Gejala Difteri pada Anak yang Perlu Ibu Waspadai

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
gejala-difteri-pada-anak-yang-perlu-ibu-waspadai-halodoc

Halodoc, Jakarta – Si Kecil mengalami hidung meler dan suaranya jadi serak? Mungkin ibu mengira Si Kecil mengalami flu, tapi kondisi tersebut bisa juga menjadi gejala dari difteri. Sejak tahun 2017 yang lalu, difteri kembali mewabah di Indonesia. Karena itu, para orangtua dianjurkan untuk menjaga kesehatan anak agar bisa terhindar dari penyakit ini. 

Pasalnya, bila terjadi pada anak-anak, difteri bisa berbahaya, bahkan merenggut nyawa. Yuk, ketahui gejala difteri pada anak yang perlu ibu waspadai di sini.

Mengenal Difteri

Difteri merupakan penyakit yang menyerang selaput lendir hidung dan juga tenggorokan. Bakteri penyebab difteri yang bernama Corynebacterium diphtheria, mampu menghasilkan racun yang merusak jaringan dalam tubuh manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan. Bakteri tersebut bisa masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut, serta luka pada kulit. 

Enggak hanya itu, bakteri ini juga sangat mudah menular dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak fisik dengan pengidap, menggunakan barang yang sudah terkontaminasi bakteri, atau bisa juga melalui percikan ludah dari batuk dan bersin pengidap yang tidak sengaja terhirup.

Anak yang berusia di bawah 5 tahun dan lansia di atas 60 tahun berisiko tinggi mengalami infeksi difteri. Selain itu, mereka yang tinggal di lingkungan pasar dengan sanitasi yang buruk, mengalami malnutrisi, dan belum mendapatkan vaksinasi difteri juga berisiko tinggi terkena penyakit tersebut.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Beragam Gejala Difteri pada Anak

Gejala difteri pada anak biasanya baru muncul sekitar 2–5 hari setelah ia terpapar bakteri penyebab difteri. Pada sebagian orang, difteri hanya menimbulkan gejala ringan yang mirip dengan flu biasa. Sebagian pengidap lainnya malah tidak mengalami gejala apapun.

Namun, gejala difteri yang paling khas adalah terbentuknya lapisan abu-abu tebal pada tenggorokan dan amandel. Lapisan tersebut adalah hasil dari racun yang diproduksi oleh bakteri difteri. Selain itu, gejala difteri lainnya yang juga bisa dialami anak, antara lain:

  • Demam sampai menggigil

  • Sakit tenggorokan dan suara serak

  • Sulit bernapas atau napas menjadi cepat

  • Terdengar suara nyaring saat anak bernapas

  • Lemas dan lelah

  • Detak jantung meningkat cepat

  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher

  • Pembengkakan langit-langit mulut

  • Pilek. Ingus yang keluar awalnya cair, tapi lama-kelamaan mengental dan terkadang ada bercak darah.

Namun, satu hal yang perlu ibu ketahui, gejala difteri pada setiap anak bisa berbeda-beda. Sebab, hal ini tergantung oleh daya tahan tubuh anak dalam melawan bakteri penyebab difteri. Terlepas dari itu, difteri tetap perlu dideteksi dan diobati sedini mungkin. Apabila Si Kecil mengalami gejala difteri di atas, segera periksakan ia ke dokter agar bisa segera mendapatkan pengobatan, sehingga komplikasi bisa dicegah.

Baca juga: Si Kecil Terserang Difteri, Ibu Harus Apa?

Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, racun difteri bisa masuk ke aliran darah dan menyebabkan komplikasi yang serius. Racun tersebut bisa mengganggu kerja jantung, merusak ginjal, dan menyebabkan kerusakan saraf dan kelumpuhan (paralisis). Bahkan bila saluran pernapasan sudah tertutup oleh selaput di tenggorokan, kondisi ini bisa mengancam nyawa pengidapnya.

Baca juga: Difteri Picu Kerusakan Jantung, Kok Bisa?

Itulah beberapa gejala difteri pada anak yang perlu ibu waspadai. Bila Si Kecil sakit, enggak usah panik. Ibu bisa menghubungi dokter dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui fitur Talk to A Doctor untuk minta saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.