Ini 8 Faktor Risiko Aneurisma Otak

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ini 8 Faktor Risiko Aneurisma Otak

Halodoc, Jakarta - Pernah mengalami gejala penyakit seperti pusing, nyeri di sekitar mata, sulit berbicara, gangguan keseimbangan, bahkan kelumpuhan di salah satu sisi wajah? Sebaiknya kamu tidak mengabaikan kondisi ini, karena ini bisa menjadi tanda penyakit aneurisma otak. Penyakit ini terjadi lantaran adanya pembesaran pembuluh darah pada otak akibat dinding pembuluh darah yang lemah. Penyakit aneurisma otak dapat berkembang menjadi serius ketika pecah dan terjadi perdarahan subarachnoid.

Aneurisma otak tergolong penyakit serius karena menimbulkan kerusakan otak atau bahkan kematian. Siapa saja punya kesempatan yang sama mengalami kondisi ini. Namun, kondisi ini paling umum dialami oleh wanita berusia di atas 40 tahun.

Baca juga: Ini Gejala Aneurisma Otak yang Perlu Diwaspadai

Apa Saja Penyebab dan Faktor Risiko Aneurisma Otak?

Aneurisma otak bisa muncul saat dinding pembuluh darah melemah. Darah yang dibutuhkan otak disalurkan melalui empat pembuluh darah yang melalui leher hingga mencapai otak. Nah, aneurisma rentan terjadi pada percabangan pembuluh darah yang lemah. Sayangnya, belum diketahui penyebab melemahnya dinding pembuluh darah ini. Namun, beberapa faktor diduga melemahkan dinding pembuluh darah dan memicu aneurisma otak. Beberapa faktor yang meningkatkan kondisi ini antara lain: 

  • Hipertensi. Kondisi ini meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah sehingga aneurisma otak bisa terjadi. 

  • Usia di atas 40 tahun. Aneurisma otak dilaporkan lebih banyak ditemukan pada orang-orang berusia di atas 40 tahun. Hal ini karena kondisi dinding pembuluh darah yang melemah seiring waktu akibat tekanan darah yang melewati dinding tersebut.

  • Perempuan. Sebagian besar pengidap penyakit ini adalah perempuan. Ini diduga ada kaitannya dengan penurunan hormon estrogen yang menjaga elastisitas pembuluh darah. Penurunan hormon ini pun akan terjadi pasca menopause.

  • Alami Cedera Kepala. Saat seseorang alami cedera parah pada otak, maka ini bisa meningkatkan risiko aneurisma otak.

  • Konsumsi alkohol dan penyalahgunaan narkoba (terutama kokain).

  • Kondisi medis yang bukan bawaan, misalnya infeksi darah tertentu, arteriosklerosis (pengerasan arteri), dan penurunan kadar hormon estrogen pasca menopause.

  • Kondisi medis bawaan, misalnya penyakit ginjal polikistik, koartasio aorta, malformasi arteri-vena, serta gangguan pada jaringan tubuh (misalnya pada kasus sindrom Ehlers-Danlos dan sindrom Marfan).

  • Riwayat keluarga. 

Jika kamu ingin tahu lebih banyak apa saja faktor risiko dari penyakit ini, maka kamu bisa chat dengan dokter di aplikasi Halodoc. Dokter akan memberikan informasi kesehatan yang kamu butuhkan sehingga kamu bisa melakukan beberapa upaya pencegahan yang mungkin bisa dilakukan.

Baca juga: Kenapa Lansia Rentan Alami Aneurisma Otak?

Apa Saja Langkah Pengobatan untuk Atasi Aneurisma Otak?

Aneurisma otak wajib diobati untuk menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan. Tujuan terapi berusaha menghentikan agar aneurisma tidak pecah, atau mencegah pendarahan jika aneurisma sudah pecah. Beberapa langkah pengobatan tersebut, antara lain:

  • Prosedur Bypass. Ini digunakan untuk mengubah rute aliran darah di sekitar bagian arteri yang tersumbat dan biasanya dikerjakan pada waktu yang sama saat melaksanakan prosedur oklusi.
  • Prosedur Endovaskuler. Pada prosedur ini kateter akan dimasukkan dari selangkangan dan diarahkan ke arah pembuluh darah otak yang terpengaruh. Koil platinum kemudian dilepaskan ke dalam aneurisma untuk menginduksi pembentukan gumpalan darah.
  • Bedah Mikro Penjepitan Aneurisma. Dokter menempatkan jepitan di sekitar aneurisma yang membengkak untuk memotong pasokan darah dan mencegah pendarahan lebih jauh.
  • Oklusi. Prosedur bedah terbuka ini akan memblokir aliran darah ke aneurisma melalui arteri.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Brain Aneurysm.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is a Brain Aneurysm?