• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Faktor yang Dapat Tingkatkan Risiko Atresia Bilier

Faktor yang Dapat Tingkatkan Risiko Atresia Bilier

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Atresia bilier adalah kelainan gastrointestinal langka yang ditandai dengan hancurnya atau tidak adanya semua atau sebagian saluran empedu yang terletak di luar hati. Saluran empedu adalah sebuah tabung yang memungkinkan empedu mengalir dari hati ke kantong empedu dan kemudian masuk ke usus halus.

Empedu berperan penting dalam pencernaan, pasalnya ia membawa produk limbah dari hati dan membantu penyerapan lemak dan vitamin oleh usus. Bayi yang mengidap atresia bilier akan mengalami penumpukkan empedu di hati. Bayi juga akan mengalami kulit dan bagian putih mata yang menguning (jaundice). Ia juga bisa mengalami jaringan parut hati (fibrosis) jika kondisi ini tidak segera diberikan pengobatan. 

Baca juga: Bayi Lahir Prematur Berisiko Mengidap Atresia Bilier 

Penyebab dan Faktor Risiko Atresia Bilier

Sayangnya, penyebab atresia bilier belum diketahui. Para ahli menduga, kelainan ini terjadi sesaat setelah bayi dilahirkan, yaitu saat saluran empedu tanpa penyebab yang jelas menjadi tertutup. Kondisi ini membuat cairan empedu tersumbat dan menumpuk di hati dan menyebabkan banyak gejala. 

Meski belum diketahui penyebabnya, ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko atresia bilier, antara lain: 

  • Infeksi virus atau bakteri setelah lahir,
  • Paparan zat kimia berbahaya,
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh,
  • Perubahan atau mutasi gen tertentu,
  • Gangguan perkembangan hati dan saluran empedu saat di dalam rahim.

Karena cukup berbahaya, bayi yang mengalami gejala kekuningan harus segera diberikan pengobatan. Kamu juga mendiskusikan terlebih dahulu masalah ini dengan dokter di Halodoc.

Jika dirasa membahayakan, maka dokter akan merujuk kamu untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Rujukan ini dapat dilakukan pada aplikasi Halodoc sehingga kamu tak perlu lama mengantre untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit.

Baca juga: Serba-Serbi Bayi Kuning, Ini yang Perlu Diketahui

Pengobatan Atresia Bilier

Diagnosis dan intervensi bedah yang tepat waktu meningkatkan kondisi bayi secara jangka pendek dan jangka panjang pada banyak bayi yang mengalaminya. Selain itu, perhatian khusus terhadap kebutuhan gizi dan diet penting untuk anak-anak dengan gangguan ini. Suplemen khusus dan pembatasan diet juga mungkin diperlukan.

Pembedahan harus dilakukan untuk menghilangkan obstruksi dan memungkinkan empedu mengalir ke saluran empedu dan usus kecil. Istilah kedokteran menyebutnya operasi Kasai (Kasai hepatoportoenterostomy). Melalui prosedur ini, saluran empedu ekstrahepatik diangkat dan diganti dengan bagian usus kecil bayi yang terkena sehingga membentuk saluran untuk memungkinkan mengalirnya empedu.

Prosedur bedah yang tepat dapat bervariasi sesuai dengan lokasi dan sifat obstruksi. Pada sebagian besar kasus, pengaliran kembali empedu dapat dilakukan dengan prosedur bedah ini. Namun, beberapa anak mungkin mengalami efek gangguan fungsi hati yang bervariasi bahkan setelah operasi berhasil.

Operasi Kasai juga dapat digunakan sebagai prosedur menengah awal untuk mendukung pertumbuhan anak. Transplantasi hati juga mungkin diperlukan dalam banyak kasus. Sementara itu, antibiotik bisa digunakan untuk mengobati infeksi saluran empedu (kolangitis).

Baca juga: Ini Saatnya Pengidap Gagal Hati Harus Lakukan Transplantasi

Komplikasi Atresia Bilier

Perlu diketahui, bayi dengan atresia bilier tidak mampu mencerna lemak dari ASI atau susu formula. Alasannya karena cairan empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak tidak mampu mencapai usus. Kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan bayi. Komplikasi lain dari atresia bilier adalah kekurangan vitamin, terutama vitamin A, D, E, dan K. Dua komplikasi di atas bisa ditangani dengan memberikan makanan khusus, atau obat dan suplemen. 

Ingat, jika bayi dengan kondisi ini tidak segera mendapat pengobatan, ia bisa alami sirosis dalam 6 bulan, dan gagal hati dalam 1 tahun. Jika masih dibiarkan, pada usia 2 tahun bayi penderita atresia bilier bisa memerlukan transplantasi hati karena fungsi hatinya sudah tidak berfungsi dengan semestinya.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.
National Organization for Rare Disorder. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.
WebMD. Diakses pada 2020. What is Biliary Atresia?