Begini Proses Diagnosis Gangguan Mental Delirium

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Begini Proses Diagnosis Gangguan Mental Delirium

Halodoc, Jakarta - Delirium adalah gangguan serius pada kemampuan seseorang yang menyebabkan seseorang tampak kebingungan dan menjadi kurang sadar dengan lingkungan sekitar. Kondisi ini bisa berlangsung dengan cepat, seperti beberapa jam atau beberapa hari usai penyebab terjadi. Penyebab seseorang dapat mengalami kondisi ini cukup beragam, mulai dari efek penyakit parah atau kronis, perubahan keseimbangan metabolisme, efek obat-obatan, infeksi, pembedahan, kecanduan alkohol atau keracunan atau penghentian penggunaan obat.

Kondisi ini sering ditemukan pada pasien dengan usia lanjut, yaitu pengidapnya mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya, mudah linglung, mengalami disorientasi, dan tidak mampu berpikir secara jernih. Orang dengan delirium berbeda dengan demensia. Pengidap demensia lebih kepada penurunan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan berpikir, berbahasa, dan kecerdasan.

Cara mengatasi kondisi ini membutuhkan diagnosis yang tepat dokter. Selain itu, diagnosis yang tepat penting karena kondisi ini sering disamakan dengan demensia. Demensia dan delirium sulit dibedakan, dan seseorang mungkin memiliki keduanya. Faktanya delirium sering terjadi pada pengidap demensia tetapi seseorang yang mengalami delirium tidak selalu mengalami demensia. Cara untuk memperoleh metode pengobatan yang benar, berikut ini tahapan dalam mendiagnosis gangguan mental delirium.

Sebelum dokter memulai melakukan diagnosis, dokter menanyakan riwayat penyakit pasien. Selain itu, informasi dari keluarga atau orang terdekat pasien dibutuhkan agar diagnosis menjadi lebih akurat. Selanjutnya terdapat beberapa tahapan pemeriksaan, yaitu:

  • Pemeriksaan fisik dan neurologis. Dokter melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa gangguan atau penyakit yang menyebabkan seseorang mengalami delirium. Pemeriksaan ini berguna menentukan tingkat kesadaran pasien. Pada pemeriksaan neurologis, dokter memeriksa kondisi penglihatan, keseimbangan, koordinasi, dan refleks.

  • Pemeriksaan kejiwaan. Setelah melewati pemeriksaan fisik dan neurologis, dokter melanjutkan ke tahap pemeriksaan kondisi mental, perhatian, dan daya berpikir pengidap melalui sesi wawancara, pengujian, dan penyaringan.

  • Pemeriksaan penunjang. Selain dengan dua cara di atas, dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lain untuk mengetahui adanya gangguan dalam tubuh. Pemeriksaan tersebut seperti pemeriksaan darah atau urine untuk uji fungsi hati, menilai kadar hormon tiroid, paparan zat NAPZA atau alkohol. Pengidap dapat menjalankan tes pencitraan dengan CT scan atau MRI, elektroensefalogram, dan foto rontgen dada. Jika dibutuhkan, analisis cairan serebrospinal dilakukan guna memastikan diagnosis delirium.

Baca Juga: 4 Gangguan Mental yang Terjadi Tanpa Disadari

Komplikasi Delirium

Delirium dapat berlangsung hanya beberapa jam atau selama beberapa minggu atau bulan. Jika masalah penyebab delirium bisa segera ditangani, maka waktu pemulihan dapat menjadi lebih singkat. Tingkat pemulihan tergantung sampai batas tertentu pada kesehatan dan status mental sebelum timbulnya delirium.

Orang dengan penyakit serius, atau lainnya tidak mendapatkan kembali tingkat keterampilan berpikir atau fungsi seperti sebelum terkena delirium.

Pada beberapa kasus, delirium dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Penurunan kesehatan secara umum.

  • Pemulihan yang buruk dari operasi.

  • Perlu perawatan institusional.

  • Peningkatan risiko kematian.

Pencegahan Delirium

Beberapa cara pencegahan dapat dilakukan sebelum kondisi semakin parah. Metode pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menghindari faktor-faktor yang berisiko memperparah delirium, seperti berganti suasana lingkungan atau membuat kegaduhan.

  • Menerapkan kebiasaan tidur yang sehat. Siapkan kamar dan lingkungan yang tenang, pencahayaan yang baik, termasuk membantu pengidap memiliki aktivitas yang seimbang di siang hari. Cara ini membantu untuk tidur lebih baik di malam hari.

  • Terus berupaya menciptakan suasana yang tenang dan stabil. Ini termasuk menaruh barang-barang yang dikenal penderita di sekitarnya, sediakan jam dan kalender, dan berupaya bicara dengan suara rendah sehingga pengidap tidak merasa terganggu.

  • Memastikan pengidap menjalani pola makan yang sehat, konsumsi obat-obatan sesuai rekomendasi dokter, dan berolahraga secara teratur.

Baca Juga: Jenis Gangguan Mental yang Dapat Memengaruhi Perkembangan Anak

Itulah beberapa metode diagnosis delirium dan upaya pencegahan yang dapat kamu lakukan. Jika kamu membutuhkan diskusi lebih lanjut tentang gangguan mental ini dengan ahlinya, jangan ragu untuk menggunakan fitur Talk to a Doctor pada aplikasi Halodoc, ya. Diskusi bisa dilakukan dengan mudah, kamu bisa memilih Chat atau Voice/Video Call. Tunggu apa lagi? Yuk, download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Google Play Store sekarang!