15 May 2018

Hal Ini terjadi pada Otak Ketika Berpuasa

Hal Ini terjadi pada Otak Ketika Berpuasa

Halodoc, Jakarta – Saat sedang berpuasa, tubuh tidak akan menerima asupan makanan maupun minuman hingga 14 jam. Kendati demikian, ada banyak pendapat yang menyebut bahwa rutin berpuasa bisa memberi dampak yang menyehatkan pada seseorang. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada otak dan tubuh ketika berpuasa?

Puasa disebut dapat mengubah aktivitas otak dan memengaruhi plastisitas otak. Mulai dari proses pembelajaran dan pengalaman baru, membentuk interaksi dan jaringan baru pada hubungan sel-sel saraf otak, hingga merehabilitasi sel-sel yang rusak atau mati. Berpuasa juga bisa memengaruhi fungsional otak alias fungsi otak secara keseluruhan.

Selain itu, seseorang yang sedang berpuasa biasanya akan membatasi asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu ternyata mampu meningkatkan pembentukan jalur sel otak baru dan merangsang pertumbuhan sel otak. Tak berhenti di situ, berpuasa pun dapat mengurangi risiko seseorang mengalami penyakit yang berkaitan dengan penurunan saraf akibat penuaan.

Berpuasa juga akan berdampak dengan perubahan sistem metabolisme pada tubuh. Kondisi ini akan menurunkan kadar hormon leptin, sehingga otak akan menerima sinyal “baik” dan menghasilkan energi lebih banyak.

Nyatanya, perkembangan yang terjadi pada jaringan otak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari faktor lingkungan, kejiwaan, serta makanan yang dikonsumsi. Dan berpuasa selama satu bulan penuh ternyata sangat memengaruhi proses pembaruan jaringan otak.

(Baca juga: Jangan Khawatir Sakit, 6 Manfaat Berpuasa)

Terbentuknya jaringan baru di otak dapat membuat seseorang menjadi “manusia baru” secara biologis, psikologis, dan fungsional. Tak hanya itu, rutin berpuasa pun akan membuat seseorang cenderung lebih berpikir positif sehingga terhindar dari stres berlebih.

Puasa untuk Kesehatan Jantung

Selain bermanfaat bagi otak, berpuasa pun akan memberi dampak yang positif bagi kesehatan jantung. Puasa dapat mengurangi risiko seseorang mengalami stroke dan jantung koroner. Puasa juga berperan dalam mendetoksifikasi tubuh dan mengurangi tingkat radikal bebas yang bersirkulasi dalam darah. Bahkan puasa disebut-sebut dapat membantu seseorang terhindar dari penyakit alzheimer dan parkinson.

Berpuasa juga akan memberi dampak lain bagi tubuh, salah satunya adalah menjaga berat badan tetap seimbang. Bahkan, jika dilakukan dengan benar, berpuasa bisa membantu seseorang dalam menurunkan bobot tubuh. Penurunan berat badan akan berdampak pada menurunnya risiko kolesterol tinggi, obesitas, hingga diabetes.

Beberapa penelitian menyebut bahwa menjalankan puasa dapat mengurangi resistensi insulin yang memicu diabetes. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Meski tak dapat dimungkiri, puasa bisa menjadi satu kesempatan untuk “membersihkan diri”, salah satunya dari kebiasaan mengonsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Jika menginginkan penurunan berat badan selama berpuasa, tentu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, tida menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Selain itu, selama berpuasa pun tetap harus aktif berolahraga dan tidak melampiaskan nafsu makan pada waktu berbuka puasa. Alih-alih menurunkan berat badan, kebiasaan ini malah bisa menyebabkan berat badan kembali naik, malah mengalami peningkatan dari sebelumnya.

(Baca juga: Patut Dicoba! 4 Cara Mengecilkan Perut Saat Puasa)

Hal lain yang perlu dipersiapkan agar tetap semangat selama puasa adalah mengonsumsi vitamin tambahan. Lebih mudah beli vitamin dan produk kesehatan lain di aplikasi Halodoc. Dengan layanan antar, pesanan akan dikirim ke rumah dalam waktu satu jam. Gratis ongkos kirim, lho. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!