06 November 2018

Gejala TIA (Transient Ischaemic Attack) yang Dapat Berakibat Fatal Jika Tidak Segera Ditindak

Gejala TIA (Transient Ischaemic Attack) yang Dapat Berakibat Fatal Jika Tidak Segera Ditindak

Halodoc, Jakarta - Selain stroke yang pastinya membuat semua orang resah, ada pula transient ischemic attack (TIA) yang patut diwaspadai. TIA yang biasa dikenal dengan stroke ringan atau mini stroke adalah keadaan ketika saraf kekurangan oksigen. Hal ini diakibatkan oleh aliran darah dan perfusi jaringan otak yang menyebabkan gejala neurologis yang berlangsung kurang dari 24 jam.

Namun yang perlu diperhatikan, transient ischemic attack merupakan peringatan akan datangnya serangan yang lebih parah. Kata ahli, bila seseorang pernah mengalami TIA, mereka memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terserang stroke dan serangan jantung.

Kondisi ini perlu ditangani tepat, cepat, dan tepat, sebab bila tak ditangani pengidap TIA berisiko mengalami stroke pada tahun berikutnya sebesar 20 persen. Lalu, seperti apa gejala dari transient ischemic attack yang mesti diwaspadai?

Kenali Gejalanya

Menurut ahli, gejala yang mengindikasikan TIA kebanyakan terjadi secara tiba-tiba. Gejalanya juga serupa dengan indikasi awal yang dialami oleh pengidap stroke. Nah, berikut gejala-gejalanya:

  • Salah satu sisi mulut dan wajah penderita terlihat turun.

  • Cara bicara jadi kacau dan tidak jelas.

  • Salah satu sisi mulut dan wajah terlihat turun.

  • Pusing dan linglung.

  • Lengan atau kaki mengalami kelumpuhan atau sulit diangkat.

  • Setelah kaki atau lengan, diikuti kelumpuhan di satu sisi tubuh.

  • Kesulitan menelan.

  • Kehilangan keseimbangan atau koordinasi tubuh.

  • Diplopia (pandangan ganda).

  • Mati rasa.

  • Pandangan menjadi kabur atau kebutaan.

  • Kesulitan memahami kata-kata orang lain.

Menurut para ahli, dalam 70 persen kasus gejala TIA bisa hilang kurang dari 10 menit atau 90 persen akan hilang kurang dari empat jam.

Awasi Penyebabnya

Umumnya, stroke mini ini disebabkan karena gumpalan berukuran kecil yang tersangkut dalam pembuluh darah otak. Gumpalan tersebut bisa saja berupa gelembung udara atau lemak. Nah, penyumbatan ini nantinya akan menghambat aliran darah dan memicu kurangnya oksigen dibagian tertentu di otak. Kondisi inilah yang menyebabkan terganggunya fungsi otak. Lalu, apa bedanya TIA dengan stroke?

Kata ahli, gumpalan penyebab transient ischemic attack akan hancur dengan sendirinya. Dengan kata lain, otak akan kembali berfungsi normal sehingga tidak menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen.

Faktor Risikonya

Selain penyebab utama di atas, ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan seseorang terserang TIA. Berikut penjelasannya:

  • Pola hidup. Pola hidup yang buruk, seperti konsumsi minuman keras secara berlebihan, merokok, konsumsi makanan yang asin dan berlemak, ataupun menggunakan obat-obatan terlarang, bisa memicu serangan TIA. Pola hidup seperti di atas juga bisa memicu risiko penyakit obesitas, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

  • Usia. Risiko terserang TIA akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia, terutama lansia di atas 55 tahun.

  • Faktor Keturunan. Dirimu memiliki risiko yang lebih tinggi terserang TIA, bila ada anggota keluarga yang pernah mengalami TIA.

  • Jenis Kelamin. Menurut studi, pria lebih berisiko tinggi untuk mengalami TIA ketimbang wanita.

  • Pengaruh Penyakit atau Kelainan Tertentu. Orang yang mengidap kelainan jantung, infeksi jantung, gagal jantung, detak jantung abnormal, dan diabetes, lebih berisiko mengalami TIA dibandingkan orang normal.

Mengalami gejala-gejala di atas atau punya keluhan kesehatan? Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat. Kamu bisa berdiskusi dengan dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: