Glomerulonefritis Terjadi Akibat Komplikasi Amandel, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Glomerulonefritis Terjadi Akibat Komplikasi Amandel, Kok Bisa?

Halodoc, Jakarta – Glomerulonefritis (GN) terjadi ketika glomerulus, yakni salah satu struktur ginjal yang terdiri dari pembuluh darah kecil mengalami peradangan. Simpul pembuluh ini membantu menyaring darah dan menghilangkan kelebihan cairan. Glomerulus yang rusak membuat ginjal berhenti bekerja sehingga bisa sebabkan gagal ginjal, disebut juga nefritis. Maka itu, GN adalah penyakit serius yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan segera.

Baca Juga : Komplikasi yang Bisa Disebabkan oleh Glomerulonefritis

Kenapa Amandel Bisa Sebabkan Glomerulonefritis (GN)?

Tonsilitis atau yang biasa kita sebut dengan amandel disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus yang masuk ke dalam pembuluh darah kecil di unit penyaringan ginjal (glomerulus). Namun, tidak semua tonsilitis disebabkan oleh streptococcus. Selain timbul peradangan akibat respons sistem kekebalan tubuh, terdapat jaringan parut yang mengganggu kerja ginjal dalam menyaring urine. Penyakit ini dinamai GN poststreptococcal dan termasuk GN akut. Kondisi ini dapat berkembang satu sampai dua minggu setelah infeksi tenggorokan yang tidak diobati.

Tonsilitis dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering menyerang anak berusia 6-10 tahun. Meskipun tonsilitis sering terjadi pada anak-anak, GN poststreptococcal adalah komplikasi yang jarang terjadi. Berikut gejala awal GN akut yang mungkin dialami pengidapnya:

  • Bengkak di seluruh tubuh.
  • Jarang buang air kecil
  • Urin mengandung darah sehingga warnanya berubah menjadi gelap.
  • Terdapat banyak cairan di paru-paru, sehingga menyebabkan batuk.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

Perawatan Glomerulonefritis (GN)

Pilihan perawatan tergantung pada jenis dan penyebab GN. Salah satu pengobatan yang umum dilakukan adalah mengendalikan tekanan darah. Dokter mungkin meresepkan obat untuk menurunkan tekanan darah, termasuk penghambat enzim pengubah angiotensin, atau penghambat ACE, seperti captopril, lisinopril (zestril), perindopril (aceon). Dokter juga mungkin akan meresepkan penghambat reseptor angiotensin seperti, losartan (cozaar), irbesartan (avapro), valsartan (diovan).

Kortikosteroid juga dapat digunakan jika sistem kekebalan tubuh menyerang ginjal dengan mengurangi respons imun. Metode lain untuk mengurangi peradangan yang dipicu oleh kekebalan adalah plasmapheresis. Proses ini menghilangkan bagian cairan darah (plasma) dan menggantinya dengan cairan intravena atau plasma yang tidak mengandung antibodi.

Baca Juga : Jangan Salah, Ini Bedanya Glomerulonefritis Akut dan Kronis

Jika kondisi sudah semakin parah hingga mengalami gagal ginjal, pengidapnya mungkin perlu menjalani cuci darah. Prosedur ini dilakukan melalui sebuah mesin untuk menyaring darah. Apabila kondisi sudah sangat parah, pengidapnya mungkin memerlukan transplantasi ginjal.

Tindakan Pencegahan Glomerulonefritis (GN)

Jika diketahui lebih awal, GN akut bersifat sementara dan dapat disembuhkan. Namun jika GN memburuk, kemungkinan terjadi penurunan fungsi ginjal, gagal ginjal kronis, dan penyakit ginjal stadium akhir. Berikut langkah yang bisa dilakukan agar pulih dari GN dan mencegah komplikasi:

  • Jaga berat badan agar tetap ideal.
  • Batasi konsumsi garam, protein, dan kalium dalam asupan makanan.
  • Berhenti merokok.

Baca Juga : Ketahui Pengobatan Rumahan Glomerulonefritis

Apabila kamu mengalami gejala penyakit ginjal seperti diatas, sebaiknya segera berbicara pada dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!