18 September 2018

Cara Mengobati Anemia Pernisiosa

Anemia Pernisiosa, penyakit anemia pernisiosa, pencegahan anemia pernisiosa, penyakit anemia

Halodoc, Jakarta - Anemia pernisiosa adalah suatu keadaan ketika tubuh tidak mampu menghasilkan sel darah merah sehat yang cukup. Kondisi ini disebabkan karena tubuh kekurangan vitamin B12 dan asupan asam folat.

Vitamin B12 adalah nutrisi yang didapatkan dari beberapa jenis makanan, seperti daging, ikan, dan produk susu. Tubuh membutuhkan nutrisi tersebut untuk membuat sel-sel darah merah yang sehat dan menjaga sistem saraf agar bekerja dengan optimal.

Tubuh pengidap anemia pernisiosa tidak mampu menyerap cukup vitamin B12 dari makanan. Hal itu karena tidak adanya faktor intrinsic atau protein yang dibuat oleh tubuh. Kekurangan protein tersebut menyebabkan tubuh kekurangan vitamin B12.

Anemia mempunyai 4 pengelompokkan berdasarkan penyebabnya. Jenis-jenis anemia tersebut yaitu anemia aplasi, anemia defisiensi zat besi, anemia megaloblastik, dan anemia mieloftitis. Anemia pernisiosa termasuk ke dalam jenis anemia megaloblastik.

Gejala-gejala Anemia Pernisiosa

Penyakit anemia pernisiosa umumnya diderita oleh seseorang dengan usia di atas 30 tahun. Gejala-gejala yang biasanya dirasakan oleh pengidap anemia pernisiosa ialah mudah lelah, wajah pucat, hilang nafsu makan, berat badan menurun, mudah terengah-engah, serta kesemutan hingga mati rasa di area tangan dan kaki.

Pengobatan Anemia Pernisiosa

Anemia Pernisiosa dapat diobati dengan pemberian suplemen dengan dosis tinggi yang mengandung vitamin B12. Pemberian vitamin B12 dapat membuat pengidap kembali sehat karena tubuh akan memproduksi lebih banyak sel darah merah. Dengan begitu, gejala-gejalanya pun akan ikut menghilang.

Namun, ada beberapa orang yang harus mengambil suplemen sepanjang hidup untuk mencegah agar tidak kekurangan vitamin B12. Pada awalnya, pengidap anemia pernisiosa akan mendapatkan suntikan vitamin B12 dengan dosis tinggi berkisar 100 sampai 1.000 mikrogram.

Suntikan tersebut biasanya diberikan setiap hari atau dua hari selama 2 minggu atau setiap 1 sampai 3 bulan sekali. Alternatif lainnya yaitu mengonsumsi pil dosis tinggi yaitu 1.000-2.000 miligram per hari. Suntikan ini sangat diperlukan untuk mengembalikan tubuh menjadi normal.

Pada umumnya, anemia pernisiosa ini tidak didiagnosis hingga menjadi semakin parah. Jika semakin parah, pengidap mungkin memerlukan transfusi darah. Para dokter akan memeriksa kembali tingkat vitamin B12 dalam darah untuk beberapa bulan guna memastikan pengobatan yang diberikan bekerja dengan baik.

Pencegahan Anemia Pernisiosa

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah anemia pernisiosa yaitu dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B12, seperti daging, susu, keju, ayam, kalkun, dan telur.

Selain itu, mengonsumsi banyak makanan yang mengandung asam folat yang merupakan jenis lain dari vitamin B. Kandungan asam folat terdapat pada sayuran berdaun hijau, buah jeruk, dan sereal. Usahakan menghindari minuman beralkohol saat melakukan pengobatan, karena alkohol dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12.

Pengobatan Lanjutan Anemia Pernisiosa

Gejala-gejala anemia pernisiosa biasanya membaik dengan cepat setelah dimulainya pengobatan. Pengidap pun disarankan tetap melakukan tes darah setiap tahun. Hal tersebut untuk memeriksa bahwa anemia berhasil diobati atau tidak.

Tes darah juga dapat dilakukan untuk melihat apakah kelenjar tiroid telah bekerja dengan baik. Jika seseorang mengidap anemia pernisiosa, risiko untuk terkena kanker perut juga meningkat. Selain itu, risiko untuk mengalami kanker lambung tiga kali lebih besar.

Itulah cara untuk mengobati anemia pernisiosa. Jika kamu butuh untuk melakukan pengecekan darah, Halodoc menyediakan layanan lab yang bisa kamu pesan. Cara pesannya adalah melalui aplikasi Halodoc yang dapat di-download di Apps Store atau Play Store!

Baca juga: