Bikin Susah Beraktivitas, Distonia Rentan Sebabkan Depresi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Bikin Susah Beraktivitas, Distonia Rentan Sebabkan Depresi

Halodoc, Jakarta - Distonia adalah penyakit yang membuat otot pengidapnya bergerak tanpa kendali. Kondisi ini bisa terjadi pada salah satu otot atau pada seluruh tubuh. Pengidap distonia dikenali dengan postur tubuh yang aneh dan gemetar atau tremor. Karena kondisi ini, terjadi komplikasi seperti kesulitan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari karena memiliki hambatan dalam bergerak, kesulitan menelan atau berbicara, kesulitan dalam melihat, bahkan masalah psikologis seperti gangguan kecemasan atau depresi.

Baca juga: Makan Sehat Bisa Turunkan Risiko Depresi

Penyebab Distonia

Meskipun masih jarang dan belum ditemukan kasusnya di Indonesia, tapi kamu wajib tahu hal-hal apa saja yang memicu seseorang terserang gangguan ini. Sayangnya hingga kini, peneliti belum menemukan penyebab pasti, tetapi hal ini diduga berkaitan erat dengan kelainan genetik yang diturunkan.

Beberapa hal lain bisa memicu terjadinya distonia, seperti:

  • Gangguan pada sistem saraf, contohnya penyakit Parkinson, multiple sclerosis, lumpuh otak (cerebral palsy), tumor otak, dan stroke.

  • Infeksi, seperti HIV dan radang otak (ensefalitis).

  • Penyakit Wilson.

  • Penyakit Huntington.

  • Obat-obatan, seperti obat untuk mengobati skizofrenia dan anti-kejang.

  • Cedera kepala atau tulang belakang.

  • Penggunaan obat donepezil pada pengidap penyakit Alzheimer diduga dapat memicu distonia pada leher.

Baca Juga: Mutasi Genetik Bisa Sebabkan Dystonia di Usia Muda

Gejala Distonia

Penyakit ini muncul dengan gejala yang ringan seperti kontraksi otot yang tidak disengaja. Kondisi ini terjadi pada otot kepala, wajah, dan tubuh. Selain itu, gejala distonia dimulai perlahan dan berkembang semakin parah seiring berjalannya waktu.

Otot yang terpengaruh oleh penyakit ini adalah otot leher. Kejang pada leher memiliki kecenderungan menggerakan leher ke samping atau dalam gerakan menyentak berulang kali. Jika distonia berkembang menjadi lebih parah, atau pada tingkat tertinggi, maka akan memengaruhi bahu, lengan, dan kaki.

Dalam beberapa kasus yang jarang, distonia menyerang otot wajah bahkan memengaruhi kelopak mata. Akibatnya pengidap dystonia mengalami kebutaan akibat tidak bisa membuka kelopak mata. Distonia juga memengaruhi pita suara, sehingga seseorang akan berbicara dengan suara berbisik yang tegang.

Meskipun jarang, sebaiknya segera menemui dokter jika salah satu gejala seperti yang disebutkan di atas kamu alami. Jika kondisi ini dibiarkan, ada risiko komplikasi seperti cacat fisik permanen, kebutaan fungsional, masalah berbicara, nyeri dan kelelahan kronis. Perlu diperhatikan meski distonia adalah jenis penyakit kronis, ia tidak memengaruhi kecerdasan seseorang.

Pengobatan Distonia

Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan distonia. Namun, cara ini bisa dilakukan untuk mengurangi gejala dan tingkat keparahannya, yakni:

  • Pemberian obat-obatan. Beberapa obatan diresepkan dokter guna mempengaruhi sinyal di otak. Obat tersebut antara lain Trihexyphenidyl, Diazepam, Lorazepam, Baclofen dan Clonazepam.

  • Suntikan botox (botulinum toxin). Obat ini langsung disuntikkan pada area yang terkena dan perlu diulang setiap 3 bulan.

  • Fisioterapi. Dokter juga menyarankan untuk melakukan fisioterapi, untuk melatih kembali otot yang terserang distonia.

  • Operasi. Jenis operasi yang disarankan dokter adalah memasang alat khusus untuk mengalirkan arus listrik ke otak (deep brain stimulation), atau memotong saraf yang mengatur otot yang terkena (selective denervation and surgery).

Baca Juga: Bagaimana Gangguan Otot Distonia Diobati?

Kalau ingin mengetahui pengobatan dan pencegahan penyakit distonia, kamu bisa tanyakan langsung ke  Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup  download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Talk to a Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.