• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Tumor Otak Dapat Sebabkan Hemiplegia?

Benarkah Tumor Otak Dapat Sebabkan Hemiplegia?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Hemiplegia adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelumpuhan pada satu sisi tubuh, bisa bagian kanan ataupun kiri. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari kerusakan pada salah satu sisi otak yang berfungsi untuk mengatur kerja otot. Kerusakan otak tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah tumor otak.

Hemiplegia juga dapat muncul sebagai bawaan lahir. Selain tumor otak, berikut beberapa hal lain yang dapat menyebabkan hemiplegia:

  • Perdarahan di dalam rongga otak yang berisi cairan (ventrikel otak).
  • Sindrom migrain.
  • Stroke.
  • Cedera kepala.
  • Infeksi, misalnya ensefalitis atau meningitis.
  • Multiple sclerosis.
  • Acute necrotizing myelitis.
  • Malformasi arteri vena, yaitu kecacatan pada pembuluh darah arteri maupun vena.
  • Leukodystrophy, yakni sekelompok penyakit genetik yang memengaruhi otak dan sistem saraf.

Baca juga: Ketindihan saat Tidur Bisa Jadi Gejala Hemiplegia?

Gejala Hemiplegia

Selain kelumpuhan di satu sisi badan, hemiplegia pada dapat disertai dengan berbagai gejala lain. Pada anak, berikut gejala penyertanya:

  • Kelemahan dan kekakuan otot.
  • Salah satu sisi tangan selalu mengepal.
  • Kesulitan berjalan.
  • Sulit menjaga keseimbangan.
  • Kesulitan menggunakan kedua tangan. 
  • Sulit melakukan gerakan motorik halus, seperti menulis atau menggunting.
  • Keterlambatan perkembangan, contohnya terlambat duduk, merangkak, bicara, atau berjalan.
  • Sulit konsentrasi.
  • Kesulitan membentuk memori baru.
  • Perilaku yang agresif dan uring-uringan.
  • Suasana hati yang mudah berubah (mood swing).
  • Gangguan fungsi sensorik, misalnya fungsi mata yang terganggu.
  • Kejang-kejang.

Sementara itu, kelumpuhan satu sisi pada orang dewasa juga dapat terjadi dengan gejala yang berbeda pula. Pada orang dewasa, hemiplegia paling sering disebabkan oleh stroke, baik akibat sumbatan ataupun pecahnya pembuluh darah otak. Hemiplegia karena stroke dapat menimbulkan gejala berikut:

  • Satu sisi tubuh tiba-tiba menjadi lemah, mati rasa, atau sulit digerakkan.
  • Kesulitan berbicara akibat lumpuhnya otot-otot wajah.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kesulitan berjalan.
  • Kehilangan koordinasi dan keseimbangan tubuh.
  • Sakit kepala hebat.
  • Sulit bicara.
  • Sulit menelan.

Baca juga: Ternyata, Ini Penyebab Utama Terjadinya Hemiplegia

Stroke adalah kondisi gawat darurat medis yang harus segera ditangani. Sebab, sel-sel otak akan mati dengan cepat jika tidak mendapatkan pasokan oksigen. Sayangnya, hanya sekitar tiga hingga lima persen pengidap stroke yang memperoleh penanganan tepat waktu.

Hemiplegia akibat stroke umumnya tidak bisa kembali normal. Namun, pada beberapa kondisi, kelumpuhan satu sisi tubuh ini juga dapat pulih seutuhnya. Taraf pemulihan tergantung pada banyaknya sel otak yang mati dan kecepatan penanganan. Jika kerusakan yang terjadi tidak luas, sel-sel otak yang masih hidup mungkin dapat mengambil alih lagi fungsi sel otak yang sudah mati.

Perawatan untuk Hemiplegia

Perawatan untuk hemiplegia adalah rehabilitasi dan harus dimulai secepat mungkin. Pada pengidap yang kondisinya stabil, rehabilitasi dapat dilakukan dalam dua hari setelah serangan terjadi. Meski hemiplegia tidak bisa dipulihkan melalui rehabilitasi, perawatan ini dapat membangun kekuatan, kemampuan, dan kepercayaan diri pengidap untuk kembali ke kegiatan sehari-hari serta dapat beraktivitas semandiri mungkin.

Baca juga: Masih Muda, Bisa Juga Kena Stroke

Program rehabilitasi untuk hemiplegia mencakup aktivitas yang meliputi:

  • Perawatan diri, seperti cara mandi, mengenakan pakaian, menyisir rambut, atau makan.
  • Belajar berjalan, baik dengan alat bantu ataupun tidak. Jika harus menggunakan kursi roda, pengidap perlu melatih diri agar bisa menjalankan kursi rodanya sendiri.
  • Berinteraksi dengan orang lain untuk memulihkan kemampuan bersosialisasi.
  • Melatih fungsi komunikasi dan kognisi agar bisa kembali normal.

Sebagian besar hemiplegia tidak dapat sembuh total. Namun, berbagai terapi yang dijalani dan obat-obatan yang diberikan oleh dokter akan membantu agar gejala tidak terus bertambah parah dan risiko komplikasi dapat ditekan seminim mungkin. 

Oleh karena itu, sebaiknya selalu konsultasikan ke dokter jika kamu atau anggota keluarga ada yang mengalami hemiplegia. Agar lebih mudah, kamu bisa download aplikasi Halodoc dan manfaatkan untuk berbicara dengan dokter lewat chat atau buat janji dengan dokter di rumah sakit.



Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Hemiplegia - Management and Treatment.
Kids Health. Diakses pada 2020. Hemiplegia.
Children’s Hemiplegia and Stroke Association. Diakses pada 2020. Hemiplegia.