• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Harus Tahu, Ini Perkembangan Otak Balita

Harus Tahu, Ini Perkembangan Otak Balita

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Di awal masa kehidupannya, anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, tak terkecuali perkembangan otaknya. Keterampilan belajar dan perkembangan otak anak sudah dapat dilakukan sejak mereka di bawah usia lima tahun. Di tahap awal perkembangan otak balita, mereka sudah bisa diajarkan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar, sehingga kecerdasan otaknya dapat berkembang dengan sendirinya. Ibu harus tahu, ini tahap perkembangan otak balita!

Baca juga: Musik Menunjang Perkembangan Otak Anak, Benarkah?

Perkembangan Otak Balita Usia 24-30 Bulan

Usia 24-30 bulan akan menjadi fase kemampuan otak Si Kecil berkembang dengan pesat. Menginjak usia yang ke 2, Si Kecil sudah dapat memilih benda-benda yang mereka sukai untuk bermain. Berkaitan dengan hal tersebut, sebaiknya ibu lebih pandai memilih aktivitas yang dapat mengembangkan kecerdasannya, seperti menyamakan bentuk-bentuk benda, seperti lingkaran, kotak, atau segitiga, serta membereskan mainan sesuai dengan bentuknya, seperti mobil-mobilan atau boneka

Perkembangan Otak Balita Usia 30-36 Bulan

Di usianya yang menginjak 3 tahun, Si Kecil sudah bisa membandingkan tinggi benda yang satu dengan lainnya. Mereka juga sudah cukup pintar untuk menghafal nama-nama benda, huruf abjad, atau angka-angka. Bukan hanya itu, kemampuan nalar mereka pun ikut berkembang, seperti akan terjatuh ketika berlari atau memanjat benda.

Baca juga: Pencernaan Sehat Bisa Jamin Otak Anak Berkembang Maksimal

Perkembangan Otak Balita Usia 36-42 Bulan

Di usianya 3-3,5 tahun, mereka sudah dapat mengambangkan kemampuan dalam koordinasi angka. Ketika memasuki fase ini, sebaiknya ibu mulai mengajarkannya menghitung dengan jari, buku gambar, atau mainan yang dapat menstimulasi kecerdasan berhitungnya. Selain itu, mereka sudah bisa meminta makan atau minum ketika mereka lapar atau haus. Mereka juga sudah bisa melawan ketika diberi larangan dengan melawan atau menangis. Di sini tugas ibu untuk menjelaskan sedetail mungkin alasan mengapa peraturan itu diberikan. 

Perkembangan Otak Balita Usia 42-48 Bulan

Di usia ini, kecerdasan otak anak semakin membaik. Mereka sudah benar-benar bisa mengaplikasikan hitungan dasar yang ibu ajarkan. Ketika memasuki fase ini, tugas ibu untuk selalu memancing imajinasi Si Kecil. Jangan larang mereka untuk bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Dengan begitu, mereka akan lebih mudah belajar keterampilan atau kosakata baru dari teman-temannya, dibanding jika mereka mempelajarinya sendiri.

Merupakan hal yang membanggakan dan membahagiakan jika Si Kecil tumbuh sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik. Otak menjadi organ pusat perkembangan anak yang perlu dimaksimalkan di masa perkembangannya. Pasalnya, otak sendiri akan memengaruhi perkembangan motorik, komunikasi, serta emosional Si Kecil.

Baca juga: Pencernaan Sehat Bisa Jamin Otak Anak Berkembang Maksimal

Penting bagi ibu untuk selalu menstimulasi perkembangan otaknya. Perlu diketahui bahwa perkembangan otak anak sudah terjadi saat mereka berada dalam kandungan. Sebenarnya, sel-sel otak janin sudah mulai terbentuk sejak berusia 3-4 bulan dalam kandungan. Setelah lahir, dari usia 0-4 tahun, jumlah sel otak akan bertambah dengan cepat setiap tahunnya, mencapai milyaran sel yang masih belum terhubung.

Bukan hanya stimulasi dari orangtua saja yang dibutuhkan, asupan nutrisi dan gizi juga diperlukan pada usia perkembangan otak balita. ASI menjadi asupan gizi pertama Si Kecil saat mereka berusia 0-2 tahun untuk membantu memaksimalkan perkembangan otak anak. Namun, ketika sudah memasuki usia-usia yang telah disebutkan, tapi Si Kecil tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, silahkan temui dokter anak di rumah sakit terdekat untuk mengetahui penyebabnya.

Referensi: 

CDC. Diakses pada 2020. Early Brain Development and Health.

Baby Club. Diakses pada 2020. Your Toddler’s Incredible Brain Development from 2-3 Years.

First Things First. Diakses pada 2020. Brain Development.