• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Autisme

Autisme

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Autisme

Pengertian Autisme

Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme merupakan gangguan perkembangan saraf. Gangguan tersebut memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku. Bukan hanya autisme, ASD juga mencakup sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS). Perlu diingat bahwa autisme bukanlah penyakit, melainkan kondisi di mana otak bekerja dengan cara yang berbeda dari orang lain.

Mereka yang menyandang autisme dapat mengalami kesulitan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Hal ini membuat mereka sulit untuk mengekspresikan diri. Baik dengan kata-kata atau melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.

Selain itu, penyandang autisme juga mungkin akan memiliki kendala saat belajar. Keterampilan mereka mungkin berkembang tidak merata. Misalnya ketika penyandang autisme memiliki kesulitan berkomunikasi, bisa saja dirinya sangat pandai dalam seni, musik, memori, hingga matematika.  

Faktor Risiko Autisme

Faktor-faktor yang jadi pemicu autisme adalah:

  • Jenis kelamin. Anak laki-laki memiliki risiko hingga 4 kali lebih tinggi mengalami autisme dibandingkan dengan anak perempuan.
  • Faktor keturunan. Orang tua yang mengidap autisme berisiko memiliki anak dengan kelainan yang sama.
  • Penularan selama dalam kandungan. Contohnya, efek samping terhadap minuman beralkohol atau obat-obatan (terutama obat epilepsi untuk ibu hamil) selama dalam kandungan.
  • Pengaruh gangguan lainnya, seperti sindrom Down, distrofi otot, neurofibromatosis, sindrom Tourette, lumpuh otak (cerebral palsy) serta sindrom Rett.
  • Kelahiran prematur, khususnya bayi yang lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.

Penyebab Autisme

Hingga saat ini, penyebab autisme masih belum diketahui. Namun, para ahli mengidentifikasi adanya beberapa gen yang dicurigai memiliki kaitan dengan ASD. Kadang-kadang gen-gen ini muncul dan bermutasi secara spontan. Namun, dalam kasus lain, orang mungkin mewarisi gen tersebut dari orang tuanya.

Dalam kasus anak kembar, autisme bisa terjadi akibat gen kembar. Misalnya, bila satu anak kembar mengidap autisme, maka kembar yang lain memiliki risiko autisme sekitar 36-95 persen.

Mereka yang mengidap autisme juga bisa mengalami perubahan di area-area utama otak mereka yang memengaruhi cara bicara dan perilaku pengidap. Faktor lingkungan mungkin juga berperan dalam pengembangan ASD, meskipun dokter bisa mengkonfirmasi kebenarannya.

Di samping itu, yang perlu digaris bawahi adalah autisme tidak akan disebabkan oleh hal-hal berikut, antara lain: 

  • Pola asuh orang tua yang buruk. 
  • Penggunaan vaksin, seperti vaksin MMR. 
  • Konsumsi makanan dan minuman. 
  • Infeksi yang dapat menular. 

Gejala

Gejala autisme digolongkan dalam dua kategori yaitu:

  • Kategori Pertama: Kategori ini merujuk pada penyandang autisme dengan gangguan dalam melakukan interaksi sosial dan berkomunikasi. Gejala ini dapat meliputi masalah kepekaan terhadap lingkungan sosial dan gangguan penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal.
  • Kategori Kedua: Penyandang autisme dengan gangguan yang meliputi pola pikir, minat, dan perilaku berulang yang kaku. Contoh gerakan berulang, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan, serta merasa kesal saat rutinitas tersebut terganggu.

Umumnya, penyandang autisme cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lainnya, seperti gangguan hiperaktif atau disebut juga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan kecemasan, dan depresi. 

Diagnosis

Sebenarnya sulit untuk mendapatkan diagnosis autisme yang pasti. Meski begitu, dokter biasanya akan mendiagnosis autisme berdasarkan laporan perilaku dan pengamatan. Bagi anak-anak, diagnosis biasanya membutuhkan dua langkah, berikut adalah penjabarannya: 

  • Skrining perkembangan untuk memberi tahu dokter apakah anak dapat mengikuti keterampilan dasar seperti belajar, berbicara, perilaku, dan bergerak sesuai usianya. Para ahli menyarankan agar anak-anak diskrining untuk keterlambatan perkembangan ini selama pemeriksaan rutin mereka pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 24 atau 30 bulan. Nantinya anak-anak secara rutin diperiksa khusus untuk autisme pada pemeriksaan 18 bulan dan 24 bulan mereka.
  • Jika anak menunjukkan tanda-tanda masalah pada pemeriksaan ini, mereka akan memerlukan evaluasi yang lebih lengkap. Evaluasi yang lebih lengkap tersebut mungkin termasuk tes pendengaran dan penglihatan atau tes genetik. Dokter juga akan mengajak spesialis yang berpengalaman dalam menangani gangguan autisme. Misalnya seperti dokter spesialis anak atau psikolog anak. Beberapa psikolog juga dapat memberikan tes yang disebut Autism Diagnostic Observation Schedule (ADOS).

Jika kamu tidak didiagnosis dengan autisme ketika masih menjadi anak-anak, tetapi merasakan bahwa dirimu menunjukkan tanda-tanda atau gejala autisme, segeralah berkonsultasi kepada dokter. 

Pengobatan

Kondisi autisme tidak dapat disembuhkan. Meski begitu, ada banyak jenis penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu penyandang autisme. Tujuannya agar mereka dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari dan mengembangkan potensi dalam diri mereka secara optimal.  Tindakan penanganan yang dilakukan pada tiap penyandang autisme bisa berbeda-beda. Namun, penanganan yang diberikan pada pengidap autisme umumnya berupa terapi. Berikut adalah beberapa pilihan metode terapi umum untuk pengidap autisme: 

1. Terapi Perilaku dan Komunikasi

Terapi ini dilakukan dengan memberikan sejumlah pengajaran pada pengidap, termasuk kemampuan dasar sehari-hari, baik verbal maupun nonverbal. Berikut adalah beberapa jenis contoh dari terapi perilaku dan komunikasi, yaitu: 

  • Analisis perilaku terapan (ABA), untuk meningkatkan perilaku positif dan mencegah perilaku negatif. 
  • Terapi okupasi, yang bertujuan untuk membantu keterampilan hidup seperti berpakaian, makan, dan berhubungan dengan orang lain. 
  • Terapi integrasi sensorik, untuk membantu seseorang yang memiliki masalah dengan sentuhan atau dengan pemandangan atau suara. 
  • Terapi wicara untuk meningkatkan keterampilan komunikasi penyandang autisme.

2. Terapi Keluarga

Terapi ini ditujukan untuk orang tua dan keluarga pengidap autisme. Tujuannya adalah agar keluarga bisa belajar bagaimana cara berinteraksi dengan pengidap dan juga mengajarkan pengidap berbicara dan berperilaku normal.

3. Pemberian Obat-obatan

Pemberian obat-obatan tidak bisa menyembuhkan autisme, melainkan dapat mengendalikan gejalanya. Contohnya obat untuk mengatasi kejang, obat untuk mengatasi masalah perilaku, obat untuk mengatasi depresi, dan obat untuk mengatasi gangguan tidur. 

Komplikasi Autisme

Autisme yang tidak tertangani dapat menimbulkan masalah dengan interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memicu komplikasi pada aspek sosial di kehidupan penyandang autisme, seperti: 

  • Masalah di sekolah dan keberhasilan pembelajaran.
  • Masalah ketenagakerjaan.
  • Ketidakmampuan untuk hidup mandiri.
  • Isolasi sosial.
  • Stres dalam keluarga.
  • Menjadi korban dan diintimidasi. 

Pencegahan Autisme

Tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah autisme. Maka dari itu, langkah awal yang harus diambil oleh orangtua apabila Si Kecil menunjukkan gejala autisme adalah dengan menghubungi dokter. Sebab, penanganan yang dilakukan sedini mungkin pada penyandang autisme tentu dapat membantu mereka memiliki kehidupan yang layak. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Si Kecil mengalami tanda dan gejala autisme, segeralah hubungi dokter. Pemeriksaan dan penanganan yang dilakukan sedari dini dan tepat tentu dapat meminimalkan risiko komplikasi serius. Selain itu, perawatan penyandang autisme melalui serangkaian terapi tentunya dapat mengurangi risiko terhambatnya aktivitas dan produktivitasnya. 

Melalui aplikasi Halodoc, ibu bisa menghubungi dokter spesialis anak terpercaya guna berkonsultasi seputar gejala autisme pada Si Kecil. Lewat fitur chat/video call secara langsung. Nantinya dokter yang berpengalaman akan memberikan saran yang tepat guna mengatasi kondisi Si Kecil. Jadi tunggu apa lagi? Yuk download Halodoc sekarang! 

 

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. What to know about autism.
WebMD. Diakses pada 2021. Understanding Autism – the Basics
WebMD. Diakses pada 2021. What Is Autism? 
NHS. Diakses pada 2021. What is autism?