• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Infeksi saat Kehamilan Sebabkan Sindrom Asperger?

Infeksi saat Kehamilan Sebabkan Sindrom Asperger?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Sindrom Asperger merupakan kelainan perkembangan saraf yang berdampak pada perilaku, komunikasi, serta pola interaksi sosial. Kelainan ini disetarakan dengan gangguan spektrum autisme, atau yang dikenal dengan istilah Autism Spectrum Disorders (ASD). Apakah kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi saat kehamilan? Berikut ulasan selengkapnya!

Baca juga: Mengenal Sindrom Asperger Lebih Dekat

Benarkah Infeksi saat Kehamilan Sebabkan Sindrom Asperger?

Penyebab pasti dari sindrom Asperger sendiri masih belum diketahui hingga kini. Dalam beberapa kasus, kondisi ini disebabkan oleh adanya infeksi saat kehamilan. Bukan itu saja, kelainan genetik yang diwariskan dari kedua orangtua turut berperan dalam terjadinya sindrom Asperger. 

Sindrom Asperger menyerang anak-anak, dan bertahan hingga mereka dewasa. Meski hingga kini belum ditemukan obatnya, sindrom Asperger yang terdiagnosis dan ditangani sejak dini bisa membantu pengidapnya dalam meningkatkan potensi dan kemampuan diri dalam berkomunikasi, serta berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.

Baca juga: Warna-Warni Hidup dengan Sindrom Asperger

Gejala Sindrom Asperger yang Perlu Dipahami

Sindrom Asperger memiliki gejala yang tidak terlalu berat dibandingkan dengan jenis autisme lainnya. Berikut beberapa gejala umum yang dialami oleh anak dengan sindrom Asperger:

  • Tidak ekspresif. Pengidap kondisi ini jarang menampilkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang berkaitan dengan ungkapan emosinya. Saat merasa bahagia, pengidap kondisi ini akan susah untuk tersenyum atau tertawa, meskipun dalam situasi yang lucu. Pengidap kondisi ini juga akan berbicara dengan nada yang datar, mirip seperti robot yang sedang berbicara.

  • Sulit berinteraksi. Pengidap kondisi ini akan mengalami rasa canggung dalam melakukan interaksi sosial, baik dengan orang lain, bahkan dengan keluarga sendiri. Jangankan untuk berkomunikasi, untuk melakukan kontak mata saja rasanya agak sulit.

  • Gangguan motorik. Anak dengan sindrom Asperger akan mengalami gangguan motorik yang ditandai dengan keterlambatan dalam perkembangannya jika dibandingkan dengan anak seusianya. Mereka akan tampak kesulitan saat melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan, seperti mengendarai sepeda, menangkap bola, atau memanjat pohon.

  • Kurang peka dengan situasi. Pengidap kondisi ini biasanya hanya fokus dengan cerita diri sendiri. Mereka akan terus menceritakan kisah pribadinya, serta tidak punya ketertarikan dengan cerita orang lain.

  • Gangguan fisik atau koordinasi. Pengidap kondisi ini akan memiliki kondisi fisik yang lemah. Gangguan fisik atau koordinasi pada pengidap sindrom Asperger ditandai dengan gaya berjalan yang cenderung kaku atau mudah goyah.

  • Kurang menyukai perubahan. Ciri khas lain pengidap sindrom Asperger adalah tidak menyukai perubahan di sekitarnya. Mereka akan cenderung melakukan hal yang sama secara berulang. Contohnya adalah, mereka suka mengonsumsi jenis makanan yang sama.

Baca juga: Mengidap Sindrom Asperger Bukan Berarti Tidak Bisa Sukses

Meskipun gejala tampak menyeramkan, kondisi ini bukanlah penyakit disabilitas yang akan memengaruhi kualitas hidup pengidapnya dalam hal yang negatif. Pengidap kondisi ini masih bisa berkembang dan hidup dengan layak seperti orang normal pada umumnya. Banyak pengidap kondisi ini yang tumbuh dewasa, membangun karirnya sendiri, serta hidup berkeluarga seperti orang-orang pada umumnya. 

Meskipun sindrom Asperger harus melekat seumur hidupnya, hal tersebut bukan menjadi hambatan untuk menjalani kehidupan normal. Sejauh ini belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkan sindrom Asperger. Pengidap biasanya disarankan untuk melakukan terapi guna melatih rasa peka dan pengelolaan emosi.  Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai terapi apa saja yang akan dilakukan, silahkan diskusikan langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya!

Referensi:
MedicineNet. Diakses pada 2020. Asperger’s Syndrome.
Patient. Diakses pada 2020. Asperger’s Syndrome.
WebMD. Diakses pada 2020. Asperger’s Syndrome.