15 February 2018

Generasi Micin vs Garam, Mana yang Lebih Berbahaya?

Generasi Micin vs Garam, Mana yang Lebih Berbahaya?

Halodoc, Jakarta – “Makanya jangan kebanyakan makan mecin,” pernah dengar kalimat tersebut? Nah, Belakangan ini mecin alias monosodium glutamat (MSG) sedang menjadi bahan pembicaraan. Seringkali, penyedap rasa yang satu ini dianggap memberikan dampak yang negatif bagi tubuh. Katanya, jika mencampurkan terlalu banyak mecin pada makanan dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti menurunnya fungsi otak. Namun, benarkah anggapan tersebut?

Mengutip berbagai sumber, MSG memiliki kandungan berupa natrium, asam amino dan glutamat. Dan perlu diketahui bahwa pada dasarnya, tubuh manusia membutuhkan asupan MSG, lho. Yang perlu diperhatikan adalah asupannya yang tidak dikonsumsi secara berlebihan.

MSG sendiri bisa kamu temui di berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi. Mulai dari makanan ringan seperti kerupuk yang renyah, makanan instan, hingga minuman. Saking banyaknya orang yang gemar mengonsumsi makanan yang mengandung MSG, muncul anggapan bahwa jika terlalu sering makan dapat membuat fungsi otak turun. Padahal, belum ada penelitian yang menyatakan secara jelas bahwa MSG bisa menganggu fungsi otak.

Jangan Berlebihan Natrium

Segala jenis makanan apabila dikonsumsi berlebihan tentu tidak baik. Sebut saja gula yang bisa menyebabkan diabetes dan makanan pedas yang menyebabkan gangguan pencernaan. Termasuk MSG yang memiliki kanduangan natrium, juga bisa memicu naiknya tekanan darah apabila dikonsumsi berlebihan.

Tak hanya pada pada MSG, natrium nyatanya juga ditemukan pada garam dapur yang biasa digunakan untuk memasak. Hal itu yang kemudian menyebabkan seseorang  yang memiliki riwayat hipertensi tak dianjurkan untuk terlalu banyak mengonsumsi makanan asin atau makanan yang mengandung garam.

Sebab hipertensi merupakan  satu kondisi yang cukup berbahaya dan bisa menyebabkan hal-hal yang tak diinginkan menyerang tubuh. Sejumlah penelitian menyebut bahwa serangan stroke dan penyakit jantung, bahkan penyakit mematikan lainnya sering diawali dengan hipertensi.

MSG vs Garam, Mana yang Harus Dihindari?

Meski dibutuhkan oleh tubuh, namun penggunaan MSG maupun garam sebaiknya tidak melebihi batas. Hingga kini masih banyak pandangan yang berbeda terkait mana yang lebih disarankan antara konsumsi garam atau MSG. Namun, salah satu yang harus diwaspadai adalah tingkat konsumsi natrium pada tubuh.

Sebagian menyebut bahwa kandungan natrium yang ada di MSG lebih rendah dari garam. Yaitu 12 persen pada MSG, sementara garam dapur memiliki 39 persen natrium. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyarankan angka konsumsi natrium perhari adalah kurang dari 2.000 miligram. Artinya  penggunaan garam maupun mecin sebaiknya tidak lebih dari 1 sendok teh.  

Terlalu banyak mengonsumsi natrium dapat mengakibatkan naiknya tekanan darah. Jika hal ini terjadi, penyakit kardiovaskular akan lebih mudah menyerang. Selain itu, natrium yang dikonsumsi berlebihan juga bisa memicu kanker lambung,  obesitas, dan menurunnya kepadatan mineral tulang.

Hingga kini belum ada penelitian pasti yang menyebut mana lebih baik antara MSG dan garam. Namun ada baiknya untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Memang akan terasa aneh, karena bumbu penyedap pada dasarnya berfungsi untuk menambahkan rasa pada masakan, sehingga seseorang menjadi lebih berselera. Namun tak perlu khawatir, ada beberapa trik yang bisa diterapkan untuk mendapatkan rasa masakan yang nikmat tanpa menggunakan garam atau MSG berlebihan.

(Baca juga: 6 Tips Mengurangi Gula & Garam)

Salah satunya adalah dengan menonjolkan rasa lain. Sebuah penelitian menyebut bahwa membuat masakan dengan rasa pedas yang menonjol dapat mengurangi keinginan lidah untuk mengecap rasa garam. Kamu bisa menggunakan cabai dan rempah-rempah dalam memasak untuk mendapatkan rasa masakan yang lebih kuat. Seperti seledri, daun bawang, bawang merah, bawang bombai, daun salam, lada, kencur dan bahan masakan lainnya.

Selain mengurangi penyedap rasa, kamu juga harus menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga dan menghindari makan “sembarangan”. Pantau kesehatan tubuh secara berkala menggunakan aplikasi Halodoc yang memudahkanmu dalam menghubungi dokter lewat Video/Voice Call dan Chat. Kamu juga bisa membeli obat, hingga menjadwalkan lab test dengan Halodoc. Ayo, download sekarang juga!