Hubungan Seksual Tanpa Kondom, Tingkatkan Risiko Terkena Kutil Kelamin

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Hubungan Seksual Tanpa Kondom, Tingkatkan Risiko Terkena Kutil Kelamin

Halodoc, Jakarta - Hubungan intim dengan pasangan yang disayangi memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan. Oleh karena itu, agar manfaat hubungan intim dapat kamu dapatkan secara optimal, kamu tidak boleh mengesampingkan aspek keamanan. Hal-hal seperti penggunaan kondom atau kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, mencuci kemaluan setelah melakukannya dan setia pada satu pasangan adalah beberapa cara yang disarankan. Hal ini agar kamu dan pasangan terhindar dari berbagai penyakit menular seksual (PMS) yang membahayakan.

Salah satu jenis PMS yang bisa terjadi jika kamu tidak melakukan hubungan seksual dengan aman seperti tidak menggunakan kondom adalah kutil kelamin.

Penyakit ini merupakan gejala paling umum dari infeksi menular seksual. Penyakit ini umumnya muncul akibat infeksi HPV (human papillomavirus) tertentu, yaitu HPV 6 dan  11. Selain itu, kutil ini bisa muncul pada Miss V atau Mr P, HPV bisa menyebabkan kanker serviks pada wanita.

Kutil kelamin berbentuk benjolan daging kecil berwarna merah atau bergerombol banyak yang tampak seperti kembang kol yang tumbuh di sekitar kemaluan. Dalam banyak kasus, kutil tumbuh sangat lembut dan sering kali tidak terdeteksi secara kasatmata. Namun, lama-kelamaan kutil akan muncul dan bisa terdeteksi dengan sentuhan dan menimbulkan rasa sakit, perih, tidak nyaman, dan gatal-gatal di area sekitar kutil. Kamu harus mewaspadai Virus HPV penyebab kutil kelamin karena ia dapat dengan mudah menular lewat hubungan intim, baik oral, vaginal, maupun anal. Bahkan HPV kadang menular ke bayi saat proses persalinan dari ibu yang terinfeksi sejak sebelum atau saat hamil.

Baca Juga: Ternyata Lansia Punya Peluang Lebih Besar Mengidap Penyakit Menular Seks

Komplikasi Akibat Kutil Kelamin

Jika tidak segera ditangani, kutil kelamin bisa menyebabkan beberapa komplikasi yang parah, antara lain:

  • Kanker. Kanker serviks adalah komplikasi yang dikaitkan dengan infeksi HPV genital. Beberapa jenis HPV berhubungan dengan kanker vulva, kanker anus, kanker penis, dan kanker mulut dan tenggorokan.

  • Infeksi pada masa kehamilan. Kutil kelamin dapat menyebabkan masalah selama kehamilan. Ketika kutil jadi membesar, ibu hamil jadi sulit hanya untuk sekadar buang air kecil. Kutil pada dinding vagina mengurangi kemampuan jaringan vagina untuk meregang saat proses melahirkan atau menyebabkan pendarahan saat proses mengejan.

Pengobatan Kutil Kelamin

Dalam proses mengobati penyakit ini, setiap pasien membutuhkan perawatan yang berbeda-beda tergantung pada tingkat perahan. Hanya dokter yang menilai dan menentukan perawatan yang tepat untuk mengatasinya. Berikut beberapa pilihan pengobatan kutil kelamin:

  • Pemberian Obat Luar. Obat kutil kelamin terdiri dari berbagai macam bentuk. Mulai dari yang berbentuk krim, gel, hingga cairan. Obat kutil kelamin ada yang bisa dioleskan di rumah ada juga yang harus membutuhkan bantuan tenaga medis di klinik atau rumah sakit. Beberapa jenis obat tersebut antara lain Imiquimod (Aldara, Zyclara), Sinecatechin (Veregen), Podofilox dan Podofilin, serta Asam trikloroasetat (TCA) atau asam dikloroasetat (BCA) 80–90%.

  • Operasi. Tindakan operasi atau pembedahan juga diperlukan bila kamu memiliki kutil yang ukurannya sudah besar atau tidak merespons obat-obatan seperti yang sudah disebutkan di atas. Terlebih saat hamil biasanya kamu dilarang untuk konsumsi obat, sehingga jalur pembedahan lebih disarankan. Beberapa pilihan operasi kutil kelamin antara lain Cryotherapy (membekukan kutil menggunakan cairan nitrogen selama beberapa kali), Elektrokauter (menggunakan arus listrik untuk membakar kutil), eksisi bedah (menggunakan alat khusus untuk memotong kutil), serta laser.

Baca Juga: Inilah 4 Penyakit yang Bisa Ditularkan Melalui Hubungan Intim

Apabila kamu masih memiliki kebingungan dan pertanyaan seputar kutil kelamin maupun penyakit kelamin, jangan pernah ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter ahli di Halodoc. Kamu tidak perlu pergi keluar rumah atau bertatap langsung dengan dokter jika merasa malu, melalui aplikasi Halodoc kamu cukup berdiskusi via Chat atau Voice Call/Video Call. Kamu bisa melakukan tanya jawab kapan saja dan dimana saja hanya dalam aplikasi Halodoc. Download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!