• Home
  • /
  • Berbahayakah Efek Samping dari Suntik Difteri pada Si Kecil?

Berbahayakah Efek Samping dari Suntik Difteri pada Si Kecil?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Berbahayakah Efek Samping dari Suntik Difteri pada Si Kecil?

Halodoc, Jakarta – Pemberian vaksin difteri alias vaksinasi difteri menjadi salah satu cara terampuh untuk melindungi Si Kecil dari penyakit tersebut. Pemberian vaksin ini bisa menurunkan risiko tertular penyakit difteri, yaitu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini bisa dengan mudah menyebar dari satu orang ke orang lainnya. 

Maka dari itu, sangat penting untuk melindungi anak dengan vaksin. Setelah mendapat imunisasi ini, Si Kecil mungkin akan menunjukkan gejala atau efek samping. Apakah efek samping vaksin ini berbahaya? Jawabannya tidak. 

Jadi, orangtua tidak perlu terlalu khawatir. Kendati begitu, jangan mengabaikan efek samping yang serius dan bertahan dalam waktu lama. Apa saja efek samping yang bisa muncul dari pemberian vaksin difteri? Berikut pembahasannya! 

Baca juga: Ini Waktu yang Tepat Beri Anak Vaksin Difteri

Efek Samping Vaksin Difteri pada Anak 

Bakteri penyebab difteri ditularkan melalui udara. Penularan bisa terjadi saat seseorang tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan saat pengidap batuk atau bersin. Pemberian vaksin difteri pada anak dilakukan untuk menekan risiko penularan bakteri tersebut. Sebab, difteri adalah kondisi yang tidak boleh dianggap sepele. Penyakit ini dapat menyebabkan sesak napas, pneumonia, kerusakan saraf, gangguan jantung, bahkan kematian. 

Baca juga: Hal-Hal yang Dilakukan setelah Imunisasi Difteri

Pemberian vaksin dilakukan untuk menekan risiko penularan penyakit ini. Vaksin difteri diberikan secara kombinasi dengan vaksin penyakit lain, yaitu dengan tetanus dan batuk rejan (pertusis), atau dengan tetanus saja.

Ada 5 jenis vaksinasi difteri yang tersedia, yaitu:

  1. Vaksinasi DTP, yaitu vaksin yang diberikan kepada anak-anak usia di bawah 7 tahun untuk mencegah difteri, tetanus, dan pertusis.
  2. Vaksinasi DTaP, hampir sama dengan DTP, namun vaksin pertusis dimodifikasi sehingga diharapkan dapat mengurangi efek samping dari vaksin.
  3. Vaksinasi DT, yaitu vaksin yang diberikan kepada anak-anak usia di bawah 7 tahun untuk mencegah difteri dan tetanus.
  4. Vaksinasi Tdap, diberikan kepada anak-anak dan orang dewasa, usia 11–64 tahun, untuk mencegah tetanus, difteri, dan batuk rejan.
  5. Vaksinasi Td adalah vaksin yang diberikan kepada remaja dan dewasa untuk mencegah tetanus dan difteri. Jenis vaksin ini disarankan untuk dilakukan sekali tiap 10 tahun.

Ada beberapa gejala atau efek samping yang mungkin muncul setelah vaksinasi, seperti pusing, penglihatan buram, telinga berdenging, hingga kehilangan kesadaran atau pingsan. Pada anak-anak, kemungkinan muncul gejala demam atau pembengkakan. 

Pemberian vaksin juga bisa membuat seseorang merasakan nyeri hebat di bagian bahu sehingga sulit digerakkan, tetapi hal ini jarang terjadi. Reaksi alergi juga mungkin muncul setelah Si Kecil menerima vaksinasi difteri. 

Suntikan vaksin difteri umumnya akan menyebabkan anak mengalami efek samping, seperti nyeri, bengkak, atau kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik, demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual dan muntah, diare, nafsu makan menurun dan rewel pada anak-anak. Jangan terlalu panik jika efek samping muncul, tetapi tetap harus waspada. Bila terjadi demam tinggi, bayi menangis selama lebih dari 3 jam, atau kejang, segera temui dokter.

Baca juga: Perbedaan Vaksin Difteri pada Anak dan Orang Dewasa

Ibu juga bisa mencari pertolongan pertama untuk mengatasi efek samping vaksin difteri pada anak dengan aplikasi Halodoc. Lebih mudah untuk menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips merawat anak yang sakit dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi
Medline Plus. Diakses pada 2029. Diphtheria, Tetanus, and Pertussis (DtaP) Vaccine.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diphtheria, Tetanus, and Acellular Pertussis Vaccine (Intramuscular Route).
WHO. Diakses pada 2020. Observed Rate of Vaccine Reactions. DTP Vaccine.
Ikatan Dokter Anak IIndonesia. Diakses pada 2020. Melengkapi/Mengejar Imunisasi.