakit. Segeralah temui atau laporkan pada petugas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
  • Kesehatan mental. Tak cuma fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan. Jangan salah, bencana alam seperti banjir bisa menimbulkan rasa trauma, bahkan menyebabkan depresi dan paranoia. Mintalah bantuan ahli atau profesional bila melihat anggota keluarga atau orang lainnya mengalami gejala-gejala depresi

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau tips agar tetap sehat selama musim penghujan dan disertai banjir? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa berbicara dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Januari 2020.Diseases & Conditions. Dengue Fever.
MedicineNet. Diakses pada Desember 2019. Diarrhea Causes, Medicine, Remedies, and Treatment.
US National Library of Medicine - NIH. Januari 2020. Leptospirosis
World Health Organization WHO. Diakses pada Januari 2020. Flooding and Communicable Diseases Fact Sheet.