Hati-Hati, Ini 2 Komplikasi yang Diakibatkan Crush Injury

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Hati-Hati, Ini 2 Komplikasi yang Diakibatkan Crush Injury

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar istilah crush injury? Istilah ini menjelaskan kondisi tubuh yang tertimpa benda berat atau terjepit di antara dua benda yang sangat besar dan berat. Penyebabnya bisa berbagai hal, mulai dari kecelakaan kendaraan yang membuat tubuh terkena hantaman atau terjepit, bencana alam, terjadinya kecelakaan kerja, sedang terlibat dalam perkelahian atau perang, hingga salah satu anggota tubuh tertimpa benda berat atau terjepit. 

Ada banyak hal yang terjadi ketika tubuh mengalami crush injury. Beberapa di antaranya seperti patah tulang, terjadi luka robek dan memar, dislokasi pada sendi, cedera pada saraf, perdarahan pada organ yang terdampak paling hebat, hingga bagian tubuh hancur atau terlepas. Oleh karena itu, diperlukan penanganan segera untuk orang-orang yang mengalami kejadian ini. 

Gejala dari crush injury mudah terdeteksi. Kamu merasakan nyeri yang sangat hebat, mati rasa pada bagian tubuh yang terdampak, luka terbuka yang menyebabkan terjadinya perdarahan dan kerusakan permukaan kulit, bentuk tubuh berubah jika terjadi pada tulang, suhu tubuh menurun (begitu pula kesadaran dan tekanan darah), melemahnya denyut nadi, dan sesak napas. 

Baca juga: Segala Hal tentang Crush Injury yang Perlu Diketahui

Komplikasi Crush Injury yang Mungkin Terjadi

Lalu, bagaimana jadinya jika crush injury yang terjadi pada seseorang tidak segera mendapatkan penanganan? Waspada komplikasinya berikut ini. 

  • Sindrom Kompartemen. Komplikasi ini terjadi apabila tidak mencukupinya asupan darah di otot dan jaringan yang ada di sekitarnya dalam jangka waktu yang relatif lama. Kondisi ini terjadi karena peningkatan tekanan yang ada di otot, sehingga saraf rusak dan otot pun mati. Sindrom ini memiliki gejala nyeri yang hebat yang diikuti kesemutan dan kelumpuhan. Sementara tanda visualnya adalah pembengkakan yang muncul di kulit. 

  • Sindrom Bywaters atau Sindrom Crush. Sindrom ini terjadi dengan gejala gagal ginjal dan syok akibat cedera serius yang menyerang otot rangka. Tekanan yang hebat karena crush injury menyebabkan terjadinya pembengkakan otot di bagian tubuh yang mengalami cedera, sehingga terjadi kerusakan jaringan, gangguan metabolisme, dan disfungsi beberapa organ tubuh. 

Baca juga: Sebabkan Patah Tulang Tertutup, Ini Penanganan Crush Injury

Penanganan Crush Injury yang Bisa Dilakukan

Bergantung pada seberapa parah crush injury yang dialami, ada beberapa tindakan medis yang bisa dilakukan. Namun sebelumnya, dokter memerlukan pemeriksaan seperti MRI, foto rontgen, dan CT scan untuk mendapatkan gambar yang lebih detail, sehingga diagnosis yang dibuat bisa lebih akurat. 

Setelahnya, dokter memberikan terapi obat seperti pereda nyeri, antibiotik, dan obat penenang untuk mengurangi ketegangan pada otot. Jika diperlukan, dokter bisa melakukan operasi. Tindakan ini dilakukan bergantung pada lokasi terjadinya crush injury dan perdarahan yang mengikuti. Beberapa jenis operasi yang dilakukan seperti torakotomi, kraniotomi, fasciotomy, dan laparotomi. 

Apabila dampak yang ditimbulkan crush injury parah dan memicu terjadinya kerusakan lanjutan yang lebih mengancam nyawa, dokter dapat melakukan amputasi atau pemotongan atau menghilangkan bagian tubuh tertentu. Amputasi dilakukan jika cedera sangat berat, terjadi infeksi, dan jaringan tubuh mati atau membusuk. 

Baca juga: Crush Injury Bisa Akibatkan Kematian, Benarkah?

Jika masih memungkinkan untuk diselamatkan, dokter mungkin melakukan operasi berulang untuk kasus cedera yang cukup parah. Operasi berulang ini dilakukan untuk melakukan perbaikan terhadap organ, jaringan, otot, dan saraf secara perlahan dan berkesinambungan. 

Itu tadi dua komplikasi fatal yang bisa terjadi ketika crush injury tidak mendapatkan penanganan segera setelah terjadi. Kamu bisa mengetahui tindakan penanganan pertama untuk masalah ini langsung pada dokter, sehingga kamu tahu yang harus dilakukan jika mendapati seseorang mengalaminya. Gunakan aplikasi Halodoc, karena aplikasi ini menghubungkan kamu dengan dokter lebih cepat. Caranya, download saja aplikasi Halodoc di ponsel kamu.