• Home
  • /
  • Jangan Langsung Emosi, Pahami Dulu 3 Fase Unik Perkembangan Anak

Jangan Langsung Emosi, Pahami Dulu 3 Fase Unik Perkembangan Anak

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Jangan Langsung Emosi, Pahami Dulu 3 Fase Unik Perkembangan Anak

Halodoc, Jakarta - Setiap perkembangan anak itu unik, dan ini bisa menjadi pengalaman paling berharga dan tidak tergantikan yang didapat ibu dan ayah sebagai orangtua. Ketika anak berusia 0 hingga 6 tahun, bisa saja ia menginginkan sesuatu yang bagi ibu dan ayah tidak tepat ketika sedang mengajaknya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Mungkin, ia selalu ingin menjadi pusat perhatian di acara keluarga dengan mengenakan topeng atau pakaian superhero kesayangannya, dan masih banyak lagi. 

Dahulu, mungkin ibu dan ayah merasa hal ini sangat berlebihan dan tidak tepat. Namun, kini, ibu hanya akan tersenyum saat mengingatnya, betapa kenangan masa lalu dengan sang buah hati yang masih sangat kecil memang sangat lucu. Ibu, ketahuilah bahwa fase unik perkembangan anak ini baru saja dimulai, dan masih ada sejuta keunikan lain seiring dengan perkembangannya yang menanti di depan sana. 

Fase Usia Dini (antara 0-6 Tahun)

Pada rentang usia ini, ibu dan ayah jangan terkejut ketika anak mengalami beberapa hal berikut ini. 

  • Tantrum

Anak bisa saja menangis kencang dan histeris, melempar barang, berteriak-teriak, bahkan berguling-guling di lantai. Jangan panik, karena ini hanya salah satu cara yang ia pakai untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan. Namun, jangan terbawa emosi dalam menghadapinya, apalagi ketika anak tantrum di tempat umum. Tanyakan apa yang sebenarnya ia inginkan, gunakan kata-kata yang lembut dan mudah ia mengerti, sehingga ia bisa menunjukkan apa yang menjadi keinginannya. 

Baca juga: Bagaimana Tahap Tumbuh Kembang Anak yang Ideal?

  • Sering Bertanya

Memasuki usia 3-5 tahun, kemampuan berbahasa pada anak akan semakin berkembang, begitu pula dengan rasa ingin tahunya. Jadi, wajar jika ia menjadi anak yang sering bertanya, dan ini bukan karena ia cerewet. Sebagai orangtua, ibu dan ayah diharapkan selalu memiliki jawaban yang tepat dan mampu memberikan penjelasan sesuai dengan usianya, sehingga ia pun mudah memahami apa yang sedang ibu dan ayah jelaskan padanya. 

Fase Anak-Anak (antara 7-10 Tahun)

Pada rentang usia ini, anak telah lebih mengerti perbedaan, dan kemampuan adaptasinya dengan lingkungan sosial pun makin berkembang. Ini yang mungkin terjadi:

  • Sering Membandingkan dan Menjawab

Pergaulannya yang akan meluas dan bertambahnya teman-temannya akan menimbulkan kecenderungan anak untuk membandingkan dirinya dengan temannya. Tidak hanya pribadi, ia pun akan membandingkan cara orangtuanya mendidik dan kebiasaan yang dilakukan orang lain tersebut. Nah, jelaskan dengan bijak bahwa setiap keluarga memiliki aturan masing-masing dalam mendidik dan menerapkan kebiasaan, jadi tidak ada yang paling benar ataupun yang salah. 

Baca juga: Begini Cara Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Usia Emas

  • Ngotot

Jangan heran apabila anak mulai ngotot mengatakan pendapatnya lebih benar dari apa yang ibu ajarkan. Usia ini memang fase berkembangnya nalar dan logika anak, jadi ia akan mulai belajar memahami banyak hal. Ibu bisa memberikan penjelasan dengan berdasarkan bukti yang lebih akurat, mungkin lewat data, buku, atau majalah. 

Fase Remaja (antara 11-14 Tahun)

Memasuki masa pubertas, ini fase unik perkembangan anak yang akan ibu dan ayah temui pada sang buah hati:

  • Anak Mulai Tertutup

Anak mulai merasa memiliki privasi sendiri, sehingga semua hal tak lagi ia ceritakan pada ibu dan ayah. Komunikasi menjadi hal yang amat penting dalam fase ini, tetapi tetap harus dilakukan dengan cara yang tepat. Jangan sampai membuat anak merasa tidak nyaman dengan gaya ibu dan ayah berkomunikasi atau bertanya padanya. 

  • Melanggar Aturan

Ini adalah hal yang paling khas dan sering terjadi pada remaja, keinginan untuk melanggar aturan. Ia mulai mencari jati dirinya, mulai merasa mandiri, dan merasa mampu menilai baik buruk serta mengambil tindakan dan keputusan sendiri. Namun, bisa saja keputusan yang diambil kurang tepat, jadi ibu dan ayah tetap harus mengambil sikap dengan menjadi pengarah dan contoh yang baik untuknya. 

Baca juga: 4 Gangguan Perkembangan Anak yang Harus Diwaspadai

Selain perkembangannya, ibu dan ayah pun harus memperhatikan kesehatan sang buah hati. Kalau anak mengalami gejala yang tidak biasa, jangan ragu untuk segera membawa anak ke dokter. Agar lebih mudah, pakai aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit terdekat. 

*artikel ini pernah tayang di SKATA