• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Hamil Minum Alkohol Picu Dispraksia pada Si Kecil?

Ibu Hamil Minum Alkohol Picu Dispraksia pada Si Kecil?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Ibu, pernahkah mendengar kondisi dispraksia? Dispraksia terjadi ketika seseorang bermasalah dengan gerakan, koordinasi, penilaian, pemrosesan, memori, dan beberapa keterampilan kognitif lainnya. Dispraksia juga memengaruhi sistem kekebalan dan saraf tubuh.

Menurut National Center for Learning Disabilities, pengidap dispraksia memiliki kesulitan dalam merencanakan dan menyelesaikan tugas motorik halus maupun kasar. Ini bisa berkisar dari gerakan motorik sederhana, seperti melambaikan tangan, hingga yang lebih kompleks. Lantas, sebenarnya apa penyebab dispraksia? Benarkah mengonsumsi alkohol selama kehamilan memicu kondisi ini? 

Baca juga: Jenis-Jenis Dyspraxia yang Perlu Diketahui

Konsumsi Alkohol Selama Kehamilan Memicu Dispraksia pada Bayi?

Dilansir dari Healthline, penggunaan obat-obatan terlarang atau alkohol selama kehamilan bisa menyebabkan dispraksia pada janin. Konsumsi alkohol menyebabkan ketidakmatangan perkembangan neuron di otak. Akibatnya, sel-sel saraf yang mengendalikan otot (motor neuron) tidak berkembang dengan benar. Jika neuron motorik tidak dapat membentuk koneksi yang tepat, otak akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses data.

Namun, studi dari University of Hull di Inggris mengatakan bahwa dispraksia juga bisa diturunkan. Apabila ada anggota keluarga yang mengalami dispraksia sebelumnya, maka kemungkinan besar gennya bisa diturunkan ke anak-anaknya. Lantas, apakah dispraksia punya peluang untuk disembuhkan?

Baca juga: Benarkah Kelahiran Prematur Sebabkan Dyspraxia pada Anak?

Apakah Dispraksia Bisa Disembuhkan?

Pada sejumlah kecil kasus, gejala dispraksia pada anak-anak bisa sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Meski begitu, hal ini tidak berlaku pada kebanyakan anak yang mengidap dispraksia. Sayangnya, tidak ada obat untuk mengobati dispraksia. Namun, dengan terapi yang tepat, pengidap dispraksia dapat belajar mengelola gejala dan meningkatkan kemampuan mereka.

Kondisinya bisa berbeda-beda pada setiap orang, sehingga perawatan harus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Rencana perawatan tergantung pada sejumlah faktor, seperti tingkat keparahan gejala dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Beberapa tenaga kesehatan yang mungkin membantu dalam perawatan dispraksia yakni analis perilaku, terapis okupasi, terapis fisik, terapis wicara, spesialis pediatrik, dan psikolog.

Tenaga kesehatan juga dapat membantu mengidentifikasi masalah-masalah yang dialami oleh sang anak. Setelah masalahnya diidentifikasi, mereka kemudian bekerja membagi tugas menjadi beberapa bagian yang bisa dikelola. Dengan latihan teratur, anak dapat melakukan kemampuan motorik yang lebih baik, seperti:

  • Mengikat sepatu atau berpakaian sendiri;
  • Menggunakan peralatan makan dengan benar;
  • Menggunakan toilet;
  • Berjalan, berlari, dan bermain;
  • Mengorganisir tugas sekolah.

Terapi juga bekerja keras agar anak mendapatkan kepercayaan dirinya dan membantu mereka dalam bersosialisasi. Melalui terapi okupasi, anak dapat melakukan hal-hal praktis sehari-hari yang melibatkan keterampilan motorik kecil dan keterampilan organisasi.

Baca juga: Apakah Orang Dewasa juga Bisa Mengalami Dyspraxia?

Sedangkan terapi perilaku kognitif, atau terapi bicara, dapat membantu memodifikasi pola pikir dan perilaku yang mengguncang kepercayaan diri dan harga diri sang anak. Itulah sejumlah informasi mengenai dispraksia. Kalau ibu masih punya pertanyaan lain mengenai dispraksia atau masalah kehamilan lainnya, ibu bisa langsung menghubungi dokter Halodoc. Lewat aplikasi, ibu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi :
Medical News Today. Diakses pada 2020. What is dyspraxia?.
Healthline. Diakses pada 2020. How Dyspraxia Differs from Other Development Delays in Children.