Ini Faktor Risiko Kanker Vulva

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ini Faktor Risiko Kanker Vulva

Halodoc, Jakarta - Mutasi sel yang berkembang secara abnormal dan tidak terkendali bisa menyebabkan kanker. Sayangnya, kanker bisa terjadi pada organ tubuh mana saja dan menyebar dengan cepat jika tidak segera ditangani. Salah satunya adalah kanker vulva yang menyerang bagian terluar dari organ reproduksi wanita. Vulva termasuk bibir vagina, klitoris, vagina bagian depan, serta jaringan dan kulit yang menutupi area tulang kemaluan. 

Kanker vulva sering menyerang bagian klitoris dan bagian dalam dari bibir vagina. Namun, dibandingkan dengan kanker uterus atau kanker ovarium yang juga menyerang wanita, kanker vulva terbilang sebagai kondisi yang jarang terjadi. Biasanya, wanita yang berusia di atas 50 tahun lebih berisiko untuk terserang kanker ini. Meski begitu, kamu harus mengetahui apa saja gejala dan faktor risiko kanker vulva. 

Gejala dan Faktor Risiko Kanker Vulva

Gejala utama ketika seseorang terserang kanker vulva adalah rasa nyeri pada area vulva. Rasa nyeri ini juga terasa ketika buang air kecil atau berhubungan intim. Lalu, area vulva terasa gatal dan berlangsung dalam waktu yang terbilang lama, terdapat benjolan pada labia dan terjadi penebalan pada area ini, perubahan kulit pada vulva, seperti tumbuhnya kutil, dan keluar darah atau cairan yang tidak wajar sebelum waktu menstruasi

Baca juga: Harus Tahu, Masalah Menstruasi yang Enggak Boleh Diabaikan

Seiring dengan bertambahnya usia, risiko terjadinya kanker vulva pada wanita semakin meningkat. Biasanya, rata-rata usia kanker vulva mulai terdiagnosis adalah 65 tahun. Wanita yang tidak terlindungi dari virus HPV juga rentan mengalami kanker vulva. Risiko juga sama tingginya pada wanita yang merokok, terinfeksi oleh virus HIV, dan memiliki riwayat kanker tahap awal yang menyerang vulva. 

Sebaiknya, kamu segera buat janji dengan dokter spesialis di rumah sakit terdekat apabila menemukan adanya benjolan pada vulva, area ini terasa nyeri maupun gatal, mengalami perdarahan di luar siklus menstruasi, dan perubahan pada vulva, termasuk perubahan warna pada area tersebut. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk lebih mudah ketika membuat janji atau sekadar bertanya pada dokter melalui fitur Tanya Dokter

Baca juga: Lichen Sclerosus Dapat Memicu Kanker Vulva?

Pengobatan dan Pencegahan Kanker Vulva

Pemeriksaan awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis kanker vulva adalah memeriksa area panggul untuk mengidentifikasi adanya perubahan. Jika diperlukan, dokter akan melakukan biopsi. Jika kanker berhasil terdeteksi melalui biopsi, biasanya kamu menjalani serangkaian pemeriksaan terkait kanker lainnya. 

Baca juga: Inilah 4 Fase Menstruasi pada Wanita

Pilihan pengobatan kanker vulva bergantung pada jenis dan besar kanker serta sejauh apa kanker ini telah menyebar. Jika kanker berukuran kecil dan hanya ada di satu titik, pengobatan bisa dilakukan menggunakan sinar laser untuk mematikan area kulit yang mengandung sel kanker. Tindakan pembedahan dilakukan untuk mengangkat sel yang abnormal dan jaringan yang tidak sehat. Jika kanker berukuran besar, dokter melakukan operasi pengangkatan vulva sepenuhnya. 

Untuk bisa mencegah kanker vulva, lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar segala masalah kesehatan bisa terdeteksi lebih dini. Hindari kebiasaan buruk dan tidak sehat serta berbagai faktor lain yang meningkatkan risiko terjadinya kanker vulva. Lakukan hubungan intim dengan aman dan jangan abaikan jika terjadi perubahan pada area vulva. 

Referensi: 
Cancer. Diakses pada 2019. What is Vulvar Cancer?
NHS Choices. Diakses pada 2019. Vulval Cancer.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Vulvar Cancer.