• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Efek Jangka Panjang Infeksi COVID-19 Terhadap Jantung

Efek Jangka Panjang Infeksi COVID-19 Terhadap Jantung

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Per hari ini (28/4), ada sebanyak 9,096 kasus terkonfirmasi, dengan angka positif sebanyak 1,151 orang, dan kematian sebanyak 765 orang. Dengan lebih banyak orang yang sembuh dari infeksi virus corona, bukan berarti kamu telah sembuh total meskipun dokter menyatakan kamu telah negatif terinfeksi COVID-19. Apa efek jangka panjang infeksi COVID-19 terhadap kesehatan tubuh?

Baca juga: Mitos atau Fakta, Berenang Bisa Tularkan Virus Corona?

Efek Jangka Panjang Infeksi COVID-19 Terhadap Kesehatan Jantung

Sekitar 20 persen pengidap virus corona di Tiongkok mengalami kerusakan jantung selama dirawat di rumah sakit. Fakta tersebut ditemukan pada sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan. Studi lain menemukan bahwa sekitar 16 persen pengidap mengalami aritmia.

Tidak sampai di situ saja, laporan lain menunjukkan bahwa pengidap mengalami gagal jantung akut, serta serangan jantung setelah dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona. Mereka yang sudah memiliki penyakit bawaan sebelum terinfeksi virus corona bisa saja mengalami miokarditis, serta peradangan otot jantung.

Baca juga: Ini 3 Asupan Makanan yang Sebaiknya Dihindari saat Corona

Organ Lain yang Terkena Dampak

Bukan hanya organ jantung saja yang terkena dampaknya, berikut efek jangka panjang infeksi COVID-19 terhadap organ lain dalam tubuh:

  • Paru-paru

Pengidap COVID-19 yang sudah memiliki sindrom gangguan pernapasan sebelumnya bisa saja mengalami sindrom gangguan pernapasan akut setelah dinyatakan sembuh dari virus corona. Jika hal tersebut terjadi, kehilangan nyawa merupakan risiko paling parah yang bisa saja dialami oleh pengidap, karena mereka bisa mengalami kegagalan pernapasan yang disebut dengan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

ARDS akan membuat mereka menggunakan alat bantu bernapas yang disebut dengan ventilator. Alat bantu napas tersebut secara signifikan mampu mengurangi kualitas hidup seseorang. Bukan hanya itu saja, penggunaan ventilator dalam waktu yang lama juga mampu meninggalkan jaringan parut di organ paru-paru.

Efek jangka panjang infeksi COVID-19 pada organ paru dapat terjadi karena pengidap mengalami penurunan fungsi paru-paru sebanyak 20-30 persen setelah fase pemulihan.

  • Ginjal

Kelainan ginjal telah terlihat pada persentase 25-50 persen pengidap yang telah memiliki penyakit pada ginjal sebelum terinfeksi virus corona. Pengidap tersebut akan memiliki lebih banyak protein dan sel darah merah dalam urine mereka. Sebanyak 15 persen dari mereka juga mengalami penurunan fungsi filtrasi. Pada beberapa pengidap mereka dapat mengalami cedera ginjal akut.

  • Sistem saraf

Gejala neurologis juga menjadi efek jangka panjang infeksi COVID-19. Virus corona ini dapat menyerang sistem saraf pusat manusia. Jadi saat seseorang sembuh dari virus corona dan memiliki manifestasi neurologis, hal tersebut wajar terjadi. Gejala neurologis terlihat pada 36 persen dari 214 pengidap COVID-19 di Cina. 

Gejala yang tampak termasuk pusing, sakit kepala, serta mengalami gangguan pada indra perasa dan pencium. Untuk waktu berapa lama gejala muncul, hingga artikel ini diterbitkan, belum ada informasi yang menjelaskan mengenai hal tersebut. 

Baca juga: Jenis Sel Manusia yang Rentan Terinfeksi COVID-19 

Untuk lebih jelasnya mengenai efek jangka panjang infeksi COVID-19, kamu dapat bertanya langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya! Di tengah krisis kesehatan dunia saat ini, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, konsumsi banyak air putih, serta kelola stres dengan baik.

Referensi:

The Sun. Diakses pada 2020. The long-term effects of coronavirus on the body – from lung scarring to liver damage.

Huff Post. Diakses pada 2020. The Long-Term Effects Coronavirus May Have On The Body.

Today. Diakses pada 2020. What are the long-term health consequences of COVID-19?