• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hubungan Gangguan Dismorfik Tubuh dan Perfeksionisme

Hubungan Gangguan Dismorfik Tubuh dan Perfeksionisme

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Sebagian besar orang pasti memiliki sesuatu yang tidak disukai tentang penampilannya. Mulai dari hidung yang kurang mancung, mata yang terlalu besar, atau mungkin double chin. Meskipun mengkhawatirkan ketidaksempurnaan ini, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa hal tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.

Namun, bagi mereka yang mengidap gangguan dismorfik tubuh, mereka sangat memikirkan tentang kekurangan pada fisik mereka hingga berjam-jam setiap hari. Mereka tidak dapat mengendalikan pikiran negatif mereka dan tidak percaya pada orang yang mengatakan bahwa mereka terlihat baik-baik saja. Hal ini kemudian menyebabkan tekanan emosional yang parah dan mengganggu aktivitas mereka setiap hari. Pengidapnya mungkin akan sering bolos kerja atau sekolah, menghindari situasi sosial dan mengisolasi diri, bahkan dari keluarga dan teman, karena mereka takut orang lain akan melihat kekurangan mereka.

Baca juga: 6 Gejala yang Dialami Seseorang dengan Gangguan Dismorfik Tubuh

Lantas, Apa Hubungannya dengan Perfeksionisme?

Individu dengan gangguan dismorfik tubuh terlalu fokus pada kekurangan yang dirasakan, padahal hal tersebut kerap kali luput dari perhatian orang lain. Mereka menginginkan tampil sempurna tanpa cela sedikitpun. Semua yang ada di tubuhnya harus terlihat sempurna baginya. Jadi, cukup jelas bahwa pengidap penyakit ini pada dasarnya memiliki ciri kepribadian perfeksionis, terutama dalam urusan penampilan. 

Area paling umum yang menjadi fokus pengidap gangguan dismorfik tubuh adalah rambut, kulit, hidung, dada, mata, bibir, atau perut, meskipun mereka dapat fokus pada setiap area tubuh. Pengidapnya juga mungkin khawatir tentang kesimetrisan, ukuran, dan bentuk.

Faktanya, banyak pasien dengan gangguan dismorfik tubuh merasa seolah-olah mereka ditentukan oleh kekurangan yang mereka rasakan. Keyakinan tentang penampilan dan kekurangan yang dirasakan dapat menjadi begitu signifikan, sehingga mereka mencapai tingkat delusi. Seiring waktu, individu-individu ini dapat menjadi terisolasi secara sosial, takut meninggalkan rumah mereka karena takut dilihat, dihakimi, atau diejek oleh orang lain

Baca juga: Adakah Hubungan antara Depresi dan Gangguan Dismorfik Tubuh?

Apa Penyebab Seseorang Bisa Alami Gangguan Dismorfik Tubuh?

Gangguan dismorfik tubuh diklasifikasikan sebagai gangguan obsesif-kompulsif. Menurut Anxiety and Depression Association of America (ADAA), kondisi ini bisa memengaruhi pria dan wanita secara setara. Hingga saat ini, tidak ada penyebab yang teridentifikasi, tetapi diyakini bahwa genetika, kerusakan serotonin, kepribadian, dan pengalaman hidup seperti pelecehan atau trauma bisa menjadi penyebabnya. Stres selama masa remaja juga dapat memengaruhi perkembangan gangguan ini. 

Ada beberapa faktor yang tampaknya juga meningkatkan risiko seseorang alami gangguan dismorfik tubuh, antara lain: 

  • Memiliki kerabat sedarah dengan gangguan body dysmorphic atau gangguan obsesif-kompulsif.
  • Pengalaman hidup yang negatif, seperti trauma masa kecil, pengabaian atau pelecehan.
  • Ciri kepribadian tertentu, seperti perfeksionisme.
  • Tekanan sosial atau ekspektasi akan kecantikan.
  • Memiliki kondisi kesehatan mental lain, seperti kecemasan atau depresi.

Bisakah Gangguan Dismorfik Tubuh Sebabkan Komplikasi?

Sangat mungkin bagi pengidap gangguan dismorfik tubuh mengalami komplikasi seperti: 

  • Depresi berat atau gangguan mood lainnya.
  • Keinginan untuk bunuh diri.
  • Gangguan kecemasan, termasuk gangguan kecemasan sosial (fobia sosial).
  • Gangguan obsesif kompulsif.
  • Gangguan makan.
  • Penyalahgunaan zat dan obat terlarang.
  • Nyeri fisik atau risiko kerusakan akibat intervensi bedah berulang.

Baca juga: Tekanan Sosial Bisa Sebabkan Gangguan Dismorfik Tubuh

Pencegahan Gangguan Dismorfik Tubuh

Sayangnya, tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah gangguan dismorfik tubuh. Namun, karena gangguan ini sering dimulai pada awal masa remaja, mengidentifikasi gangguan tersebut sejak dini dan memulai pengobatan mungkin bermanfaat. Perawatan pemeliharaan jangka panjang juga dapat membantu mencegah kambuhnya gejala gangguan dismorfik tubuh.

Apabila kamu melihat orang terdekatmu mulai mengkhawatirkan citra tubuh mereka dan mulai melakukan tindakan berlebihan untuk mengatasinya, kamu bisa tanyakan pada psikiater di Halodoc mengenai hal ini. Bila diperlukan, kamu juga bisa mengajak orang terdekatmu mengunjungi rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang ia butuhkan. Bicara dengan psikiater atau buat janji dokter di rumah sakit, semuanya bisa kamu lakukan melalui aplikasi Halodoc. Praktis bukan? Yuk segera download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
Anxiety and Depression Association of America. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder.
Wolters Kluwer Health - Nursing 2020. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder.