Depresi dan Bipolar, Apa Perbedaannya?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Depresi dan Bipolar, Apa Perbedaannya?

Halodoc, Jakarta - Gangguan bipolar sering salah arti dan disebut sebagai depresi karena gejalanya yang mirip. Keduanya masuk dalam kategori penyakit kejiwaan namun jelas memiliki perbedaan yang nyata. Depresi erat kaitannya dengan perubahan suasana hati. Gangguan kejiwaan ini bisa menyebabkan perasaan sedih dan putus asa yang berpengaruh pada waktu tidur dan pola makan. Tanpa penanganan, orang-orang dengan depresi akut bisa berujung dengan percobaan bunuh diri.

Berbeda dengan bipolar yang terkadang disebut dengan manik depresi. Perubahan hati pada pengidap bipolar jauh lebih ekstrem. Bahkan, pasang surut ini tidak berkaitan dengan apa pun yang sedang kamu alami. Dalam satu waktu, kamu bisa merasa begitu bersemangat, bahagia, dan energi. Namun, kamu bisa langsung mengalami rasa sedih, cemas, hingga kalut di waktu yang berdekatan.

Jenis Depresi dan Bipolar

Ternyata, keduanya juga memiliki jenis yang berbeda. Berikut jenis depresi yang harus kamu ketahui, yaitu:

  • Depresi yang berlangsung lebih dari 2 tahun, disebut dengan gangguan depresi persisten.

  • Depresi pasca melahirkan. Depresi yang dialami setelah ibu melahirkan ini dapat membuat seorang ibu tidak mampu merawat bayinya.

  • Depresi musiman, yang terjadi hanya ketika musim tertentu. Tipe ini disebut juga depresi mayor dengan pola musiman.

Baca juga: Peran Keluarga dalam Menangani Gangguan Bipolar

Sementara untuk jenis bipolar, antara lain:

  • Bipolar 1, kondisi ketika kamu mengalami depresi berat setidaknya satu episode manik. Gangguan bipolar jenis ini terjadi bergantian antara depresi dan manik.

  • Bipolar 2, kondisi ketika kamu mengalami satu kali episode depresi berat dan satu periode hipomania, merupakan bentuk mania yang lebih ringan.

  • Gangguan siklotimik, ciri utamanya yaitu gangguan mood kronis dan fluktuatif yang melibatkan banyak gejala hipomanik dan periode gejala depresi yang berbeda satu sama lain.

Penanganan Depresi dan Bipolar

Antidepresan adalah pengobatan utama untuk pengidap depresi. Terapi bicara bisa menjadi alternatif yang tepat. Dokter sering merekomendasikan untuk melakukan terapi perilaku kognitif. Pada beberapa kasus depresi, terapi keluarga jelas lebih menunjukkan bukti nyata. Jika memungkinkan, lakukan teknik pernapasan dan berbagai teknik relaksasi untuk mengurangi ketegangan.

Baca juga: 7 Mitos Bipolar yang Harus Diketahui

Jika menggunakan obat-obatan, ada beberapa jenis obat yang membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu untuk menunjukkan efeknya. Namun, semua obat memiliki potensi efek samping yang cukup serius. Jadi, jika kamu berencana untuk menghentikan pengobatan, pastikan kamu sudah berdiskusi dengan dokter.

Sementara itu, dokter menggunakan penstabil suasana hati untuk mengobati gangguan bipolar. Namun, tidak dengan antidepresan, yang dapat memperburuk terjadinya mania. Jika diperlukan, dokter juga meresepkan untuk dilakukan pengobatan lain, seperti PTSD atau gangguan kecemasan. Apabila kamu punya kecemasan berlebih, benzodiazepin bisa membantu meringankan, tetapi tetap hati-hati dalam pemakaiannya.

Baca juga: Jangan Diabaikan, 8 Tanda Fisik Terkena Depresi

Berbagai obat jenis antipsikotik baru dan telah dinyatakan aman penggunaannya oleh dokter bisa dicoba untuk mengatasi gangguan bipolar. Selalu bicarakan pada dokter tentang pengobatan yang kamu jalani untuk mengatasi masalah kejiwaan ini.

Itu tadi perbedaan antara depresi dan bipolar dari penjelasan penyakit, jenis, hingga bagaimana mengatasinya. Gejalanya yang mungkin mirip sehingga kedua penyakit ini sering disebut sama, padahal ternyata tidak. Jadi, jika kamu merasa ada salah satu gejala pada diri, segera tanyakan pada dokter untuk mendapatkan diagnosis yang lebih akurat. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya langsung pada dokter. Caranya, download aplikasi Halodoc dan pilih layanan Tanya Dokter. Semoga bermanfaat.