09 October 2018

Bukan Demam Biasa, Anak Kena Disentri Jangan Diabaikan

Bukan Demam Biasa, Anak Kena Disentri Jangan Diabaikan

Halodoc, Jakarta - Demam memang terkadang bukanlah gejala penyakit serius, melainkan salah satu mekanisme alami tubuh dalam melawan virus dan bakteri yang masuk. Namun, jika demam pada anak disertai dengan gejala lain, seperti diare yang bercampur lendir dan darah, jangan diabaikan, ya. Sebab, bisa jadi itu merupakan tanda bahwa anak terserang disentri.

Disentri merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya peradangan pada usus atau sistem pencernaan akibat infeksi bakteri, yang ditandai dengan gejala buang air besar yang encer, disertai darah dan lendir. Meski bisa menyerang siapa saja, anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini, ketimbang orang dewasa. Pada beberapa kasus, disentri dapat menjadi penyakit yang mengancam jiwa, jika tidak segera ditangani.

Pada bayi, disentri yang berujung pada dehidrasi dapat menjadi sangat berbahaya. Bahkan di Indonesia, dehidrasi yang disebabkan oleh disentri menjadi penyebab kematian tertinggi. Pemberian ASI dan asupan nutrisi lain yang cukup, menjadi salah satu penanganan yang disarankan ketika bayi terkena disentri.

Berdasarkan penyebabnya, disentri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu disentri basiler dan amoeba. Disentri basiler merupakan disentri yang disebabkan oleh infeksi bakteri jenis shigella. Bakteri ini merupakan jenis bakteri penyebab disentri yang paling sering menyerang bayi dan anak-anak. Sementara itu, disentri amoeba merupakan disentri yang disebabkan oleh infeksi amoeba atau parasit bersel satu.

Infeksi bakteri dan parasit penyebab disentri itu biasanya ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, melalui tangan, serta peralatan makan yang tidak dibersihkan dengan baik. Itulah mengapa penyakit ini banyak menjangkiti orang-orang yang tinggal di daerah dengan tingkat kebersihan buruk.

Tanda dan Gejala Disentri

Secara umum, disentri biasanya membutuhkan waktu sekitar 5-7 hari hingga benar-benar sembuh. Sementara gejalanya biasanya akan mulai muncul sekitar 1 hingga 2 hari setelah terinfeksi bakteri. Pada kasus yang terjadi pada anak, diare yang menjadi salah satu gejala utama penyakit ini akan menjadi sangat serius dan memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Selain diare yang disertai lendir dan darah, penyakit ini juga memiliki beberapa gejala lain, seperti demam, mual, muntah, dan kram Perut.

Pengobatan di Rumah yang Dapat Dilakukan

Diare dan muntah yang terus-menerus akan membuat anak yang terkena disentri sangat rentan mengalami dehidrasi. Jika beberapa gejala tadi berangsur parah dan disertai adanya penurunan berat badan secara drastis, bantuan medis tentu saja menjadi hal yang penting untuk segera didapatkan.

Namun, jika disentri yang terjadi belum terlalu parah, atau dokter menyarankan anak untuk dirawat di rumah saja dengan memberikan obat-obatan, orangtua perlu melakukan langkah-langkah perawatan di rumah berikut ini:

1. Cukupi Kebutuhan Cairan

Diare dan muntah yang dialami anak akan membuat cairan tubuhnya berkurang. Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, penting untuk memperhatikan kecukupan asupan cairan tubuh, dengan memberi anak minum yang cukup. Semakin sering buang air besar, maka semakin banyak air putih yang perlu diberikan pada anak.

2. Perbanyak Istirahat

Tubuh membutuhkan istirahat yang cukup untuk melawan berbagai jenis penyakit. Pun halnya disentri. Istirahat yang cukup akan sangat membantu proses penyembuhan.

3. Jaga Kebersihan

Karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri, salah satu langkah yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah menjaga kebersihan, terutama peralatan makan. Jika disentri terjadi pada bayi, menjaga kebersihan popok juga penting untuk dilakukan.

Jika kamu membutuhkan diskusi lebih lanjut dengan ahlinya tentang penanganan disentri, kamu bisa manfaatkan fitur Contact Doctor pada aplikasi Halodoc, yang dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat secara online, kapan dan di mana saja, hanya dengan men-download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Google Play Store.

Baca juga: