Benarkah Keratosis Pilaris Dipengaruhi Faktor Genetik?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
benarkah-keratosis-pilaris-dipengaruhi-faktor-genetik-halodoc

Halodoc, Jakarta – Keratosis pilaris atau yang dijuluki juga penyakit kulit ayam adalah penyakit yang membuat kulit menjadi kering dan kasar seperti amplas, serta muncul bentol-bentol mirip jerawat. Penyakit kulit ini biasanya muncul pada kulit lengan, paha, pipi, dan bokong. 

Meskipun tidak menimbulkan rasa nyeri atau gatal, tapi keratosis pilaris tentu akan mengurangi penampilan kulit dan membuat pengidapnya jadi tidak nyaman. Katanya, munculnya keratosis pilaris dipengaruhi oleh faktor genetik. Benarkah demikian? Cari tahu faktanya di sini.

Keratosis pilaris adalah penyakit kulit yang bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bila dialami oleh remaja dan anak-anak, masalah kulit ini biasanya bisa sembuh dengan sendirinya saat mereka beranjak dewasa. 

Keratosis pilaris juga bukan merupakan penyakit yang berbahaya serta tidak bisa menular dari satu orang ke orang lainnya. Namun, selain membuat kulit menjadi kasar, keratosis pilaris juga bisa menimbulkan bentol-bentol berwarna merah atau putih yang kadang-kadang bisa bengkak. Penyakit kulit ini juga bisa muncul di alis, wajah, atau kulit kepala yang mengurangi penampilan.

Baca juga: Kenali Xerosis yang Membuat Kulit Gatal dan Kering

Penyebab Keratosis Pilaris: Benarkah karena Faktor Genetik?

Penyebab utama keratin pilaris adalah akibat penumpukan keratin atau protein padat yang melindungi kulit dari zat berbahaya dan infeksi. Keratin yang menebal di permukaan kulit ini disebut keratosis.

Kehadiran keratin menyumbat lubang pori di mana terdapat folikel rambut. Sumbatan tersebut membuat pori-pori melebar. Bila sumbatan terbentuk cukup banyak akibat penumpukan, maka permukaan kulit akan terasa kasar dan tidak rata atau bersisik.

Penyebab penumpukan keratin masih belum diketahui sampai saat ini, tapi benar bahwa faktor genetik diduga memengaruhi terjadinya keratosis pilaris. Berikut ini beberapa kelompok masyarakat yang berisiko lebih besar mengalami keratosis pilaris dibanding yang lainnya:

  • Usia. Kebanyakan pengidap keratosis pilaris adalah anak-anak dan remaja.

  • Jenis kelamin. Dibandingkan pria, wanita lebih rentan terkena keratosis pilaris.

  • Penyakit kulit lain. Orang yang mengidap iktiosis dan eksim lebih mudah mengalami keratosis pilaris.

Baca juga: Ini Masalah Kulit yang Rentan Menyerang Bayi

Waspadai Gejalanya

Secara umum, keratosis pilaris ditandai dengan gejala berupa munculnya bentol-bentol kecil berwarna merah atau putih, biasanya di lengan atas, kaki, bokong, atau pipi. Selain itu, kulit di sekitar benjolan juga terasa kering, kasar, dan terkadang gatal. 

Kondisi kulit yang terkena keratosis pilaris tersebut juga seringkali memburuk saat cuaca dingin, di ruangan dengan kondisi kelembapan yang rendah, dan saat kondisi kulit sedang kering.

Cara Mencegah Keratosis Pilaris

Sayangnya, keratosis pilaris tidak bisa dicegah. Namun, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi risiko penyakit tersebut. Berikut ini cara-caranya:

  • Mandi dengan air hangat

  • Gunakan sabun berbahan ringan yang mengandung minyak untuk melembapkan kulit

  • Jangan mandi terlalu lama, karena aktivitas ini bisa menghilangkan minyak alami dari kulit kamu

  • Keringkan kulit setelah mandi dan gunakan produk pelembap kulit

  • Pakai pelembap kulit yang sesuai dengan jenis kulit kamu.

  • Gunakan mesin pengontrol kelembapan ruangan agar ruangan tidak kering.

Baca juga: Kulit Kering dan Gatal Jangan Digaruk, Atasi dengan Ini

Nah, itulah penjelasan mengenai keratosis pilaris yang bisa dipengaruhi oleh faktor genetik. Kamu juga bisa berdiskusi dengan dokter mengenai langkah-langkah pencegahan keratosis pilaris lewat aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui melalui fitur Talk to A Doctor untuk bertanya-tanya seputar kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.