Benarkah Pheochromocytoma Disebabkan Faktor Genetik?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Benarkah Pheochromocytoma Disebabkan Faktor Genetik?

Halodoc, Jakarta - Kelenjar adrenal adalah kelenjar penghasil hormon bernama epinephrine atau zat-zat lain yang mirip. Kelenjar ini berfungsi untuk menaikkan tekanan darah, menyebabkan takikardia, dan menyebabkan sakit kepala dan berkeringat. Gangguan dapat muncul pada kelenjar ini, misalnya tumbuhnya tumor yang menyebabkan hormon yang dihasilkan menjadi berlebihan. Kondisi semacam ini disebut pheochromocytoma, yang sebabkan pengidapnya alami tekanan darah tinggi. 

Penyakit ini tidak berhubungan dengan faktor genetik, hanya 10 persen kasus pheochromocytoma yang diduga muncul akibat penyakit tumor endokrin dalam keluarga. Meski sekitar 90 persen jenis tumor pheochromocytoma adalah tumor jinak, jika ia tidak ditangani dengan tepat, dikhawatirkan tekanan darah tinggi mengakibatkan efek berkelanjutan. Seperti misalnya kerusakan pada jantung, otak, paru-paru, dan ginjal.

Baca Juga: Addison, Disebabkan Kerusakan Kelenjar Adrenal 

Apa Saja yang Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Pheochromocytoma?

Beberapa faktor yang memicu timbulnya gejala pada pengidap pheochromocytoma, antara lain: 

  • Kelelahan;

  • Stres atau cemas berlebihan;

  • Persalinan;

  • Perubahan posisi tubuh;

  • Tindakan operasi dan obat bius;

  • Penyalahgunaan NAPZA, seperti amfetamin dan kokain.

  • Terlalu banyak konsumsi makanan yang tinggi tyramine (zat yang dapat mengubah tekanan darah), seperti makanan yang difermentasi, diawetkan, diasamkan, terlalu matang, seperti keju, bir, wine, coklat, dan daging asap.

Apa Saja Gejala dari Pheochromocytoma?

Pada sebagian kasus, penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Namun saat produksi hormon-hormon di kelenjar adrenal mulai meningkat, maka muncul gejala selama beberapa menit hingga beberapa jam. Gejala tersebut antara lain: 

  • Sakit kepala;

  • Jantung berdebar;

  • Tekanan darah tinggi;

  • Keringat berlebih

  • Pucat;

  • Mual dan muntah;

  • Sembelit;

  • Merasa cemas;

  • Sulit tidur;

  • Penurunan berat badan;

  • Nyeri pada perut atau dada;

  • Sesak napas;

  • Kejang.

Apabila ukuran tumor semakin besar, maka gejala pheochromocytoma bisa makin berat dan sering terjadi. Segera periksakan ke dokter saat gejala masih ringan. Penanganan sejak dini dapat mencegahmu dari kemungkinan komplikasi yang berbahaya. Tanpa ribet dan buang waktu, kini kamu bisa buat janji dengan dokter lewat aplikasi Halodoc.

Baca Juga: Pertolongan Pertama saat Tekanan Darah Melonjak

Apa Saja Langkah Pengobatan Pheochromocytoma?

Tindakan operasi merupakan pengobatan utama untuk mengatasi pheochromocytoma. Pembedahan ini akan mengurangi produksi hormon berlebih, sehingga tekanan darah menjadi lebih stabil. Umumnya tumor atau keseluruhan kelenjar adrenal diangkat dengan metode laparoskopi, yaitu teknik pembedahan dengan sayatan kecil, menggunakan alat khusus yang dilengkapi kamera.

Selama 7-10 hari sebelum operasi pengangkatan tumor, dokter memberikan obat-obatan untuk menghentikan kerja hormon adrenalin, agar tekanan darah pasien lebih stabil selama operasi. Obat-obatan itu meliputi:

  • Obat penghambat alfa. Obat ini berguna untuk meningkatkan aliran darah dan menurunkan tekanan darah. Contoh obat golongan ini adalah doxazosin;

  • Obat penghambat beta. Obat ini membuat jantung berdetak lebih pelan dan membantu pembuluh darah terbuka dan lebih rileks. Contoh obat ini adalah atenolol, metoprolol, dan propranolol. Penggunaan obat penghambat alfa dan beta dapat menurunkan tekanan darah, sehingga pengidapnya perlu mengonsumsi makanan tinggi garam untuk mencegah rendahnya tekanan darah selama dan sesudah operasi.

Sementara itu, bila tumornya ganas dan tidak dapat diangkat melalui operasi, maka perlu dilakukan radioterapi dan kemoterapi untuk menghambat pertumbuhannya.

 

Komplikasi Pheochromocytoma

Pheochromocytoma menyebabkan tekanan darah tinggi. Apabila tidak ditangani dengan serius, maka kondisi ini dapat merusak organ tubuh lainnya dan mengakibatkan beberapa hal seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kerusakan saraf mata, gangguan pernapasan akut. Parahnya lagi pheochromocytoma ganas menyebar ke jaringan tubuh lainnya, seperti ke organ limpa, hati, tulang, atau paru-paru.

Baca Juga: Kenali Perbedaan antara Tumor dan Kanker 

Referensi:
WebMd. Diakses pada 2019. What Is Pheochromocytoma?
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Condition: Pheochromocytoma.