• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Darah pada Urine, Benarkah Gejala dari Cystitis?

Darah pada Urine, Benarkah Gejala dari Cystitis?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar istilah cystitis? Kondisi ini adalah peradangan yang terjadi di kandung kemih dan menimbulkan rasa nyeri saat buang air kecil. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri yang juga menjadi penyebab dari infeksi saluran kemih (ISK).

Kondisi ini bisa dialami oleh pria atau wanita. Meski demikian, wanita lebih rentan mengalaminya karena memiliki lubang kencing yang lebih pendek dan berdekatan dengan anus. Apa gejala cystitis yang ditimbulkan? Berikut ulasan selengkapnya!

Baca juga: Tidak Hanya Wanita, Pria Juga Bisa Terkena Cystitis

Benarkah Darah pada Urine Menjadi Gejala Cystitis?

Gejala cystitis pada setiap pengidap akan berbeda-beda dan bervariasi. Salah satu gejala cystitis yang perlu diwaspadai adalah adanya kandungan darah pada urine. Bukan hanya itu saja, berikut gejala cystitis selengkapnya:

  • Meningkatnya frekuensi buang air kecil, dengan jumlah urine yang sedikit.

  • Rasa sakit atau perih saat buang air kecil.

  • Kram perut bagian bawah.

  • Nyeri saat berhubungan intim.

  • Urine berwarna keruh.

  • Urine berbau menyengat.

  • Merasa lemas.

  • Demam.

Berbeda dengan orang dewasa, gejala cystitis pada anak akan ditandai dengan demam, sering mengompol atau buang air kecil, sakit perut, lemas pada tubuh, anak menjadi rewel, penurunan nafsu makan, serta muntah-muntah. Jika anak mengalami serangkaian gejalanya, segera temui dokter di rumah sakit terdekat guna menemukan langkah penanganan yang tepat, ya! terutama jika gejala tidak juga membaik setelah 3 hari lamanya.

Baca juga: Harus Tahu, 6 Langkah Sederhana untuk Mencegah Cystitis

Kenali Lebih Jauh Apa yang Menjadi Penyebab Cystitis

Cystitis merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan adanya peradangan pada kandung kemih, yang biasanya disebabkan oleh bakteri E.coli. Sebenarnya bakteri ini tidak berbahaya jika berada dalam usus, tapi saat bakteri masuk ke dalam kandung kemih, bakteri akan menyebabkan peradangan di dalamnya. Selain bakteri E.coli, ini yang menjadi faktor risiko cystitis:

  • Kebiasaan membersihkan organ intim dari anus ke arah vagina (dari belakang ke depan).

  • Mengidap penyakit batu kandung kemih, infeksi saluran kemih, atau pembesaran prostat.

  • Mengidap diabetes.

  • Menggunakan sabun dengan kandungan pewangi.

  • Menggunakan kateter urine jangka panjang.

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Saat kamu mengalami serangkaian gejala ringan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan guna mengurangi gejala. Beberapa di antaranya adalah jangan menahan buang air kecil, perbanyak minum air putih, kompres perut dengan air hangat, jangan menggunakan sabun dengan kandungan parfum, serta jangan melakukan hubungan seksual sampai benar-benar sembuh.

Baca juga: Wanita Rentan Alami Cystitis, Ini Alasannya

Langkah Pencegahan Cystitis

Pada kasus yang ringan, cystitis tidak membutuhkan pengobatan karena dapat sembuh dengan sendirinya. Meski demikian, penyakit ini masih bisa dicegah dengan menerapkan beberapa langkah mandiri berikut ini:

  • Jangan sering menahan buang air kecil.

  • Jangan membersihkan organ intim dengan sabun mengandung parfum.

  • Jangan menggunakan bedak pada kemaluan.

  • Biasakan buang air kecil setelah berhubungan intim.

  • Membersihkan area kelamin dari arah depan ke belakang.

  • Jangan menggunakan celana ketat.

  • Sering ganti celana dalam.

  • Minum air putih dalam jumlah yang cukup.

Cystitis bukanlah infeksi yang serius, tapi akan mengganggu pengidapnya. Untuk kasus yang ringan, penyakit ini akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, pada beberapa kasus berulang, pengidap akan membutuhkan pengobatan jangka panjang guna mencegah komplikasi lanjutan, seperti infeksi ginjal.

Referensi:
NHS. Diakses pada 2020. Cystitis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Cystitis.
MedlinePlus. Diakses pada 2020. Cystitis – Acute.