Ini Gejala Schistosomiasis yang Dialami Anak

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ini Gejala Schistosomiasis yang Dialami Anak

Halodoc, Jakarta - Tahukah kamu bahwa anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan kognitif bisa disebabkan oleh infeksi cacing yang terlalu lama mengendap ke tubuhnya? Schistosomiasis, penyakit akibat cacing parasit yang rentan menyerang anak-anak, terutama mereka yang tinggal di negara berkembang.

Anak-anak di Indonesia tidak luput dari serangan penyakit ini. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, penyakit dengan nama lain demam keong ini bisa dijumpai di 5 desa di Sulawesi Tengah. Alasan disebut sebagai demam keong, karena penyakit kronis yang disebabkan oleh cacing Schistosoma yang menyebar melalui keong Oncomelania yang ukurannya tidak lebih besar dari bulir padi.

Baca Juga: 3 Jenis Parasit Cacing yang Hidup dalam Tubuh Manusia

Anak Alami Schistosomiasis, Gejala Apa yang Muncul?

Ada banyak variasi saat anak mengalami penyakit ini. Namun, beberapa gejala schistosomiasis yang perlu kamu waspadai antara lain: 

  • Saat cacing pertama kali masuk ke dalam kulit, ia membuat anak merasa gatal dan ruam. Pada kondisi ini, schistosome hancur di dalam kulit;

  • Kemudian muncul demam, menggigil, pembengkakan kelenjar limfa dan hati;

  • Gejala tampak pada sistem pencernaan, seperti sakit perut dan diare yang bisa disertai dengan darah;

  • Anak bisa jadi lebih sering berkemih. terasa sakit, dan muncul  darah.

Penting untuk tidak mengabaikan gejala seperti disebutkan di atas. Kamu bisa menanyakannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter berpengalaman berusaha memberikan saran kesehatan terkait gejala yang kamu alami.

Baca  Juga: Bahaya, Cacing Kremi Bisa Menular

Bisakah Gejala Schistosomiasis pada Anak Semakin Bertambah Parah?

Gejala awal dari penyakit schistosomiasis bisa tidak memiliki gejala. Namun beberapa waktu kemudian muncul masalah lebih serius di bagian tubuh di mana telur telah bepergian. Kondisi ini dikenal schistosomiasis kronis. Schistosomiasis kronis meliputi berbagai gejala dan masalah, tergantung pada area persis yang terinfeksi. Beberapa jenis gejala yang muncul, yaitu: 

  • Muncul anemia, sakit dan bengkak pada perut, diare dan darah pada feses;

  • Terjadi batuk yang tidak kunjung hilang, napas berbunyi, sesak napas, dan batuk darah;

  • Sistem saraf atau otak menyebabkan kejang, sakit kepala, kelemahan dan mati rasa pada kaki dan pusing.

  • Pada kasus kronis, cacing bisa merusak organ internal dengan serius. Pada anak-anak bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan kognitif. 

Apa Hal yang Tingkatkan Faktor Risiko Terserang Schistosomiasis?

Anak yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat rentan terserang penyakit ini. Selain itu,  faktor yang meningkatkan risiko terserang penyakit ini, yaitu: 

  • Sering berenang di danau atau sungai air tawar yang tercemar larva penyebab schistosomiasis;

  • Sering minum air yang tidak di masak sampai matang;

  • Berinteraksi dengan seseorang yang terinfeksi schistosoma seperti makan bersama, menggunakan jamban atau toilet bersama;

  • Kebiasaan buang air besar di sungai.

Bagaimana Cara Tepat Mengobati Schistosomiasis?

Cara untuk mengatasi penyakit ini dengan salah satu obat cacing yang disebut praziquantel. Obat ini efektif dalam penanganannya membasmi telur cacing hingga cacing dewasa serta mencegah terjadi infeksi kembali. Dosis disesuaikan oleh dokter tergantung jenis parasitnya. 

Setelah pengobatan selama tiga minggu, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah atau cek feses untuk memastikan bahwa tidak ada lagi sisa telur penyebab schistosomiasis yang bersarang di tubuh.

Pengobatan harus disertai dengan perubahan gaya hidup menjadi lebih bersih dan sehat. Misalnya, memasak air hingga matang dan mencuci sayur hingga bersih sebelum dimasak. Pastikan juga menjaga kebersihan lingkungan, memakai alas kaki, dan tidak bermain atau mencuci sesuatu di air tawar atau danau tempat berkembang biaknya parasit schistosomiasis.

Baca Juga: 6 Cara untuk Mencegah Schistosomiasis

Referensi:
CDC (2019). Schistosomiasis.
WHO (2019). Schistosomiasis.