• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hindari Makan Berlebihan saat Berbuka Puasa, Ini Sebabnya

Hindari Makan Berlebihan saat Berbuka Puasa, Ini Sebabnya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Kurang lebih 13 jam kita diharuskan untuk menahan lapar dan dahaga saat berpuasa di bulan Ramadan. Tak heran sebagian orang akan menyantap berbagai makanan dan minuman ketika waktu berbuka telah tiba. Perut “keroncongan” dan tenggorokan “kering” terkadang membuat nafsu makan tak terbendung 

Padahal, makan berlebih saat berbuka puasa sama sekali tidak dianjurkan. Sebab ajang “balas dendam” ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan nantinya. Lantas, apa sih dampak makan berlebih saat berbuka puasa? 

Baca juga: Tips Atasi Sakit Perut Karena Kekenyangan Sehabis Buka Puasa

“Balas Dendam” Picu Banyak Masalah

Ajang “balas dendam” saat berbuka memang menggoda, sungguh nikmat, tetapi hanya untuk beberapa saat. Beberapa menit atau jam setelah berbuka dengan porsi melimpah, tak menutup kemungkinan akan muncul masalah pada tubuh. Nah, berikut beberapa dampak makan berlebih saat berbuka puasa.

1. Lemas dan Kantuk

Makan berlebih saat berbuka puasa bisa membuat tubuh terasa lemas dan menimbulkan rasa kantuk. Kondisi ini terjadi saat tubuh mengasup karbohidrat olahan atau tinggi dalam jumlah yang banyak. 

Karbohidrat memberi hentakan energi, tetap mengasup karbohidrat olahan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kenaikan gula darah, dan diikuti oleh penurunan kadar insulin. Kondisi inilah yang dapat mengakibatkan tubuh terasa lelah. 

2. Mual dan Muntah

Dampak makanan berlebih saat berbuka puasa juga bisa memunculkan rasa mual, bahkan muntah. Kondisi ini disebabkan karena lambung tak sanggup lagi menampung makanan yang terlalu banyak. Tak cuma itu saja, makan berlebihan saat berbuka juga bisa membuat lambung bekerja terlalu berat. 

3. Gangguan Pencernaan

Selain dapat membuat lambung penuh dan bekerja ekstra, makan dalam jumlah banyak sehabis puasa bisa memicu masalah pada sistem pencernaan. Nah, kondisi inilah yang bisa memunculkan gejala kembung, mual, rasa begah, hingga nyeri perut. 

Baca juga: 5 Tips Puasa bagi Pengidap Maag

4. GERD

Saat lambung terisi penuh, maka mungkin saja makanan tersebut akan menekan diafragma. Kondisi ini ujung-ujungnya bisa membuat kita mengalami sesak napas atau napas yang dangkal. Tak cuma itu saja, lambung yang terisi penuh juga bisa memicu makanan kembali naik ke esofagus atau kerongkongan. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan GERD (gastroesophageal reflux disease).

GERD bisa membuat pengidapnya mengalami nyeri pada bagian ulu hati. Seorang yang mengalami GERD juga bisa mengalami rasa sakit, panas, atau sensasi terbakar pada dada yang bisa menjalar hingga ke leher. 

Perlahan, Mulai dengan yang Manis

Jangan heran kalau tubuh terasa lemas saat berpuasa. Pasalnya, kadar gula darah dalam tubuh menurun dan membuat tubuh kekurangan energi. Nah, hal inilah yang membuat tubuh terasa lemas beberapa jam menjelang berbuka. 

Lalu, apa sih sumber energi tubuh manusia? Faktanya, sumber energi pada tubuh manusia dihasilkan dari asupan karbohidrat yang diubah menjadi gula oleh insulin. Oleh karena itu, berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang manis sangat dianjurkan. Alasannya jelas, untuk menyeimbangkan kembali kadar insulin, sehingga dapat melanjutkan produksi energi. 

Baca juga: 6 Menu Buka Puasa untuk Kembalikan Cairan Tubuh

Makanan atau minuman manis (gula) bisa dengan cepat meningkatkan kadar darah yang turun setelah berbuka puasa. Namun, kebanyakan makanan manis (seperti teh manis atau pisang goreng) tak memiliki gizi yang cukup untuk mengganti vitamin dan nutrisi lainnya yang hilang selama berpuasa. Alternatifnya, kamu bisa kok memilih kurma atau minuman, seperti jus buah asli yang kaya nutrisi. 

Harus Menu Seimbang

Setelah diawali dengan buah kurma atau minuman (jus buah asli) untuk mengembalikan kadar gula darah, barulah makan malam secukupnya. Ingat, menunya harus sehat alias bergizi seimbang. Komposisi menu berbuka harus memvariasikan berbagai makanan. Mulai dari buah-buahan, protein dari daging atau ikan, sayur-sayuran, karbohidrat kompleks, hingga lemak sehat.

Hal yang perlu ditegaskan sekali lagi, tetaplah bijak dalam memilih menu makanan untuk berbuka puasa. Jangan sampai momen berbuka menjadi ajang “balas dendam”. Jangan sampai alih-alih menyehatkan tubuh, berbuka puasa justru bisa menimbulkan masalah kesehatan. 

Mau tahu lebih jauh menu berbuka puasa yang tepat menurut dokter? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur chat dan voice/video call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
University of Michigan - Michigan Health. Diakses pada 2020. 4 Ways to Stop Digestive Discomfort After a Supersized Meal.
HealthXchange. Diakses pada 2020. Healthy Ramadan Fasting.  
HealthXchange. Diakses pada 2020. Ramadan Fasting: What to Eat During Iftar. 
Huffington Post. Diakses pada 2020. 6 Surprising Foods That Make You Tired.