• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Turunkan Berat Badan Bisa Bantu Atasi Sleep Apnea?

Benarkah Turunkan Berat Badan Bisa Bantu Atasi Sleep Apnea?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benarkah Turunkan Berat Badan Bisa Bantu Atasi Sleep Apnea?

“Pandji Pragiwaksono mengaku sudah tidak lagi mengalami sleep apnea setelah menurunkan berat badan. Nyatanya, kelebihan berat badan atau obesitas memang merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya gangguan tidur tersebut. Timbunan lemak di leher dan perut bisa menghalangi jalan napas seseorang saat tidur. Jadi, menurunkan berat badan bisa membantu mengatasi sleep apnea.”

Halodoc, Jakarta – Pandji Pragiwaksono, salah satu komika terkenal di Indonesia, berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 16 kilogram dari 96 kilogram. Ia pun mengaku merasa lebih segar dan lebih sehat sebagai hasilnya.

Melalui akun Instagramnya, Pandji juga mengungkapkan bahwa banyak masalah kesehatan yang membaik sehat setelah berat badannya menurun. Salah satunya adalah ia tidak lagi mengalami sleep apnea yang membuatnya mengorok keras hingga membuat napas berhenti ketika tidur. Sleep apnea sendiri adalah gangguan pernapasan saat tidur yang umum terjadi. Gangguan ini berpotensi menyebabkan masalah serius bila tidak diobati. Lantas, benarkah menurunkan berat badan bisa membantu mengatasi sleep apnea? Berikut ulasannya.

Baca juga: Sering Mengorok Saat Tidur Tanda Mengidap Sleep Apnea

Mengenal Sleep Apnea dan Penyebabnya

Sleep apnea adalah gangguan tidur serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang terganggu saat tidur. Orang dengan gangguan tidur ini yang belum diobati, bisa berhenti bernapas berulang kali selama tidur, terkadang hingga ratusan kali di malam hari.

Ada dua jenis sleep apnea, yaitu obstruktif dan sentral. Pada apnea tidur obstruktif (OSA) yang merupakan jenis apnea tidur paling umum, gangguan pernapasan di mana saluran udara napas atas lengkap atau sebagian berulang kali tersumbat. Kondisi tersebut bisa terjadi karena otot-otot di bagian belakang tenggorokan kamu menjadi rileks, sehingga jalan napas akan menyempit atau menutup saat kamu menarik napas. 

Sementara pada apnea tidur sentral, jalan napas tidak tersumbat tapi otak gagal memberi sinyal pada otot untuk bernapas. Kondisi tersebut disebabkan oleh adanya disfungsi pada sistem saraf pusat, misalnya pada orang yang baru mengalami stroke.

Sleep apnea adalah kondisi kesehatan yang sebaiknya jangan diremehkan. Pasalnya,bila tidak diobati, gangguan tidur tersebut bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), stroke, kardiomiopati (pembesaran jaringan otot jantung), gagal jantung, diabetes, dan serangan jantung. Selain itu, sleep apnea juga bisa menurunkan kualitas tidur kamu yang bisa berdampak pada pekerjaan, prestasi di sekolah pada anak-anak dan remaja, serta bisa menyebabkan kecelakaan.

Berat Badan Merupakan Salah Satu Faktor Risiko yang Berpengaruh Besar

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami sleep apnea, salah satunya adalah kelebihan berat badan atau obesitas. Melansir dari Sleep Foundation, kelebihan berat badan menyebabkan timbunan lemak di leher yang disebut lemak faring. Lemak faring bisa menyumbat saluran napas bagian atas seseorang saat tidur ketika saluran tersebut sudah rileks. Itulah mengapa orang dengan sleep apnea biasanya akan mendengkur dengan keras, karena udara benar-benar terjepit melalui saluran udara yang terbatas.

Selain itu, lingkar perut yang bertambah akibat kelebihan lemak bisa menekan dinding dada seseorang, sehingga menurunkan volume paru-paru. Kapasitas paru-paru yang berkurang ini mengurangi aliran udara yang membuat saluran udara bagian atas lebih mungkin kolaps saat tidur. Risiko OSA terus meningkat dengan meningkatnya indeks massa tubuh (BMI). Bahkan kenaikan berat badan 10 persen dikaitkan dengan peningkatan enam kali lipat risiko OSA.

Baca juga: Obesitas Tingkatkan Risiko Terkena 9 Penyakit Ini

Menurunkan Berat Badan Bisa Bantu Atasi Sleep Apnea

Seperti pada banyak penyakit lainnya, perubahan gaya hidup seringkali menjadi bagian dalam pengobatan yang bisa membantu mengatasi sleep apnea. Bagi pengidap sleep apnea yang memiliki kelebihan berat badan, menurunkan berat badan merupakan perubahan yang perlu dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur tersebut.

Dengan menurunkan berat badan, kamu bisa mengurangi timbunan lemak di leher dan lidah yang bisa menyebabkan aliran udara terbatas. Hal ini juga mengurangi lemak di perut, yang pada akhirnya, akan meningkatkan volume paru-paru dan meningkatkan traksi saluran napas, sehingga membuat jalan napas cenderung tidak kolaps saat tidur.

Menurunkan berat badan juga bisa secara signifikan mengurangi banyak gejala terkait OSA, seperti kantuk di siang hari. Iritabilitas, dan disfungsi neuropsikiatri lainnya juga mengalami perbaikan secara nyata. 

Namun, penurunan berat badan hanya 10–15 persen mengurangi keparahan OSA sebesar 50 persen pada pengidap dengan obesitas sedang. Sayangnya, meskipun penurunan berat badan bisa memberikan dampak baik pada OSA, hal itu biasanya tidak bisa menyembuhkan secara total. Banyak pengidap sleep apnea tetap membutuhkan terapi tambahan.

Baca juga: Ini Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Sleep Apnea

Itulah penjelasan mengenai menurunkan berat badan yang bisa membantu mengatasi sleep apnea. Bila kamu mengalami tanda-tanda sleep apnea, coba periksakan diri saja ke dokter untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan perawatan. Kamu bisa berobat ke dokter dengan buat janji di rumah sakit pilihan kamu dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Sleep Apnea.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Sleep Apnea.
Sleep Foundation. Diakses pada 2021. How Weight Affects Sleep Apnea