24 March 2019

Cara Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium yang Sebaiknya Diketahui

Cara Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium yang Sebaiknya Diketahui

Halodoc, Jakarta - Sindrom polikistik ovarium atau PCOS (polycystic ovary syndrome) adalah kondisi saat fungsi ovarium pada wanita yang berada di usia subur mengalami gangguan. Akibatnya, hormon wanita yang mengidap PCOS jadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui.

Mereka yang mengidap penyakit ini memiliki tanda-tanda awal PCOS seperti masa ovulasi atau subur yang tidak beraturan, meningkatnya kadar hormon pria (androgen) dalam tubuh wanita, dan munculnya banyak kista (kantong berisi cairan) pada ovarium. Jika seorang wanita memiliki setidaknya dua dari tiga gejala di atas, maka ia dapat mengidap sindrom polikistik ovarium.

Selain tiga tanda di atas, gejala-gejala yang terjadi pada pengidap sindrom polikistik ovarium akan semakin tampak ketika wanita memasuki usia 16 sampai 24 tahun. Beberapa gejala yang muncul adalah:

  • Menstruasi tidak teratur. Dalam setahun frekuensi menstruasi lebih sedikit, atau jumlah darah yang dikeluarkan saat menstruasi lebih banyak.

  • Pertumbuhan rambut yang berlebihan, biasanya di punggung, bokong, wajah, atau dada.

  • Kulit berminyak dan berjerawat.

  • Kerap mengalami depresi, perubahan suasana hati, mengalami kecemasan hingga gangguan makan.

  • Kesulitan untuk hamil.

  • Rambut kepala rontok atau menipis.

  • Berat badan bertambah.

Baca Juga: 5 Pemeriksaan Medis Ini Sebaiknya Dilakukan Sebelum Nikah

Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium

Cara memastikan apakah seorang wanita mengidap sindrom polikistik ovarium atau tidak, maka perlu dilakukan diagnosis mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang muncul. Ini langkah untuk mendiagnosis sindrom polikistik ovarium antara lain:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter mencatat beberapa informasi penting tentang tubuh penderita seperti tinggi badan, berat badan, tekanan darah, keadaan kulit, menghitung indeks massa tubuh, memeriksa payudara, perut, dan kelenjar tiroid. Dokter juga memeriksa organ reproduksi wanita.

  • Tes darah. Pengidap diminta untuk menjalani tes darah untuk mengukur kadar hormon, kadar gula darah dan tingkat kolesterol.

  • Tes ultrasound. Tes ini memperlihatkan jumlah kista dalam ovarium dan ketebalan dinding uterus.

Kemudian dokter bisa menyimpulkan melalui hasil pemeriksaan di atas. Jika seseorang positif mengalami sindrom polikistik ovarium, ia wajib menerima perawatan. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini berisiko menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Diabetes tipe 2.

  • Sindrom metabolik.

  • Tekanan darah tinggi termasuk hipertensi pada masa kehamilan.

  • Perlemakan hati non-alkoholik.

  • Meningkatnya kadar kolesterol darah.

  • Infertilitas.

  • Sleep apnea.

  • Kadar lemak darah tidak normal.

  • Gangguan menstruasi berupa perdarahan abnormal dari rahim.

Baca Juga: Wanita Berkumis, Masalah Kesehatan atau Hormon?

Pengobatan Sindrom Polikistik Ovarium

Sayangnya penyakit ini tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikendalikan. Ini upaya untuk menangani gejalanya yaitu:

  • Perubahan Gaya Hidup. Teruntuk pengidap sindrom polikistik ovarium yang mengidap obesitas, kamu bisa mulai untuk menurunkan berat badan. Selain itu, penting untuk menghentikan kebiasaan merokok, karena wanita perokok memiliki kadar hormon androgen lebih tinggi dibanding wanita non-perokok.

  • Pembedahan. Pembedahan kecil yang disebut Laparoscopic Ovarian Drilling (LOD) dilakukan untuk menangani masalah kesuburan.

  • Terapi Hormon. Untuk pengidap penyakit ini namun sedang tidak merencanakan kehamilan, ia bisa melakukan terapi hormon. Terapi ini bisa menormalkan siklus menstruasi, mencegah kanker uterus, pertumbuhan rambut yang berlebihan, munculnya jerawat, dan rontoknya rambut kepala.

Baca Juga: 3 Masalah Rahim yang Sering Dialami Oleh Wanita

Itu tadi hal yang kamu wajib tahu tentang sindrom polikistik ovarium yang perlu diwaspadai oleh wanita usia subur. Jika kamu memerlukan informasi seputar masalah kewanitaan, kamu bisa menanyakan langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Cukup download aplikasi Halodoc di ponsel melalui Google Play Store maupun App Store.