Gangguan Memori Jangka Pendek dan Jangka Panjang, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Gangguan Memori Jangka Pendek dan Jangka Panjang, Apa Bedanya?

Halodoc, Jakarta - Memori jangka pendek, jangka panjang, dan memori yang bekerja (working memory) memainkan peran penting dalam hal mengingat, belajar, dan menciptakan sesuatu. Tanpa ada ketiga hal tersebut, tidak mungkin ada evolusi di dunia ini. Ada beberapa faktor yang kemudian menjadikan manusia memiliki gangguan memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Sebenarnya, apa perbedaannya?

Memori Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Memori jangka pendek adalah informasi yang dipikirkan saat ini atau disadari oleh seseorang. Ini juga disebut dengan memori primer atau aktif. Peristiwa terbaru dan data sensorik seperti suara disimpan dalam memori jangka pendek. Memori jangka pendek sering mencakup peristiwa selama periode mana saja dari 30 detik hingga beberapa hari.

Namun, kemampuan otak untuk menyimpan memori jangka pendek menjadi lebih terbatas. Informasi baru mengeluarkan dan mengganti memori jangka pendek di dalam otak. Sementara itu, ingatan jangka panjang memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dan berisi hal seperti fakta, ingatan pribadi, atau nama-nama orang yang mungkin harus diingat.

Baca juga: Belum Tentu Penyakit, Ini Alasan Manusia Mudah Lupa

Memori jangka pendek terjadi di lobus frontal dari kortek serebral. Kemudian, informasi ini berhenti di hippocampus. Lalu, ingatan dipindahkan ke area korteks serebral yang terlibat dalam bahasa dan persepsi untuk penyimpanan permanen.

Gangguan Memori Jangka Pendek

Ketika seseorang mengalami gangguan memori jangka pendek, ia mengingat kejadian 20 tahun yang lalu, tetapi tidak mampu mengingat detail yang terjadi 20 menit sebelumnya.

Ada sejumlah penyebab hilangnya ingatan jangka pendek, beberapa di antaranya merupakan akibat dari kondisi medis dan lainnya dikaitkan dengan cedera atau pengaruh luar. Trauma, aneurisma, tumor otak, stroke, menjadi jenis penyakit yang menyebabkan hilangnya ingatan jangka pendek.

Baca juga: Main Boneka untuk Lansia Bisa Bantu Atasi Penyakit Pikun

Ketika menguji segala jenis kehilangan ingatan, dokter akan melihat riwayat medis dan mungkin mengajukan beberapa pertanyaan untuk menguji ingatan kamu. Pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan adalah pengujian kognitif untuk memeriksa status mental dan kemampuan berpikir. Dokter juga merekomendasikan tes darah untuk mengetahui kadar vitamin B-12 dan penyakit tiroid.

Bergantung pada hasilnya, tes lain mungkin termasuk MRI atau CT Scan kepala dan EEG untuk mengukur aktivitas listrik di otak. Angiografi otak mungkin diperlukan untuk memeriksa aliran darah ke dan dari otak. Jika penyebab gangguan memori jangka pendek karena traumatis, dokter psikolog dapat membantu.

Gangguan Memori Jangka Panjang

Sementara itu, hilangnya ingatan jangka panjang ketika kamu kesulitan mengingat informasi yang telah berlalu dalam waktu yang cukup lama. Ini banyak terjadi pada sebagian besar orang seiring dengan bertambahnya usia, yang artinya adalah proses yang normal dari penuaan.

Akan tetapi, hilangnya memori jangka panjang juga bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius, seperti demensia. Penyebabnya beragam, bisa karena stres, depresi, kurang asupan vitamin B-12, obat-obatan, hingga hidrosefalus. Gejala yang muncul berupa lupa kata-kata yang sifatnya umum digunakan, membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan tugas, perubahan perilaku dan suasana hati.

Baca juga: Mulai Pikun, Adakah Cara Agar Tidak Mudah Lupa?

Diagnosis untuk gangguan memori jangka panjang umumnya tidak jauh berbeda dengan jangka pendek. Pun dalam hal pengobatannya, dilakukan berdasarkan hal yang menjadi penyebab terjadi hilangnya memori jangka panjang ini.

Kamu bisa bertanya pada dokter bagaimana cara mudah mengatasi gangguan memori jangka pendek maupun jangka panjang. Supaya lebih mudah, download dan pakai aplikasi Halodoc, karena aplikasi Halodoc bisa dipakai untuk Tanya Dokter, Beli Obat, dan Cek Lab.