Ikuti Tips Ini untuk Menangani Body Dysmorphic Disorder

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ikuti Tips Ini untuk Menangani Body Dysmorphic Disorder

Halodoc, Jakarta - Apa pun jenisnya, gangguan mental tidak pernah baik dan membutuhkan penanganan segera. Termasuk pula body dysmorphic disorder, kondisi ketika seseorang merasa cemas terhadap penampilan fisiknya. Seseorang yang mengalami kelainan mental ini selalu beranggapan bahwa tubuhnya tidak menarik, mengalami cacat yang sebenarnya tidak terlihat oleh orang lain. Bahkan, pengidap merasa cemas dan malu sehingga menghindari aktivitas sosial.

Body dysmorphic disorder membuat kamu terobsesi dengan penampilan fisik. Kamu berkali-kali bercermin, mematut diri, mencari kekurangan dari bagian tubuh tertentu, mana yang perlu diperbaiki. Tidak hanya sesaat, kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam saat bercermin. Sayangnya, selalu merasa kurang dan melakukan perilaku berulang itu membuat kamu tertekan. 

Body Dysmorphic Disorder Bisa Diatasi, Kok!

Sebenarnya, body dysmorphic disorder bisa diatasi. Tentu saja dengan perubahan gaya hidup dan dibantu beberapa pengobatan terapi. Jangan melewatkan terapi, meski kamu merasa malas melakukannya. Jika kamu diberikan resep obat, jangan sampai lupa meminumnya karena gejala mungkin saja kembali jika kamu melewatkan jam minum obat. 

Baca juga: Anak Susah Tidur, Mungkinkah Pertanda Korban Bully?

Tetaplah waspada dan perhatikan tandanya, juga beberapa hal yang menjadi pemicunya. Supaya hasilnya lebih maksimal, coba ikuti tips berikut ini. 

  • Tulislah dalam jurnal, karena hal ini membantu kamu mengidentifikasi pikiran, emosi, dan perilaku negatif dengan lebih baik. 

  • Jangan mengurung diri, cobalah untuk berpartisipasi dalam kegiatan normal dan secara teratur berkumpul dengan keluarga dan teman. Dukungan dari mereka menjadi obat paling baik untuk kamu keluar dari masalah ini. 

  • Jaga kesehatan, dengan konsumsi makanan sehat dan cukup istirahat. Jika perlu, isi waktu dengan membaca buku self-help.

  • Belajar relaksasi dan manajemen stres dengan cara yoga, taichi atau meditasi. 

  • Hindari membuat keputusan ketika kamu merasa tertekan dan stres. Kamu bisa tidak memikirkan risikonya dengan baik yang berakhir dengan penyesalan. 

  • Fokus pada tujuan, karena pemulihan yang kamu jalani merupakan proses yang berkelanjutan. Tetaplah termotivasi dengan selalu ingat apa tujuan yang ingin dicapai. 

Baca juga: Supaya Anak Tidak Jadi Pembully, Begini Cara Mendidiknya

Jangan takut untuk bersikap terbuka dan menceritakan apa yang kamu rasakan pada keluarga atau sahabat dekat, karena berkomunikasi membantu meringankan beban apa pun yang kamu rasakan. Jika kamu masih merasa takut, coba utarakan pada dokter ahli, buat janji langsung di rumah sakit terdekat atau melalui layanan Tanya Dokter di aplikasi Halodoc. Jangan kamu pendam, karena kelainan mental yang tidak teratasi memicu komplikasi yang lebih membahayakan. Bukan hanya untuk kamu, melainkan juga bagi orang lain. 

Tidak kalah pentingnya, praktekkan semua strategi penyembuhan yang sudah kamu pelajari, baik ketika terapi atau didapat dari orang terdekat. Ini bisa melatih kebiasaan kamu, sehingga ketika tandanya muncul lagi, kamu bisa segera menepisnya. Lalu, hindari narkoba dan konsumsi alkohol, karena keduanya membuat gejala lebih buruk. Aktiflah dengan berolahraga atau melakukan aktivitas fisik. Kedua hal ini bisa membantu mengelola gejala stres, depresi, dan kecemasan berlebihan. 

Jangan pernah malu untuk datang terapi, karena aktivitas ini membantu kamu memelajari bagaimana pikiran negatif, reaksi emosi, dan perilaku dalam mengatasi masalah. Pun, ini juga mengajari kamu perilaku lain untuk meningkatkan kesehatan mental dan mengalihkan perhatian dari aktivitas lain yang menjadi pemicu. 

Baca juga: 5 Tips Bagi Orang Tua saat Anak Jadi Korban Bullying

Referensi:
Mayo Clinic. (Diakses pada 2019). Body Dysmorphic Disorder.
Web MD. (Diakses pada 2019). Body Dysmorphic Disorder.
NHS UK. (Diakses pada 2019). Body Dysmorphic Disorder (BDD).