Cara Mendiagnosis Limfoma Non-Hodgkin yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Cara Mendiagnosis Limfoma Non-Hodgkin yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta - Orang-orang dengan sistem imun tubuh yang lemah rentan terserang penyakit. Tidak hanya penyakit ringan, tetapi bisa juga penyakit yang terbilang berbahaya. Termasuk kanker limfoma non-hodgkin, yang terjadi ketika sel kanker tumbuh dan berkembang pada bagian sistem limfatik tubuh. Pada kasus ini, tumor berkembang dari sel darah putih atau limfosit. 

Kanker limfoma non-hodgkin bisa terjadi pada bagian tubuh mana saja dan bisa menyebar ke organ lainnya dalam tubuh. Pasalnya, sel darah putih bisa ditemukan pada bagian limpa, kelenjar getah bening, dan organ-organ tubuh lainnya. Selain orang-orang dengan imunitas lemah, kanker ini sering ditemukan pada lansia pria dibandingkan dengan wanita. 

Baca juga: Bisakah Limfoma Non-Hodgkin Dicegah?

Ketahui Cara Mendiagnosis Limfoma Non-Hodgkin

Limfoma non-hodgkin memiliki banyak jenis. Namun, yang paling umum terjadi adalah limfoma folikuler dan sebaran limfoma sel B. Tentunya, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan supaya bisa memberikan diagnosis yang tepat terkait kanker ini. Selain menanyakan riwayat kesehatan pribadi dan keluarga serta mendeteksi gejala, kanker limfoma non-hodgkin bisa terdeteksi melalui diagnosis berikut ini:

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi pembengkakan pada kelenjar getah bening yang ada di bagian ketiak, pangkal paha, dan leher. Pemeriksaan ini juga dilakukan dengan meraba organ limpa dan hati yang ada di dalam rongga perut. 

  • Pemeriksaan darah. Tes ini dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit serta memeriksa fungsi hati dan ginjal. Pemeriksaan terkait kadar LDH atau enzim lactate dehydrogenase juga bisa dilakukan, karena pada beberapa pasien kanker limfoma non-hodgkin, kadar LDH cenderung meningkat. 

  • Biopsi pada kelenjar getah bening. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pengambilan sampel sebagian atau seluruh kelenjar getah bening untuk dilakukan pengamatan di laboratorium. Hasilnya mengindikasikan apakah ada kanker limfoma non-hodgkin atau tidak. 

  • Aspirasi pada sumsum tulang. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyebaran dari limfoma ke sumsum tulang belakang. Tes dilakukan dengan mengambil sampel jaringan dan darah pada sumsum tulang yang terletak pada tulang panggul dekat pantat. 

  • Pencitraan. Beberapa pemeriksaan pencitraan ini termasuk USG, PET Scan, CT Scan, MRI, dan foto rontgen. 

Baca juga: Waspada, Ini Komplikasi Kanker Limfoma

Penyebab dan Gejala Kanker Limfoma Non-Hodgkin

Limfoma non-hodgkin terjadi karena tubuh memroduksi terlalu banyak limfosit di dalam darah. Limfosit yang berlebih ini akan mengalami penumpukan pada kelenjar getah bening, sehingga terjadi pembengkakan dan membentuk tumor. Sayangnya, tumor ini terus berkembang dan memengaruhi sel yang berada di sekitarnya. 

Gejala yang sering dirasakan ketika seseorang terserang limfoma non-hodgkin adalah mengeluarkan keringat berlebihan pada malam hari, berat badan menurun, nyeri pada perut dan dada, batuk, mengalami kesulitan bernapas, demam, dan terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di selangkangan, ketiak, leher, atau pada bagian tubuh yang lain. 

Kondisi ini semakin berisiko ketika seseorang mengonsumsi obat-obatan yang bekerja dengan menekan sistem imunitas tubuh, mengalami infeksi karena bakteri dan virus, dan paparan bahan kimia berlebihan. Jika kamu merasa ada gejala yang mengarah pada limfoma non-hodgkin, segera buat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc agar lebih mudah terkoneksi dengan dokter. 

Baca juga: Kanker Limfoma, Apakah Bisa Sembuh?

Referensi: 
American Cancer Society. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin Lymphoma.
Healthline. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin Lymphoma.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin Lymphoma.