26 October 2018

Ini Penyebab Filariasis yang Perlu Dihindari

Ini Penyebab Filariasis yang Perlu Dihindari

Halodoc, Jakarta - Apakah kamu masih ingat dengan wabah filariasis yang menyerang Indonesia tepatnya di kota Subang tahun 2013 silam? Filariasis atau penyakit kaki gajah secara ekstrem menyerang hingga 16.000 orang lebih penduduk wilayah Subang sehingga pemerintah kota Subang menyelenggarakan pengobatan gratis dan pemberian obat filariasis secara gratis. Pemerintah pusat tidak diam saja, mereka ikut membantu menanggulangi penyakit ini dengan menggelar kampanye nasional pemberian obat pencegahan massal yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.

Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria (mikrofilaria) yang menular dengan perantara nyamuk. Penyakit ini bersifat kronis, dan jika tidak ditangani menyebabkan cacat seumur hidup akibat pembesaran kaki, lengan, bahkan alat kelamin. Akibat penyakit ini, seseorang mengalami dampak psikologis yang luar biasa, karena mereka yang menderita penyakit ini sulit beraktivitas secara optimal seperti sedia kala sehingga tergantung pada orang lain.

Penyebab Filariasis

Penyakit ini umumnya menyerang negara-negara tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika, dan Kepulauan Pasifik. Terdapat tiga spesies cacing filaria yang dapat menyebabkan penyakit ini, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Tiga jenis cacing tersebut ditemukan di wilayah Indonesia, tapi hampir 70 persen yang cacing yang menyebabkan filariasis adalah cacing Brugia malayi. Nyamuk yang menjadi penyebaran penyakit ini umumnya disebabkan oleh Anopheles farauti dan Anopheles punctulatus.

Proses untuk menjadi larva infektif di dalam tubuh nyamuk, diperlukan waktu selama 1 hingga 2 minggu, sementara masuknya larva dari nyamuk ke tubuh manusia hingga menjadi cacing dewasa berlangsung selama 3 hingga 36 bulan. Kebanyakan orang menganggap apabila terkena satu gigitan nyamuk ini maka filariasis menyerang dengan cepat, padahal sebetulnya dibutuhkan ribuan gigitan nyamuk untuk menyebabkan penyakit filariasis.

Gejala Filariasis

Filariasis limfatik akut terbagi menjadi 2 jenis, yaitu adenolimfangitis akut (ADL) dan limfangitis filariasis akut (AFL).

  • Mereka yang terkena ADL mengalami gejala seperti demam, pembengkakan noda limfa atau kelenjar getah bening (limfadenopati), serta sakit, merah, dan bengkak pada bagian tubuh yang terinfeksi. ADL dapat kambuh lebih dari 1 kali dalam setahun, terutama di musim hujan. Cairan yang menumpuk dapat memicu infeksi jamur dan merusak kulit. Makin sering kambuh, maka pembengkakan semakin parah.

  • Sementara itu AFL yang disebabkan oleh cacing-cacing dewasa yang sekarat memicu gejala yang sedikit berbeda dengan ADL. Kondisi ini umumnya tidak disertai demam atau infeksi lain. AFL dapat memicu gejala seperti munculnya benjolan-benjolan kecil pada bagian tubuh tempat cacing-cacing sekarat terkumpul (misalnya pada sistem getah bening atau dalam skrotum).

Pengobatan dan Pencegahan Filariasis

Prinsip utama dari penanganan filariasis adalah mencegah terjadinya komplikasi dan penularan dari satu individu ke individu lain. Sementara itu pengobatan dilakukan dengan cara pemberian obat antibiotik untuk menangani infeksi sekunder dan abses. Sementara itu terapi Dietilcarbamazine akan dilakukan untuk membunuh mikrofilaria dalam darah. Tetapi, matinya cacing bukan berarti bengkak akan mengempis, sebab tubuh cacing yang sudah mati akan terkumpul pada kelenjar limfe. Pembedahan dapat dilakukan untuk membebaskan kelenjar getah bening yang tersumbat.

Pencegahan dilakukan dengan berfokus untuk menghindari gigitan nyamuk, seperti dengan penggunaan kelambu saat tidur, penggunaan lotion anti nyamuk, dan menggunakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang saat hendak mengunjungi area wabah filariasis menyerang.

Ingat juga untuk selalu jaga kondisi kesehatan di mana kamu berada. Sedia selalu aplikasi Halodoc untuk bicara dengan dokter. Dengan Halodoc, dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.

 

Baca juga: