Perbedaan Vaksin Difteri pada Anak dan Orang Dewasa

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Perbedaan Vaksin Difteri pada Anak dan Orang Dewasa

Halodoc, Jakarta – Tak hanya anak-anak, orang dewasa juga perlu mendapatkan vaksin difteri. Namun, jenis vaksin yang diberikan berbeda. Untuk anak-anak, vaksin difteri yang diberikan adalah DTaP, sedangkan untuk orang dewasa adalah Td/Tdap. Lalu, apa sih perbedaan kedua vaksin difteri tersebut?

Berbeda dengan vaksin lainnya, seperti misalnya hepatitis B, vaksin difteri biasanya tersedia dalam bentuk kombinasi dengan pertusis dan atau tetanus. Secara internasional, vaksin ini ada dalam 4 jenis kombinasi, yaitu DTaP, DT, Tdap dan Td. Vaksin DTaP dan DT diperuntukkan anak usia 2 bulan hingga 7 tahun, sedangkan Tdap untuk anak usia 7 tahun ke atas dan orang dewasa.

Baca Juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Berikut sedikit penjelasan mengenai berbagai jenis vaksin difteri tersebut:

1. Vaksin Difteri DTaP dan DT

Vaksin DTaP terdiri atas 3 komponen, yaitu toksoid difteri (D), toksoid tetanus (T), dan antigen bakteri pertusis (aP). Di Indonesia, vaksin ini banyak dijumpai dengan nama DPT atau DTP. Perbedaannya terletak pada komponen antigen untuk pertusis. 

Vaksin DTP mengandung sel bakteri pertusis utuh dengan ribuan antigen, termasuk antigen yang tidak diperlukan. Karena banyak mengandung antigen, vaksin ini kerap menimbulkan reaksi panas tinggi, merah, bengkak, dan nyeri pada bekas suntikan. Sementara vaksin DTaP mengandung bagian dari bakteri pertusis yang tidak utuh, atau hanya mengandung sedikit antigen yang dibutuhkan saja, sehingga minim efek samping.

Selanjutnya, vaksin DT merupakan vaksin yang terdiri atas toksoid difteri (D) dan tetanus (T) yang dikhususkan untuk anak yang memiliki reaksi alergi terhadap vaksin pertusis. Jadi, bisa dikatakan bahwa vaksin ini merupakan pengganti vaksin DTaP, pada kondisi tersebut.

Kedua vaksin difteri tersebut ditujukan untuk anak berusia 2 bulan hingga 7 tahun, yang diberikan secara bertahap. Tahap pertama dimulai ketika anak berusia 2 bulan, lalu 3 bulan, 4 bulan, selanjutnya pada usia 1 tahun dan kemudian 5 tahun.

Baca Juga: Ini Waktu yang Tepat Beri Anak Vaksin Difteri

2. Vaksin Difteri Tdap dan Td

Tdap merupakan singkatan dari tetanus, difteri, dan aselular pertusis, sedangkan Td adalah singkatan dari tetanus dan difteri. Kedua vaksin itu merupakan jenis vaksin lanjutan yang biasanya diberikan setelah seorang anak mendapatkan serangkaian vaksinasi DTaP atau DT awal secara lengkap. 

Vaksin Tdap dan Td umumnya diberikan ketika anak sudah berusia 10-16 tahun, lalu diulangi lagi setiap 10 tahun sebagai penguat atau booster. Selain untuk anak-anak di usia tersebut, vaksin Tdap dan Td juga diberikan untuk orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin difteri ketika usia anak-anak, petugas medis di rumah sakit, dan wanita hamil.

Sama seperti jenis DTaP dan DT, vaksin Tdap dan Td juga direkomendasikan untuk diulang setiap 10 tahun sekali. Hal ini dikarenakan kekebalan tubuh yang bisa saja menurun seiring berjalannya waktu. Nah, jika kamu memerlukan informasi lebih lanjut tentang vaksin difteri, kamu bisa bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk mendapatkan vaksin difteri, jika kamu memerlukannya.

Berdasarkan penjelasan keempat jenis vaksin difteri tadi, dapat diketahui bahwa kedua kelompok vaksin itu memiliki kandungan yang sama. Lalu, apa yang menjadi perbedaan keduanya, sehingga singkatan yang digunakan dan peruntukan usianya berbeda?

Baca juga: Sedang Mewabah, Kenali Gejala Difteri dan Cara Mencegahnya

Begini, huruf besar “T” memiliki arti bahwa vaksin tersebut mengandung toksoid tetanus dalam jumlah atau kadar yang sama besarnya. Namun, huruf “D” dan “P” ada yang ditulis besar dan kecil. Apakah artinya? Sama seperti huruf “T”, penggunaan huruf besar pada d dan p memiliki arti bahwa vaksin memiliki kadar toksoid difteri dan antigen pertusis yang tinggi.

Sementara itu, pada vaksin yang huruf “d” dan “p” kecil, memiliki arti bahwa vaksin tersebut memiliki kadar toksoid difteri dan antigen pertusis yang rendah. Hal ini karena jenis vaksin berkadar rendah tersebut hanya digunakan sebagai tambahan atau penguat, yang diberikan pada anak berusia lebih dari 7 tahun dan orang dewasa.

Perlu diketahui bahwa tingkat keberhasilan vaksin difteri adalah 90 persen, jika diberikan secara lengkap dan berulang. Oleh karena itu, setiap orang (baik anak-anak di bawah usia 7 tahun ataupun orang dewasa) perlu mendapatkan vaksin difteri, untuk mencegah penyebaran penyakit berbahaya ini.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. DTaP and Tdap Vaccines